Agamawan Dalam Pilkada Maluku Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta Gereja Protestan Maluku

Agamawan Dalam Pilkada Maluku Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta Gereja Protestan Maluku

SHARE
Rudy Rahabeat

MASIH dalam suasana ibadah puasa, kala Lebaran kian dekat. Ada rasa bahagia dan lega, sebab sebulan bergulat dengan diri dan godaan. Berjuang menahan haus dan dahaga, pun bertawakal untuk menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Semua itu patut disyukuri, sebagai umat beragama.

Dalam pada itu, dunia yang dihidupi penuh sejuta warna. Bukan saja warna bendera piala dunia 2018, tapi juga warna hati dan jiwa. Tak semua orang bisa mencapai kematangan dalam sekejap. Demikian pula tak selamanya mereka yang sudah bertambah usia, makin bertambah bijaksana. Kadang kita berhadapan dengan orang-orang yang mudah marah, bahkan lupa pada fitrahnya.

Dalam segalanya, agama selalu mengajarkan kebajikan. Menjadi oase di padang gurun, jadi air yang sejuk dan merangkul. Agama pada dirinya mengulurkan tangan persahabatan dengan siapa saja, menghadirkan kebaikan kepada seluruh ciptaan. Tiada agama yang menggelorakan perang, demikian pula tak ada agama yang mengharamkan perdamaian. Agama yang seperti ini, yang dibutuhkan umat manusia masa kini. Ketika terjadi krisis dalam berbagai dimensi kehidupan, agama diharapkan hadir memberi solusi, bukan tragedi.

PERAN AGAMAWAN

Pilkada merupakan siklus dan ritus demokrasi. Melaluinya, kita memilih orang-orang terbaik menjadi pemimpin lima tahunan. Sebenarnya, ini bukan hal baru. Yang baru adalah tekad dan semangat untuk terus menjaga berlangsungnya iven ini dengan damai dan sukses. Sebab, terkadang ada beragam isu dan provokasi yang membuat suasana jadi keruh. Kita tidak mengharapkan terjadinya hal-hal yang memperpuruk masa depan bersama.

Olehnya, kaum agamawan harus hadir bijak. Mereka bisa menjadi panutan. Berdiri bersama rakyat untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama. Tentu agamawan bukan dewa, mereka juga manusia yang penuh dengan salah dan dosa. Tapi masyarakat/umat sudah menaruh hormat dan percaya (trust) kepada mereka untuk menjadi pembawa kabar kasih, keadilan, kebenaran dan keadilan. Di tengah suasana yang “panas” mereka diharapkan menghadirkan kesejukan, di tengah kebuntuan, mereka dapat memberi jalan keluar. Di tengah kecemasan, mereka memberi pegangan dan tuntunan. Itulah peran agamawan yang ideal.

Ada yang berpendapat, segala sesuatu adalah politik tetapi politik bukan segala-galanya (everything is politic but politic is not everything). Demikian pula ada yang mengingatkan bahwa terlalu riskan jika menyerahkan segala sesuatu (dalam hal ini politik) kepada politisi semata. Bisa terjadi penyalagunaan kekuasaan. Oleh sebab itu perlu kontrol dan perimbangan politik. Di sini, lagi-lagi, peran agamawan sangat penting dan genting.

Hingga saat ini relasi agama dan politik tidak kunjung selesai. Bahkan tak akan pernah. Selalu ada ketegangan dan dialektika dalam soal ini. Pendekatannya tak semudah hitam putih. Ada saat dimana agama harus turun ke arena politik, ada saat dimana agama menahan diri. Ini bukan sebuah hipotesis. Tapi sudah terbukti dalam realitas. Jatuh bangun partai agama, terlibatnya pendeta atau ulama di politik praktis, semua menggambarkan dinamika itu. Soalnya, apa muara dari semua itu? Mestinya menjamin kebaikan bersama, bukan agama atau kelompok tertentu saja. Ketika terjebak dalam politik sektarian, maka agama akan ditinggalkan, apalagi dalam konteks Indonesia yang plural ini.

SPIRIT ORANG BASUDARA

Betapa bangga dan terhormat kita jika bisa melaksanakan Pilkada secara sukses dan damai. Sebagai orang Maluku, kita harus tunjukan kepada dunia, bahwa Maluku punya kematangan dalam berbagai segi kehidupan, termasuk politik. Bahkan, yang lebih penting, kita mewariskan sebuah budaya demokrasi yang sehat kepada generasi kini dan akan datang.

Bahwa di tengah kontestasi para kandidat, tiga pasangan calon pimpinan daerah, kita tetap bersaudara. Kita tetap saling bertenggang rasa. Para pendukung, tim sukses dan penyelenggara Pilkada hendaknya memiliki niat dan tekad yang kuat untuk berlangsungnya Pilkada sebagai sebuah pesta demokrasi. Semua merasa senang dan gembira. Semua saling membanggakan, bukan menjatuhkan.

Mungkin ini terkesan idealis, seperti sedang bermimpi di siang hari. Tapi bukankah mimpi itu tidak mengapa, apalagi mimpi yang indah. Jika mimpi adalah visi maka tentu visi harus diterjemahkan dalam aksi. Berkaitan dengan peran agamawan, maka aksi itu bisa jadi ada tiga.

Pertama, berdoa agar Pilkada dapat berlangsung secara damai dan sukses. Dalam salah satu contoh, seruan pastoral Gereja Prostetan Maluku (GPM), umat diajak untuk terus mendoakan agar Pilkada berlangsung dengan baik. Kedua, melakukan kontrol publik. Hal ini melekat dengan tugas sebagai warga negara (citizen). Kontrol atau pengawasan agar tidak terjadi pelanggaran dalam Pilkada, semua berjalan sesuai aturan yang berlaku. Ketiga, komunikasi publik.

Agamawan bisa saling bertemu lintas agama, saling bertegur sapa di dunia nyata maupun dunia maya. Untuk apa, untuk menciptakan suasana keakraban dan kekeluargaan. Coba dibayangkan, jika masing-masing menutup pintu dan jendela, dunia serasa pengap dan gelap. Agamawan perlu hadir sebagai penyejuk dan pencerah. Di situlah aura agama makin bertuah. Kata orang tua-tua: “Katong Samua Bersaudara” walau beda suku, budaya dan agama. Kita semua peziarah dalam hidup yang sementara ini,

Selamat bersiap-siap pulang kampung, mudik Lebaran. Selamat berpartisipasi dalam Pilkada nanti. Semuanya dijalani dengan gembira dan damai. (RR).