428 Anak Alami Stunting di Malteng, Begini Upaya Memulihkannya

by
Pertemuan Koordinasi Terpadu dalam perecepatan Penurunan Stunting dan Gizi Buruk di Kabupaten Maluku Tengah (20/11). FOTO: Humas Pemprov

TERASMALUKU,MASOHI,- Lagi, kasus anak stunting di Maluku Tengah (Malteng) muncul. Kali ini temuan kasus stunting di Malteng dialami sampai 428 balita. Salah satu kabupaten terbesar di Provinsi Maluku itu kini menjadi kabupaten prioritas penanganan kasus stunting. Temuan itu diperoleh saat kunjungan Duta Parenting Maluku, Widya Murad Ismail lakukan kunjungan. Dari 11.688 balita, 428 positif alami stunting.

“Kemarin saya kunjungi Piliana dan Mosso di Kecamatan Tehoru karena menjadi locus (lokasi) kasus stunting. Di Piliana ada 16 anak stunting dari 90 balita, sedangkan di Mosso ada 9 anak stunting dari jumlah 90 anak balita,” kata Widya saat membuka pertemuan koordinasi terpadu dalam percepatan penurunan stunting dan gizi buruk di Kabupaten Malteng di Gedung PKK Malteng, Masohi, Rabu (20/11/2019).

Salah satu upaya untuk memulihkan kondisi yakni memaksimalkan posyandu dan tim penggerak PKK di tiap daerah. Perlu ada intervens kepada para ibu hamil secara langsung dan konsisten. Menurutnya itu tidak hanya menjadi tanggungjawab dinas. Melainkan semua pihak termasuk masyarakat.“Posyandu balita dan anak harus terus diaktifkan. Ibu hamil diberikan informasi penting tentang. Saya juga selalu himbau agar masyarakat memperhatikan sanitasi lingkungan dan gizi anak,” jelasnya.

Menurut Widya, seharusnya kasus stunting di wilayah Malteng bisa dicegah karena daerah ini subur dan memiliki kekayaan laut yang melimpah, sehingga menjadi sumber protein. Stunting terjadi sebagai akibat kekurangan gizi pada masa seribu hari pertama kehidupan. Karena itu pemenuhan gizi dan pelayanan kesehatan pada ibu hamil, perlu jadi sorotan.

“Seharusnya di daerah ini angka stuntingnya rendah, bila perlu tidak ada karena banyak sumber protein yang bisa diperoleh. Misalnya dari ikan-ikan, atau dari umbi-umbian,” sebutnya.

Persoalan stunting tak semata berdampak pada tinggi badan anak. Tapi juga pada tingkat kecerdasan dan status kesehatan. Anak rentan alami penyakit tidak menular seperti darah tinggi, kencing manis, jantung dan lainnya.

Selain Malteng, dua kabupaten lain yang dalam tahun ini mendapat prioritas penanganan adalah Seram Bagian Barat dan Kepulauan Aru. Widya mengatakan, dirinya langsung turun ke tiga kabupaten locus stunting di Maluku untuk memastikan posyandu dan puskesmas di daerah bergerak cepat.

Seperti melakukan kegiatan pencegahan dan percepatan penurunan angka stunting. Rencananya, tahun 2020 nanti, Widya juga akan turun ke lokasi-lokasi kasus stunting lainnya yakni di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku Tenggara, dan Maluku Barat Daya.

Sementara itu, Bupati Malteng Tuasikal Abua mengatakan, perang melawan stunting sudah sejalan dengan komitmen pihaknya. Yakni mendukung program pemerintah di bidang kesehatan, khusunya percepatan penurunan stunting dan gizi buruk. Seperti tertuang dalam RPJMD Kabupaten Malteng tahun 2017-2022.

Berbagai kebijakan dan program inovasi OPD (organisasi perangkat daerah) seperti Messe, Manggurebe Sehat, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, dan Perdesaan Sehat, terus diarahkan untuk secepatnya dapat menurunkan prevalensi stunting dan gizi buruk di masyarakat yang tersebar di 18 kecamatan di Malteng.

“Saya berharap dengan pertemuan koordinasi ini, akan melahirkan rekomendasi dan komitmen bersama untuk mendukung tugas Duta Parenting Provinsi Maluku, untuk bersama-sama perangi stunting dan gizi buruk di seluruh Provinsi Maluku, terkhususnya di Kabupaten Malteng,” tandasnya (ALFIAN SANUSI)