Ambon, Kota dengan Kualitas Udara Sehat

by
Senior Forcaster Stasiun Meteorologi BMKG Ambon, Warjo menunjukkan pantauan angin dan kondisi cuaca di Pulau Ambon, Senin (16/12/2019). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON-Masyarakat Kota Ambon terbilang cukup beruntung. Ambon masuk dalam kategori kota dengan kualitas udara terbaik. Itu disusul dengan beberapa kota dan kabupaten lain yang ada di Maluku.

Kondisi cuaca, lingkungan dan perubahan alam menjadi salah satu faktor penentu ketersediaan udara yang baik. Menukil beberapa kali ulasan Lokadata.com, grade udara berada pada batas hijau atau baik.

Dari amatan di AirVisual, indeks kualitas udara Kota Ambon adalah 17. Itu termasuk dalam rentang batas aman kualitas udara terbaik dari 0-50. Bila dibandingkan dengan kota lain di Indonesia, Jakarta, Tangerang Selatan dan Bekasi berada di ambang merah kualitas udara tidak sehat. Dengan indeks pencemaran mulai dari 151-200.

Salah satu penyebabnya yakni faktor pencemaran udara yang rendah. Kondisi alamnya pun turut mendukung sirkulasi udara. Senior Forcaster Stasiun Meteorologi BMKG Ambon, Warjo menyatakan Pulau Ambon punya keunikan pada alam yang masih asri.

“Di Pulau Ambon saja hutannya masih banyak. Ini salah satu faktornya. Dan juga kondisi cuaca yang sedang baik, masuk musim kemarau,” terangnya kepada Terasmaluku.com, Senin (16/12/2019) siang di ruangannya. Dari pantauan stasiun meteorologi BMKG, Ambon masuk dalam musim kemarau. Dimana arah angin hingga kelembaban amat mendukung terciptanya udara yang sehat. Terutama tidak ditemukannya titik api.

Saat kemarau, rentan terjadi titik api yang menyebar di hutan. Jika itu terjadi, angin timur yang sedang bertiup selama Desember dari selatan akan membawa asap ke Pulau Ambon. Hal itu, kata Warjo dapat memengaruhi kualitas udara. “Angin timuran bertiup dari Seram dan Selatan Tanimbar, Saumlaki. Kalau terbakar atau ada asap, angin akan membawa menuju Pulau Ambon,” sebutnya yang 14 tahun menjabat itu.

Masyarakat di Pulau Ambon harus lebih menjaga kondisi lingkungannya. Indeks kualitas semacam ini bisa berubah. Ketersediaan ruang terbuka hijau dan hutan di sekitar jadi salah satu penentu besar ketersediaan udara yang sehat dan layak bagi masyarajat. (PRISKA BIRAHY)