Adventus Dan Meditasi Kemanusiaan Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

Adventus Dan Meditasi Kemanusiaan Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

SHARE
Pendeta Rudy Rahabeat,

UMAT KRISTIANI di seluruh dunia mulai hari Minggu 2 Desember hingga Minggu, 23 Desember 2018 akan memasuki Minggu-Minggu Adventus, minggu Penantian. Dalam minggu-minggu ini aspek meditatif menjadi sangat penting, agar umat dapat menghayati apa arti dan makna ziarah hidup di dunia ini dengan berbagai problematikanya. Kadang nilai meditatif ini diinterupsi oleh gemerlap perayaan Natal yang sudah dilaksanakan jauh sebelum 25 Desember. Ini tentu perlu hikmat dari umat dalam memaknai arti Adventus dan Natal itu sendiri.

 

Adventus sebagai peristiwa penantian Kristus, bukan sebuah masa vacuum, tanpa tindakan apa-apa. Menanti dalam pengharapan sembari melakukan tindakan-tindakan positif yang berdampak pada tatanan hidup bersama yang aman, damai dan sejahtera. Dengan begitu, Adventus memiliki makna kekinian, selain tentu saja, makna keakanan, yakni kedatangan Kristus sebagai hakim yang agung. Dalam hal ini, sikap berjaga-jaga (aware) menjadi penting, sekaligus bertindak bijaksana.

 

Sekarang ini kita hidup di dunia yang makin hingar bingar. Hal ini makin ramai ketika “tahun politik” kian mendekat, dan energi masyarakat mulai diarahkan untuk berkontestasi di tahun politik itu. Tentu saja harapannya, tidak terjadi kegaduhan politik yang bising, yang membuat kita makin jauh dari suasana ideal politik sebagai peristiwa kegembiraan. Moga-moga dalam kita melewati masa-masa ini dengan terus merawat persaudaraan dan toleransi, agar hidup bersama kita makin indah dan membanggakan.

MEDITASI KEMANUSIAAN

Renungkanlah berbagai realitas sosial yang mengitari kita sepanjang tahun ini. Bencana alam seperti gempa dan tsunami dialami oleh saudara-saudara kita di Palu, Donggala dan Sigi. Hingga saat ini mereka masih tinggal di tempat-tempat pengungsian, bergumul dengan persoalan sanitasi dan lingkungan yang sehat. Belum lagi soal pendidikan dan pemenuhan kebutuhan ekonomi sehari-hari. Kelompok yang paling rentan tentu saja perempuan dan anak-anak, termasuk para penyandang disabilitas. Ini salah satu potret kemanusiaan dan kemanusiaan yang sedang kita hadapi bersama.

Problem lainnya adalah masalah pengangguran yang kian meninggi. Peluang menjadi pegawai negeri sipil (PNS) semakin kecil, di lain sisi ketersediaan lapangan kerja baru belum mampu menyerap jutaan pencari kerja. Kelompok yang paling rentan di sini adalah para pemuda, apalagi menyongsong bonus demografi. Jika hal ini tidak disikapi dengan serius, maka potensi munculnya masalah-masalah sosial seperti kriminalitas dan kekerasan bisa saja muncul. Hal ini butuh perhatian serius negara dan seluruh elemen bangsa.

 

Problem-problem politik di daerah, seperti di tanah Papua juga tak bisa luput dari pergumulan kita sebagai bangsa. Masalah Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan masalah fundamental bangsa ini. Dalam banyak evaluasi masalah ini sering terabaikan. Termasuk hak-hak kaum minoritas dan problem relasi antar-agama yang masih perlu terus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Pada lain pihak, isu-isu ekologi tetap menjadi isu bersama bukan saja pada aras nasional tetapi juga pada aras global.

 

Tentu saja ketika menyebutkan problematik di atas tidak serta merta menafikan berbagai kemajuan dan perubahan yang memberi harapan baru. Perbaikan infrastruktur, pembangunan wilayah perbatasan, pengembangan wilayah maritim dan pemajuan kebudayaan merupakan hal-hal positif yang patut diapresiasi pula. Semua itu menjadi bagian dari perenungan dan meditasi kemanusiaan dan kebangsaan kita. Sebuah meditasi yang membuat kita makin jernih melihat pokok persoalan, lalu berempati dan bertindak bersama-sama untuk melepas belenggu-belenggu ketakberdayaan, memperbaiki struktur sosial politik yang tidak adil serta konsisten berjuang untuk kemaslahatan bersama.

 

Agama-agama mestinya memancarkan energi positif untuk membebaskan manusia dari berbagai penindasan. Agama menjadi kekuatan moral yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Agama membangun jembatan persaudaraan dan kerjasama yang memuliakan harkat dan martabat manusia. Agama akan mendapat legitimasi publik ketika turut terlibat dalam upaya-upaya kesejahteraan secara utuh, dan tidak hanya sibuk dengan soal-soal ritual, ajaran dan serimonial semata. Itu bukan berarti hal-hal itu tidak penting. Tapi mesti diletakan kembali peran dan posisi agama sebagai kekuatan transformasi sosial. Ia bukan memberi legitimasi kepada kekuasaan, apalagi kalau kekuasaan itu tidak berpihak kepada rakyat. Sikap kritis profetik agama mesti tampil ke depan, apapun resikonya.

 

Semoga memasuki minggu-munggu Adventus ini umat Kristiani di Indonesia makin peka dan tanggap. Makin jernih melihat pergumulan kemanusiaan dan kebangsaan saat ini, serta terlibat aktif dalam upaya-upaya bersama agama-agama lain dan pemerintah serta kekuatan-kekuatan transformasi dalam masyarakat untuk menghadirkan kesejahteraan bersama. Dengan begitu, meditasi kemanusiaan bukan sebuan pelarian (eskapisme) dari kompleksitas hidup, melainkan sikap realitis dan berpengharapan untuk membarui dan mentransformasi tatanan hidup bersama yang lebih adil dan membebaskan. Selamat memaknai empat minggu Adventus ! (RR)

loading...