12 Potensi Bencana Di Maluku, Warga Harus Sigap Jangan Panik

by
Kepala BNPB Provinsi Maluku Farida Salampessy menunjukkan lokasi-lokasi yang potensial terjadi bencana di Maluku (28/1). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Perubahan cuaca dan letak georgrafis membuat Maluku amat rentan dengan berbagai bencana alam. Tercatat ada 12 jenis bencana alam yang berpotensi terjadi di seluruh derah di Kepulauan Maluku.

Angin kencang disertai hujan, gempa, air pasang yang tinggi di beberapa daerah di Maluku jadi penanda perubahan cuaca yang cukup ekstrim. Warga Maluku pun harus lebih waspada serta tanggap dengan berbagai kejadian alam.

Kepala BNPB Provinsi Maluku, Farida Salampessy membeberkan provinsi dengan 1.340 pulau itu berpotensi besar alami 12 bencana alam. “Provinsi ini terbilang istimewa. Karena amat rentan. Di semua daerah tak terkecuali,” ungkapnya kepada Terasmaluku.com saat ditemui di ruangannya, Senin (28/1/2019) siang.

Farida menjabarkan, dua belas potensi itu antara lain, banjir, banjir bandang, gelombang ekstrim dan abrasi, gempa bumi, kekeringan, epidemik dan wabah penyakit, letusan gunung api. Cuaca ekstrim, tanah longsor, tsunami, kebakaran hutan dan lahan, serta kegagalan teknologi.

Dia menyebut, dua belas potensi itu sangat mungkin terjadi di Maluku. “Bahkan setiap hari itu terjadi gempat di bawah 5 skala richter,” katanya. Berdasar sejarah klimatologi dan geofisika, semua wilayah sudah pernah alami bencana alam besar sejak tahun 1600an.

Data BNPB Provinsi Maluku mencatat pernah terjadi gelombang tinggi dan air naik di Banda, Leihitu serta di Seram hingga 10 meter pada 1629, 1659 dan 1674.

Bahkan hal serupa juga pernah terjadi di Kota Ambon. Air laut pernah naik dan masuk ke kota hingga mencapai kawasan Batu Gajah. “Air pernah naik sampe ke Gereja Eirene Batu Gajah pas era VOC 1800an,” sebut dia.

Hal itu membuat Maluku amat rentan. Apalagi Maluku terletak pada pertemuan tiga lempeng bumi serta berada di jalur ‘ring of fire’. Meski begitu bencana yang terjadi dapat diprediksi tanda-tanda dan polanya. Tiap perubahan dan bencana alam memiliki skema periodik. Ia akan berulang pada periode tertentu.

Misalnya tsunami di Aceh dan beberapa kejadian alam besar lain belakangan, merupakan kejadian berulang. Itu terjadi dalam rentang waktu ratusan tahun. Tanda-tanda alam, perubahan iklam dan lingkungan dapat jadi penanda akan datangnya bencana.

Menurut Farida, Jika diperkirakan menggunakan skema periodik berulang itu, ada beberapa bencana alam yang bisa terjadi di Maluku. Seperti gempa, tsunami, atau letusan gunung api. Namun masyarakat diminta tidak perlu panik dan gusar. Hal utama adalah mengetahui cara menyelamatkan diri saat bencana terjadi.

Pada kesempatan itu dia mengapresiasi kesigapan warga Namrole Kabupaten Buru Selatan saat terjadi fenomena alam. Warga lari ke tempat yang tinggi saat terjadi air pasang dan ombak besar pada Kamis (28/1). Itu disebabkan fenomena super moondimana jarak bulan dekat dengan bumi. “Dari pengalaman korban banyak biasanya bukan karena bencananya, tapi panik atau tidak tahu harus berbuat apa,” kata Farida.(PRISKA BIRAHY)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *