Akses Lapangan Kerja Disabilitas di Kota Ambon Terbatas, Rumah Generasi Pertemukan Stakeholder

oleh
oleh

TERASMALUKU.COM,- Akses lapangan kerja untuk disabilitas di Kota Ambon terbatas meski aturan undang-undang sudah memastikan hak disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan untuk swasta 1 persen sedangkan BUMN 2 persen.

Dalam forum diskusi yang digelar Rumah Generasi  Kamis (23/11/23) bersama stakeholder Kota Ambon,  Dinas  Tenaga Kerja Kota Ambon,  mengakui minimnya informasi lowongan kerja untuk disabilitas selama ini  tidak disampaikan oleh perusahaan penyedia kerja akibatnya banyak pencari kerja terutama disabilitas tidak bisa mengaksesnya.

Menurut Kabid Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Kota Ambon, Asmarini Latuponno undang-undang tenaga kerja sebenarnya sudah memberi kesempatan kerja bagi kaum disabilitas sebanyak 1 persen untuk perusahaan swasta dan 2 persen untuk perusahaan negara.

‘’Namun yang terjadi masih banyak disabilitas yang tidak terserap lapangan kerja, yang biasa kami berikan hanya kartu kuning atau kartu pencari kerja soal informasi lowongan tidak banyak yang kami dapatkan untuk bisa menyalurkan mereka,’’ jelasnya.

Popy Siahaya, dari Rumah Generasi menyanggupi untuk membantu Disnaker untuk menyediakan data banyaknya disabilitas yang siap kerja sesuai ragam disabilitas dan kapasitas mereka sesuai kemampuan masing-masing ragam.

‘’Ada ragam yang memang perlu diperhatikan,  disabiltas tuna grahita misalnya, ada tingkatan  intelektual yang harus dipastikan  bidang kerja apa yang sesuai untuk mereka, ‘’ sebut Poppy.

Sejumlah stakeholder yang hadir diantaranya Dinas Sosial Kota Ambon menyebutkan untuk membantu disabilitas pihaknya bisa membantu berupa  alat bantu dengar, pemberian motor untuk usaha, dan sejumlah bantuan yang disediakan untuk disabilitas.

Sementara Disperindag Kota Ambon mengatakan pihaknya bisa membantu dalam pengelolaan UMKM, termasuk karya disabilitas UMKM bisa difasilitasi oleh Disperindag  untuk diperkenalkan ke pasar baik lokal maupun nasional.

Deva Tuhuleruw Ketua Komunitas Tuli se Maluku yang hadir dalam kesempatan ini menanyakan mengapa tuna tuli  sulit mengakses kerja  kerja dia juga menceritakan sulitnya mengakses perbankan misalnya pembuatan kartu atm pada mesin karena tidak ada yang bisa membantunya di salah satu bank di Kota Ambon.

BACA JUGA :  Danrem Minta Satgas Yonif 734 SNS Jaga Kepercayaan Masyarakat

‘’ Saya sebagai disabilitas tuli tidak berani melamar karena tidak diberikan kesempatan sesuai kemampuan saya,’’ ungkap mahasiswa Stikom semester lima ini dengan Bahasa isyarat.

Menurut Yohana Maitimu Ketua Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia) di Maluku menyatakan sebelum membuka akses lapangan kerja seharusnya semua stakeholder memahami dan membahas lebih beragam jenis disabilitas.

‘’ Untuk memastikan kapasitas dan kebutuhan disabilitas harus dibuat klasifikasi ragam disabilitas, kenali dulu ragam disbilitas untuk kebutuhan lowongan kerjanya, misalnya orang but aitu ada klasifikasi ragamnya, misalnya low vision itu ada lagi ragamnya, dan semuanya bisa bekerja jika mereka memiliki alat bantu kerja sesuai kbutuhan mereka,’’ jelasnya.

Yohana mengatakan dirinya lebih menyarankan para disabilitas untuk membuka usaha sendiri daripada melamar kerja pada perusahaan, ada banyak bidang usaha yang bisa dilakukan disabilitas.

Sementara menurut Koordinator Program PADI (Prioritas Anak Disabilitas Indonesia)  Rumah Generasi, Yunita Luhulima, kegiatan ini digelar karena banyaknya keluhan anak disabilitas yang selesai sekolah tidak bisa terserap lapangan kerja. Dengan mengajak semua pihak ikut membahas hal ini bisa memiliki pemahaman yang sama tentang kondisi disabilitas saat ini yang dianggap tidak bisa kerja namun sebenarnya mereka memiliki kapasitas dan kapabilitas yang baik untuk pekerjaan tertentu.

‘’Kegiatan ini kami lakukan diakhir 2023 ini untuk kami bisa berkolaborasi dengan stakeholder untuk penganggaran di 2024, baik dinas terkait, BUMN maupun pihak swasta. Misalnya bekerja sama Disnaker untuk menyediakan data disabilitas bahkan ada dana usaha yang seharusnya bisa diakses oleh disabilitas ini, ‘’ papar Yunita. (*)