Akomodasi Terdampak Covid-19 Oleh : Zulfikar Halim Lumintang, SST.

by
Zulfikar Halim Lumintang, SST. FOTO : DOK.PRIBADI

KETIKA kita pergi rekreasi ke daerah lain dan tidak ada tempat untuk menginap. Solusi tercepat adalah kita mencari hotel, ataupun rumah kos yang bisa dibayar harian atau mingguan. Ketika kantor ingin mengadakan rapat, sosialisasi, ataupun pelatihan yang mengundang perwakilan dari berbagai daerah pasti juga hotel yang menjadi pilihan.

Kemudian, bagi para penuntut ilmu yang pergi meninggalkan kampung halamannya untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, pasti juga akan mencari rumah untuk tinggal sementara baik itu berupa kos-kosan maupun rumah kontrakan. Selain berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah kos juga berfungsi sebagai alamat identitas kita selama di perantauan.

Oleh karena itu, mungkin baru terasa bahwa begitu pentingnya peran dari penyedia akomodasi. Sebagai konsumen, mungkin kita hanya tahu mengeluh tentang mahalnya biaya sewa rumah kos, ataupun mengeluh tentang fasilitas yang terbatas. Yang jelas, para penyedia akomodasi tidak mungkin ingin membuat konsumennya kecewa. Kalau memang kita tidak cocok, kita cukup meninggalkan tanpa menghujat. Karena itu mungkin sudah usaha maksimal yang bisa dilakukan para penyedia akomodasi.

Ditengah pandemi Covid-19 ini, sepertinya tidak diragukan lagi bahwa subsektor penyedia akomodasi ini akan mendapatkan efek negatif. Kalau dari sisi penyedia hotel, mungkin yang mereka rasakan adalah mulai menurunnya pendapatan sewa ruangan untuk sosialisasi, rapat, maupun pelatihan. Kemudian sepinya tamu yang menginap, bahkan kamar banyak yang kosong selama beberapa bulan ini.

Kemudian bagi para penyedia rumah kos bagi pelajar dan mahasiswa pasti juga mengalami hal yang serupa. Para pelajar dan mahasiswa yang sedang menjalani sekolah dan kuliah online pasti tidak lagi tinggal di tempat kos mereka. Mereka lebih memilih untuk pulang ke rumah. Sembari menunggu situasi terkendali dan kebijakan baru dari pemerintah.

Otomatis para penyedia kos-kosan akan kehilangan pendapatan yang rutin mereka dapatkan tiap bulan. Disisi lain, para penyedia kos-kosan juga harus mengeluarkan biaya untuk perawatan barang modal mereka selama kosong. Mungkin bagi pemilik, hal ini tidak jadi masalah, karena mungkin memang itu adalah usaha sambilan. Tapi bagi para buruh perhotelan tentu akan sangat berdampak. Mereka berada diambang PHK, jikalau sang majikan tidak bisa menanggung gaji saat usaha sepi.

Hasil Evaluasi Instansi Terkait

Pada masa awal pandemi Covid-19 ini, tepatnya triwulan I 2020. Jika dilihat dari kontribusi subsektor akomodasi sudah terlihat efeknya. Menurun pastinya. Pada triwulan I 2020 kontribusi subsektor akomodasi mencapai 0,60%. Turun 0,04 poin dari triwulan IV 2019, yang mencapai 0,64%.

Pun demikian secara nilai yang disumbangkan juga mengalami penurunan. Tercatat nilai PDB pada triwulan IV 2019 subsektor akomodasi mencapai Rp 25.568,50 miliar. Kemudian pada triwulan I 2020 nilai PDB subsektor akomodasi hanya mencapai Rp 23.635,50 miliar.

Hasil evaluasi Bank Indonesia pada triwulan I 2020 menunjukkan bahwa kegiatan usaha subsektor perhotelan mengalami kontraksi atau penurunan. Hal tersebut ditunjukkan oleh Saldo Bersih Tertimbang (SBT) subsektor perhotelan yang menyentuh angka -0,31%. Angka tersebut lebih rendah dari triwulan IV 2019 yang terakselerasi dengan SBT 0,28%.

Loading...

Kendati begitu, Bank Indonesia memprediksi bahwa subsektor perhotelan akan mengalami peningkatan kegiatan usaha pada triwulan II 2020. Walaupun masih tetap mengalami kontraksi. Hal tersebut ditunjukkan dengan SBT yang mencapai -0,11%.

Sejalan dengan kegiatan usaha yang menurun pada triwulan I 2020, realisasi penggunaan tenaga kerja subsektor perhotelan juga mengalami hal yang sama. Ditandai dengan SBT yang mengalami kontraksi, mencapai angka -0,11%. Realisasi tenaga kerja tersebut berbeda jauh dengan triwulan IV 2019, yang mengalami akselerasi di angka 0,04%.

Sama persis dengan ramalan kegiatan usaha pada triwulan II 2020. Bank Indonesia juga memprediksi bahwa realisasi penggunaan tenaga kerja pada triwulan II 2020 tetap mengalami kontraksi. Namun lebih baik jika dibandingkan triwulan I 2020. Hal tersebut ditunjukkan dengan SBT yang mencapai -0,07%.

Saran Kebijakan

Para pengusaha yang menyediakan akomodasi sekelas hotel mungkin tidak mengalami tekanan finansial yang cukup berarti secara individualis. Di tempat lain, mereka mungkin masih memiliki sumber pendapatan yang lain. Tetapi bagi para pekerja atau buruh yang mereka pekerjakan. Tentu imbas merebaknya Covid-19 ini sangat terasa.

Ditengah lesunya ​cash flow p​ erusahaan dalam hal ini hotel. Mereka pun berada pada ancaman PHK dari sang pemilik hotel. Ya, ancaman pengangguran memang selalu mengikuti seiring dengan lesunya perekonomian. Untuk hotel kelas melati, dengan jumlah pegawai yang tidak terlalu banyak. Hal ini sebenarnya bisa didiskusikan terlebih dahulu antara pemilik hotel dan pegawai.

Sebagai seorang pegawai, mereka tentu masih berharap diberi kerja di tempat yang sekarang. Hanya saja, gaji yang didapatkan mungkin tidak seperti masa sebelum pandemi ini merajalela. Mereka bisa mengusulkan hal tersebut kepada pemilik hotel. Disisi lain, jam kerja mereka harusnya juga dipotong. Dan ini bisa dimanfaatkan mereka untuk bekerja di bidang lain untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Selanjutnya dari sisi pengusaha kos-kosan. Mereka cenderung memiliki posisi yang lebih aman, jika dibandingkan dengan pemilik hotel. Pengusaha kos-kosan masih bisa menerima

penghasilan bulanan dari anak kos yang masih tinggal di kosan, PSBB dan larangan pulang kampunglah yang membuat mereka tetap bertahan di rumah kos.

Selain itu, sebagian besar dari mereka tidak mempekerjakan orang. Jadi tidak ada lagi beban tanggungan gaji tenaga kerja. Hal ini yang membuat para pengusaha kos-kosan lebih fleksibel menghadapi pandemi Covid-19 daripada pengusaha hotel.

Kemudian, bagi hotel dan usaha rumah kos memang tidak ada anjuran dari pemerintah untuk ditutup sementara selama pandemi Covid-19 ini. Itu artinya, masih ada kemungkinan tamu maupun pelanggan yang menginap. Maka, pihak hotel dan pengusaha rumah kos hendaknya melaksanakan protokol kesehatan dalam menerima pelanggan untuk menginap di akomodasi mereka.

Dimulai dari pengecekkan suhu tubuh, mencari tahu rekam perjalanan selama 14 hari kebelakang, sampai dengan mencari tahu apakah calon pelanggan mereka pernah kontak dengan pasien positif Covid-19. Ya, ribet memang. Tapi demi keselamatan bersama. Apa boleh buat?

Sementara itu, pemerintah juga diharapkan memperhatikan semua gerak-gerik bisnis akomodasi ini. Jangan sampai bisnis ini menjadi media penularan virus yang baru, karena protokol kesehatan tidak diterapkan dalam menjalankan bisnis. Semoga pandemi Covid-19 ini segera selesai, dan kehidupan bisa berjalan normal kembali.

Penulis merupakan Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *