Agrowisata Pulau Buru, Tawarkan Buah Naga Manis

by
Petani buah naga di Desa Grandeng Kecamatan Lolong Guba Kabupaten Buru tengah memanen buah naga, DOK (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,NAMLEA-Jajaran buah naga merah besar dan segar di Pasar Mardika Ambon jadi salah satu dari beberapa buah tropis yang laris. Di antara durian yang tengah laris manis, serta manggis, gandaria juga langsat, buah berkulit sulur ini juga tak kalah dicari. Tapi tahukah kita dari mana asal buah yang dikenal dengan nama Pitahaya atau pitaya oleh suku Aztec Meksiko ini.

Buah sebangsa tanaman kaktus yang masuk ke Kota Ambon ternyata berasal dari Pulau Buru. Di kawasan Unit 11 Desa Grandeng Kecamatan Lolong Guba Kabupaten Buru jadi lahan subur bagi ratusan hektar lahan yang ditanami dengan buah tropis ini. Dari jauh, tampak juntai daun hijau rimbun dengan buah buah merah pada ujung ujung daun.

Di Grandeng inilah seluruh suplai buah naga di Kota Ambon berasal. Untuk sampai di sana, membutuhkan waktu sekitar 30 menit berkendara dengan mobil dari Kota Namlea,Ibukota Kabupaten Buru. Sebelum sampai ke Grandeng, kita bakal merasakan sensasi berbeda kala melewati hamparan sawah hijau berlatar gunung. Pemandangan ini seperti pembuka wisata mata menuju ke kebun buah naga.

Sesampainya di area perkebunan dipastikan suasana bakal terasa amat berbeda. Deretan pohon pohon buah naga yang rapi seperti membuat kita berada di tengah kebun buah Kota Batu, Malang. Tapi tunggu dulu, kita tidak sedang berada di tanah Jawa. Di pulau terbesar ketiga di Kepulauan Maluku inilah asal buah buah segar yang dipasok ke Ambon hingga Papua.

Kamis 19 April pagi itu saat Terasmaluku.com berkunjung ke kebun buah naga, sang pemilik kebun sedang memetik beberapa buah. Kebetulan musim panen baru naga usai. Namun beberapa buah yang baru keluar bisa langsung di petik. “Ini buah telat. Biasanya banyak yang datang wisata buah sambil metik langsung,” ujar Bjoriadi, seorang pemilik kebun buah naga.

Memang jumlah buahnya tak selebat saat musim panen bulan Januari hingga Maret. Namun beberapa pohon masih bisa untuk dipetik. Menurut pria asal Banyuwangi ini, berhektar hektar lahan buah di situ tak hanya mendatangkan pundi pundi lewat penjualan buah ke tengkulak, tapi juga dijadikan area agrowisata yang asyik.

Buru mungkin tidak semaju Perkebunan buah dan konsep agrowisata di Kota Batu, Malang. Namun di Namlea, memberikan pilihan berwisata yang tak biasa dari wilayah lain di Maluku. Di sini tak hanya pembeli besar atau tengkulak yang menakar harga, wisatawan lokal atau pengunjung biasa pun dapat masuk dan merasakan keseruan membeli buah.

 

Jika biasanya buah dibeli di pasar lalu dibawa pulang le rumah, di sini kita melahap langsung buah naga di tengah saratnya pohon buah naga. “Bisa pilih sendiri, lalu dipotong dan makan langsung. Sudah banyak yang ke sini,” imbuh Sarji, pemilik kebun buah naga pertama di Desa Grandeng.

Sarji merupakan warga transmigrasi yang datang ke Buru. Dialah orang pertama yang mulai membuka lahan lalu menanaminya dengan buah naga dan jeruk. Usai itu, barulah warga lain mengekor. Dan kini mereka sukses bersama. Lahan lahan lebar dan luas di situ seluruhnya milik transmigran asal Jawa. Dengan konsep berkebun yang apik, mereka tak hanya menciptakan lapangan pekerjaan dan pemasok tetap buah. Tapi juga menjadi inspirator agrowisata yang patut diperhitungkan.

Hawa panas serta lelah menempuh perjalanan jauh dipastikan sirna tatkala kita memilih milih buah lalu dipetik di kebun. Ada sensasi berbeda serta keseruan yang asyik. Menurut Sarji, buah naga jadi tanaman buah yang sukses di tanam di Maluku. “Dia (baca, buah naga) ini butuh panas. Jadi pas ditanam di Maluku,” lanjut pria yang datang ke Namlea, Buru pada 1982 bersama Bjoriady.

Ukuran buah dipengaruhi oleh kadar air dan panas. Semakin panas suhu udara, buah buah naga cepat keluar. Berbeda dengan di Jawa atau tempat lain. Para petani mengakali suhu panas dengan menempatkan lampu tiap dua pohon untuk merangsang buah lekas keluar. Tak hanya itu, semakin kaya sumber air di sekitar kebun, isi buah pun makin besar dan juicy.

Seperti beberapa buah yang dicoba Terasmaluku di ladang milik Sarji dan Riady. Daging buah tebal dan berair. Dahaga seketikanhilang. Tenggorokan kering terasa lega. “Yang bikin beda buah naga di Buru dengan tempat lain yaitu rasanya lebih manis. Buah naga di Jawa itu tawar, kalau ndak ya asem,” celetuknya usai memetik beberapa buah yang tersisa.

Soal harga, dijamin ramah di kantong. Bila membeli atau makan langsung di kebun, satu kilo dihargai Rp. 8.000. Itupun masih bisa ekstra oleh pemilik kebun yang ramah. Rencanakam jalan jalan dan wisata tak biasa ke Desa Grandeng pada Januari hingga Maret atau sekitar September hingga November. Itu musim yang pas saat buah sedang banyak banyaknnya dan harga murah. (BIR)