AGAMA DAN KORONA, EMPAT CATATAN Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

Terkait pandemi virus korona atau cofid-19 maka salah satu lembaga yang paling terdampak adalah agama-agama. Berikut empat catatan terkait respons agama-agama terkait bencana korona.

Pertama, agama-agama mesti adaptif. Salah satu tantangan serius bagi agama adalah menghentikan untuk sementara waktu aktivitas komunal seperti ibadah di rumah ibadah (masjid, gereja, dll). Hal ini cukup menggoyahkan sendi-sendi agama itu sendiri. Sebab umumnya aspek berkumpul bersama merupakan hal yang penting dalam agama, khususnya terkait aspek ritual. Wabah korona menantang umat beragama untuk stay at home, tidak boleh berkumpul dalam jumlah banyak.

Orang lalu mencari referensi sejarah dan dogmatis untuk menjalankan ritual agama di rumah. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) nomor 14 tahun 2020 dan seruan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) terkait ancaman korona merupakan respons agama-agama yang aktual. Agama-agama tidak bisa bersikukuh pada posisi tradisionalnya melainkan harus terbuka dan realistis terhadap perubahan sosial dan global yang tak terelakan saat ini. Tentu saja, sikap adaptif agama-agama ini sama sekali tidak menafikan identitas khas masing-masing agama.

Kedua, peran publik agama-agama. Agama-agama bertanggungjawab bukan saja kepada penganut internalnya tetapi turut peduli terhadap kepentingan umum (publik). Olehnya, agama-agama perlu merajut relasi lintas-agama untuk bersama-sama menghadapi pandemic korona ini. Agama-agama tidak hanya berkutat pada aspek ajaran yang benar (ortodoksi) melainkan mengambil langkah dan tindakan yang benar (ortopraksis) untuk menjawab ancaman terhadap kehidupan melalui penyebaran virus korona.

Membantu menyediakan masker, hand sanityser, melakukan penyemprotan di rumah-rumah ibadah merupakan langkah konkrit agama-agama untuk merespons persoalan publik. Salah satu contohnya adalah Kolaborasi PGI, Gereja gereja dan komunitas lintas agama terhadap pandemi korona. Agama-agama perlu terus membangun kolaborasi dan sinergi lintas agama maupun lintas stakehoders termasuk dengan pemerintah untuk bersama-sama menghadapi ancaman korona ini.

loading...

Ketiga, kepedulian sosial ekonomi. Ketika penyebaran virus korona makin meningkat maka berbagai kebijakan akan diambil oleh negara. Social distancing dan lockdown adalah opsi yang tersedia. Untuk saat ini Indonesia belum memilih opsi lockdown (karantina wilayah). Opsi yang ditempuh saat ini adalah social distancing (penjarakan sosial). Rakyat disarankan tinggal di rumah dan bekerja dari rumah. Tapi persoalan yang rentan dan serius adalah rakyat kecil yang mesti keluar rumah untuk mencari rejeki, seperti tukang ojek, buruh bangunan, dan sebagainya.

Pemerintah mungkin akan menyediakan skema bantuan sosial ekonomi, tetapi agama-agama juga dapat mengambil langkah untuk menggalang solidaritas sosial serta tindakan saling membantu secara ekonomis, khususnya saling berbagi kebutuhan bahan pokok, seperti beras, gula, minyak goreng, dll. Jaringan organisasi dan organ kelembagaan agama-agama dapat diaktivasi untuk menjangkau kelompok rentan secara ekonomi, agar mereka dapat ditolong antara lain dengan proses saling berbagi antara mereka yang berlebih dan mereka yang berkekurangan.

Keempat, agama-agama sebagai kekuatan civil society. Wabah dan problem korona bukan semata soal medis. Bukan semata soal protokoler yang harus dipedomani oleh semua orang. Lebih luas lagi ia terkait masalah politik ekonomi, soal keadilan, soal relasi kuasa dan globalisasi. Oleh sebab itu agama-agama juga mesti menjalankan fungsi kritis profetik. Sebagai bagian dari masyarakat sipil (civil society) agama-agama dapat memberi kontribusi bagi negara untuk benar-benar menjalankan tugas mensejahterahkan rakyat.

Kebijakan politik negara didukung tapi bukan tanpa reserve. Ketika politik negara tidak bermuara pada kemaslahatan bersama maka agama-agama mesti mengambil posisi yang jelas. Dalam konteks ini pola relasi agama dan negara tidak bersifat sub-ordinat. Agama membangun relasi dialektis dengan negara dan tidak tunduk pada kebijakan politik yang tidak berpihak kepada rakyat. Dengan bersikap kritis, bukan berarti agama melawan negara, melainkan menjadi mitra dan sahabat yang bersama-sama mengusahakan kesejahteraan bersama.

Demikian empat catatan kecil terkait keberadaan agama-agama menyikapi pandemi korona yang menjadi “musuh bersama” kita semua saat ini. Semoga dalam sinergi dan kolaborasi semua pihak maka ancaman wabah ini dapat kita hadapi dan selesaikan secara bersama.

 

 

 

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *