Perkuat Toleransi, SMA Kristen Rehoboth dan SMA Al-Hilal Ambon Terapkan Sistem Pela Gandong

oleh
Penulis: Redaksi  |  Editor: Redaksi
Kepala SMA Kristen Rehoboth Ambon bersama Kepala SMA Al-Hilaal Ambon (ANTARA/Dedy Azis)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Dua sekolah menengah atas di Kota Ambon, SMA Kristen Rehoboth dan SMA Al-Hilal Ambon mengembangkan sistem Sekolah Pela Gandong sebagai upaya memperkuat toleransi, membangun hubungan lintas iman, dan merawat kembali persaudaraan yang sempat terputus akibat konflik Ambon 1999.

“Program ini menjadi salah satu praktik pendidikan perdamaian berbasis kearifan lokal di Maluku,” ujar Kepala SMA Kristen Rehoboth Ambon, Salomina Patty, di Ambon, Minggu (30/11/2025).

Ia mengatakan, konsep pela gandong yang dihidupkan kembali oleh kedua sekolah itu berakar pada nilai persaudaraan sedarah (gandong) dan ikatan antar-negeri (pela) yang sejak berabad-abad menjadi dasar hidup harmonis masyarakat Maluku.

“Konflik 19 Januari 1999 meninggalkan trauma mendalam. Hubungan pela dan gandong yang dulu menyatukan Muslim dan Kristen menjadi retak. Sekolah harus menjadi ruang pemulihan itu,” ujar dia.

Ia menjelaskan, program Sekolah Gandong disusun melalui tiga pendekatan utama yakni belajar lintas sekolah, siswa dari Rehoboth dan Al-Hilal mengikuti kegiatan pembelajaran bersama, baik kelas kolaboratif maupun proyek sosial.

Kemudian interaksi budaya dan dialog melalui pertemuan rutin, praktik seni bersama seperti menari, bernyanyi, dan kegiatan “makan gandong” sebagai simbol persaudaraan.

“Ada juga program pertukaran guru yang mana kedua sekolah saling berbagi tenaga pendidik untuk memperkuat kolaborasi akademik dan pemahaman lintas agama,” kata dia.

Kepala SMA Al-Hilal Ambon Jaleha, menjelaskan bahwa kerja sama ini adalah proses panjang yang juga melibatkan orang tua.

“Kami sadar bahwa pendidikan harus menjadi jembatan, bukan tembok. Orang tua pun kami libatkan agar kepercayaan tumbuh,” katanya.

Adapun dampak nyata bagi peserta didik kata dia, siswa mulai membuka diri dan merasa memiliki “saudara gandong” di sekolah lain, tumbuh keberanian untuk berinteraksi lintas agama, muncul kebiasaan saling menyapa dengan “halo gandong” menjadi simbol kedekatan

“Muncul kegiatan seni bersama memperkuat rasa kebersamaan selain itu, kolaborasi guru-siswa menumbuhkan ruang belajar yang aman dan inklusif,” kata dia.

Sekolah gandong sendiri merupakan bagian dari program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang digagas Institut Leimena yang berperan sebagai fondasi utama dalam memperkuat nilai toleransi.

Melalui pendekatan edukasi yang inklusif, LKLB membekali guru dengan pemahaman lintas agama dan budaya, termasuk pelatihan, modul pembelajaran, serta kegiatan kunjungan antarrumah ibadah.

Program ini menjadi ruang perjumpaan yang aman bagi para pendidik untuk mempelajari keberagaman secara langsung, membangun empati, serta mengembangkan keterampilan dialog.

Pewarta : Ode Dedy Lion Abdul Azis/Antara
Editor : Ikhwan Wahyudi

**) Ikuti berita terbaru Terasmaluku.com di Google News klik link ini dan jangan lupa Follow

No More Posts Available.

No more pages to load.