296 Sampel Antri Dibaca, BTKL-PP Ambon Sanggup Proses 100 Perhari

by
Alat PCR sementara memproses sampel yang terbaca dan terhubung langsung dengang komputer sesuai nomor sampel, (18/6). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Provinsi Maluku terus bergerak naik dalam jumlah kasus terkonfirmasi positif. Laboratorium yang dipakai membaca sampel hasil swab menjadi hal paling krusial. Lalu sebenarnya bagaimana kemampuan laboratorium Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit (BTKL-PP) Ambon saat dalam mengolah sampel-sample yang masuk tiap hari.

Hal itu dikemukakan saat kunjungan anggota DPRD Provinsi Maluku, Kamis (18/6/2020) siang di BTKL-PP Ambon untuk memastikan kinerja dalam masa Covid-19. Bahasan pertemuan itu terkait ketersediaan beberapa alat penunjang pemeriksaan sampel serta kemampuan alat PCR (Polymerase chain reaction) mengolah data-data sampel swab yang masuk.

 

Salah satunya, ada upaya meningkatkan kapasitas membaca virus menjadi 150 sampel perhari. Hal itu diungkapkan pihak BTKL-PP dalam pemaparan siang tadi (18/6/2020). “Kami sekarang dalam sehari sudah bisa lebih dari 100 sampel. Diupayakan untuk sampai 150 perhari,” jelas Koordinator Laboratorium BTKL-PP, Halimah Hatapayo kepada wartawan usai kunjungan anggota DPRD Provinsi Maluku di ruang rapat BTKL-PP Ambon, Kamis (18/6/2020).

Sampel-sampel yag masuk ke lab sudah dapat diproses dengan cepat. Yakni dengan ada penambahan tenaga analis virus menjadi 11 orang. Mereka semua berasal dari lingkungan BTKL-PP yang telah jalani traning terlebih dahulu. Dari jumlah itu mereka lantas dibagi menjadi tiga shift. Tiap shift terdiri atas 4-5 orang yang bertugas 24 jam.

Perempuan yang akrab disapa Ima itu menganjak wartawan menuju ruang lab pengujian sampel dengan metode PCR. “BTKL-PP punya 3 alat PCR. 2 real time 1 konvensional. Yang konvesional ini tidak bisa untuk uji virus covid-19, hanya yang real time. Itupun cuma 1 yang dapat digunakan. Satu alat lagi masih menunggu teknisi dari pusat untuk kalibrasi,” jelasnya sambil memperlihatkan alat PCR itu kepada wartawan.

Loading...

Ini juga yang menjadi sedikit kendala lab. Mereka hanya bisa memakai satu alat PCR dengan kapasitas tampung sekitar 30 sampel sekali masuk. Waktu yang dibutuhkan untuk mengolah dan membaca sekitar 4-5 jam. Data dari alat PCR terhubung dengan komputer yang dapat memperlihatkan hasil membaca sampel sesuai nomor. “Jadi yang kami terima itu nomor ya bukan nama atau alamat, kami tidak tahu. Kapasitas kami di situ. Semua sampel yang masuk akan diberi nomor oleh petugas usai di-unboxing,” lanjut Ima.

Dengan begitu hingga tanggal 17 Juni 2020 tercatat sudah ada 2.930 sampel yang telah diuji. Pada april ada 187 sampel, Mei meroket naik jadi 1.024 sampel lalu pada Juni ada 1.719. Sedangkan masih ada 296 sampel yang belum diproses atau sedang dibaca.

 

Kendala lain yakni ketersediaan tip dan tube yang dipakai untuk pengujian sampel. Tip dan tube semacam pipet kecil dan ujung aplikator yang dipakai untuk mengambil sampel ekstraksi RNA yang akan diuji. Dia mericni, satu sampel saja bisa memakan sampai 16 tip. Untuk saat ini stok yang mereka miliki sebanyak 10 box besar. Diperkirakan bisa bertahan selama satu bulan.  Itupun jika tidak ada lonjakan signifikan sampel yang masuk ke BTKL-PP untuk diperiksa.

“Tip dan tube itu kami ada yang pengadaan sendiri pakai dana kantor ada yang kami minta ke pengadaan kementerian kesehatan. Juga bantuan di litbangkes.” tambah Kepala Tata Usaha BTKL-PP, Alnes Salamahu. (PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *