74 Ekor Burung Endemik Maluku Kembali Dijual Ke Pasar Gelap

by
Kakatua jambul oranye, jenis burung paruh bangkok endemik Maluku yang berstatus nyaris punah ditemukan Polhut Seksi Konservasi Wilayah 2 Masohi BKSDA Maluku di rumah seorang pengepul di Seram sore (5/4). FOTO: BKSDA Maluku

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Untuk kesekian kalinya burung-burung endemik Maluku yang nyaris musnah dari muka bumi berusaha dijual ilegal ke luar daerah. Namun upaya penyelundupan itu digagalkan Polhut Seksi Konservasi Wilayah 2 Masohi BKSDA Maluku dan tim pada Kamis (4/4/2019) sore.

Polhut bersama petugas Polsek Elpaputih Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) mendapati puluhan ekor burung dalam sangkar-sangkar sempit di Desa Samasuru Kecamatan Elpaputih Malteng. Burung-burung itu berada di rumah seoarang pengepul. Dari sana tim mendapati puluhan ekor burung dari tiga desa yakni Desa Simau, Nakupia, Wae Putih dan Liang.

“Kami sudah dapat infornya kalau dari akhir Maret 2019 ada indikasi penangkapan dan penampungan burung,” Ungkap Kepala Seksi Wilayah II Meity Pattipawaej, yang memimpin langsung patroli fungsional pengamanan kawasan dan peredaran tumbuhan dan satwa liar (TSL) sore tadi pukul 15.30 WIT.

Tim lantas menelusur jejak si pengepul hingga menemukan burung-burung cantik di rumahnya. Dari pria 34 tahun itu, mereka tahu jika ada pemburu aktif di tiga desa yang bertugas menangkap burung sesuai permintaan. Ronaldlah yang akan menjembatani transaksi serta perpindahan satwa yang dilindungi itu ke daerah tujuan.

Alur perdagangannya menggunakan kapal barang yang singgah di beberapa kota kabupaten. Dobo dan Bula dua kota startegis yang jadi pintu keluar penjualan burung endemik Maluku ke dua daerah tujuan besar. Jawa dan Sulawesi.

Loading...

“Burung akan dijual kepada pemesan di luar Maluku terutama pemesan di Pulau Jawa dengan menggunakan kapal,” beber Meity. Meski tergolong jauh dan lama, moda transportasi laut tergolong aman dan nyaman pagi para penyelundup satwa dilindungi. Alasannya sederhana. Penjagaan di pelabuhan minim, pemeriksaan tidak maksimal, serta adanya pintu-pintu kecil yang bisa dilobi naik ke kapal.

Tim patroli dipimpin Kepala Seksi Wilayah II Meity Pattipawaej mengamankan 74 ekor burung sebelum dipindahkan ke Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS)

Sementara pada kasus ini pelaku rencananya menempuh rute dari Desa Samasuru menuju Desa Kamariang terus ke Desa Waai dan berakhir di Kota Ambon. Atau jalur penyeberangan feri dari Waipirit ke Liang lalu ke Ambon. Semuanya memakai jalur laut.

Jika ditaksir besar kerugian akibat penyelundupan TSL ilegal pada Januari hingga 5 April 2019 sebesar Rp 288.000.000 dari 257 ekor burung. Dengan kisaran harga penjualan per-ekor mulai dari Rp 75.000 hingga Rp 1.200.000 ke pihak kedua. Ada kemungkinan nilainya lebih tinggi jika penjualan ke luar negeri.

Sementara puluhan burung bakal dipindahkan ke pusat rehabilitasi satwa (PRS) Desa Masihulan. Berikut jumlah dan jenis burung yang ada di rumah pengepul. Kesturi Tengkuk Ungu (Lorius domicella) 1 ekor, Kakatua Seram ( Cacatua molucensis) 6 ekor, Betet Kelapa Paruh Tebal (Tanygnathus megaloryynchos) 12 ekor, Perkici pelangi (Trichoglossus moluccanus) 11 ekor. Lalu ada Nuri Maluku (Eos bornea) 43 ekor, Kakatua koki (Cacatua galerita) 1 ekor.

Barang bukti tersebut berada di tempat pentipan Kantor Seksi Wilayah II di Masohi. Sedangkan si pengepul langsung ditahan di Polsek Elpaputih. (PRISKA BIRAHY)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *