Ambon Kota Budaya

by

Walikota Ambon, Richard Louhenapessy menerima Penghargaan Anugerah Kebudayaan dari PWI Pusat bertepatan Hari Pers Nasional 9 Pebruari 2020 di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Dengan lugas Walikota menyatakan, penghargaan ini bukan semata untuk dirinya melainkan untuk warga kota Ambon seluruhnya.

Ia juga menegaskan bahwa hal ini memberi indikasi bahwa pembangunan kota Ambon berada pada jalur yang benar. Khusus tentang Ambon sebagai kota musik mantan Ketua DPRD Maluku ini menyebutkan bahwa musik bukan sebatas hobi tapi salah satu sumber pendapatan. Berikut empat catatan saya terhadap apresiasi budaya kota Ambon ini.

Pertama, sudah sepantasnya aspek budaya menjadi salah satu poros utama pembangunan daerah. Walaupun budaya dan kebudayaan itu memiliki definisi dan cakupan makna yang sangat luas, tetapi dengan menyebutkan aspek budaya dalam pembangunan maka yang hendak ditegaskan disini bahwa pembangunan itu bukan persoalan fisik infrastruktur semata.

Bukan soal teknis dan instrumental. Pembangunan itu sebuah totalitas. Pembangunan seutuhanya. Dalam konteks kota Ambon, maka pembangunan yang terus digalakan mestinya terus pula memperhatikan pranata budaya, nilai-nilai adat dan budaya yang merupakan warisan para leluhur dari waktu ke waktu. Pendek kata, jangan sampai tercerabut dari akar budaya daerah.

Kedua, budaya dan sejarah saling berkelindan. Momentum penerimaan anugerah kebudayaan ini mesti menjadi kesempatan untuk menggali kembali sejarah dan budaya kota Ambon. Berbagai upaya yang sudah dilakukan mesti dioptimalkan sehingga sosok kebudayaan kota Ambon makin terang.

Berbagai buku, hasil riset dan kajian tentang sejarah dan budaya kota Ambon perlu disinergikan menjadi kebijakan publik yang membuat wajah budaya kota Ambon makin jelas. Dalam kaitan ini sebuah studi komparasi dapat dilakukan. Sebagai contoh yang aktual, kota Yogyakarta dan Bali misalnya merupakan wilayah budaya yang khas. Saat kita tiba di kota tersebut aura dan nuansa budaya yang khas mulai terasa. Alamnya, musik dan seni, manusianya dan tatanan kosmosnya.

Loading...

Ketiga, manusia Ambon yang budayawi. Bicara tentang budaya dan kebudayaan maka intinya adalah bicara tentang manusia. Manusia yang berbudi, manusia yang beradat. Manusia yang membangun hidup pada nilai-nilai luhur dan tidak larut dalam gaya hidup hedonis dan materialis. Manusia yang ramah terhadap sesamanya dan suka berbuat kebaikan.

Manusia Ambon yang ideal adalah manusia yang peduli kepada sesama, yang menghargai orang lain dan suka menolong. Manusia Ambon bukan seperti stigma yang kerap disematkan yakni orang-orang yang kasar dan keras, suka pesta dan malas. Itu stigma  dan citra yang patut dikoreksi.

Keempat, Ambon sebagai kota yang dinamis. Kita tidak hanya meromantisir kota Ambon dengan sejarah masa lalunya. Masa pra-kolonial yang ditandai dengan migrasi penduduk dari berbagai tempat di kota ini. Pengaruh budaya nusantara seperti Jawa, Makasar, Bugis, Padang, dan sebagainya. Demikian pula budaya dari bangsa lain seperti Tionghoa, Arab, Portugis, Belanda, Inggris, Jepang dan sebagainya.

Semua itu merupakan kekayaan budaya Ambon saat ini dan masa depan. Ambon saat ini dan masa depan adalah kita yang makin plural dan global.  Perubahan sosial budaya merupakan kenyataan yang tak terelakan. Tinggal soal, bagaimana pemerintah dan masyarakat kota Ambon menyikapi perubahan tersebut secara bijaksana.

Satu hal yang pasti, Ambon mesti menjadi rumah bersama bagi semua orang apapun latar belakangnya. Ambon bukan saja kota musik (city of music), kota ikan (city of fish), kota damai (city of peace) dan sebagainya tetapi Ambon juga merupakan kota budaya (city of culture).

Selamat atas tiap capaian kota Ambon. Semua adalah hasil kerja keras dan kerjasama kita semua. Apresiasi dan kritik tetap perlu dialamatkan kepada pemerintah dan kita semua. Sebab kita semua mencintai kota ini dan terus berusaha serta berdoa agar kota ini makin sejahtera. Maju terus kota Ambon Manise. (RR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *