Angkat Isu HAM Lewat Karya Mural Maluku Festival

Angkat Isu HAM Lewat Karya Mural Maluku Festival

SHARE
Puluhan seniman mural mengisi bidang-bidang kosong pada tembok kota dalam Maluku Mural Festival 2018 yang digelar di sekitar SMP Kartika Ambon, Jumat (8/6/2018). FOTO : BIR (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Pemandangan berbeda dan penuh warna saat melintas di sekitar SMP Kartika Ambon. Tembok-tembok sekolah yang dulunya polos, kusam dan berlumut kini jadi lebih meriah. Puluhan anak muda sejak Jumat (8/6/2018) pagi hingga sore mulai menorehkan gambar dan warna pada karya mural. Dimulai dari tembok pertama yang ada di belokan SMP Kartika Ambon hingga batas akhir sekolah dipenuhi dengan berbagai desain khas dari 21 peserta Maluku Mural Fest 2018.

Karya mural Emus larmawata tentang hak tiap anak untuk mendapat pendidikan.

Emus larmawata, salah satu peserta asal Tual mendapat bidang pertama menuangkan ide gambar sesuai tema yang ditentukan yaitu Hak Asasi Manusia (HAM) dalam Perspektif Budaya Maluku. “Semua anak berhak dapat pendidikan. Ada topi SD, juga dengan air putih dan enbal untuk menggambarkan kesederhanaan,” jelasnya kepada Terasmaluku.com saat mengunjungi lokasi mural.

Emus memilih realitas yang dijumpainya di kampung halaman. Ada banyak anak yang tetap diperjuangkan untuk sekolah oleh orang tua yang yang hanya seorang petani. Segelas air putih dan enbal mewakili kesederhanaan. Menurutnya, HAM dipandang dalam lingkup yang lebih luas. Salah satunya lewat pendidikan. Dimana ada perjuangan dalam kesederhanaan pun keterbatasan demi pendidikan yang layak dan baik untuk anak.

Ada pula yang coba memvisualkan budaya Maluku lewat symbol-simbol. Seperti gong perdamaian, budaya pela gandong hingga mencoba menghadirkan ingatan orang Maluku tentang Yanes Balubun. Dalam liputan Terasmaluku.com pada 12 Juni 2016 sempat menulis jejak aktifitas Yanes sebelum wafat. “Beta su pikir ide ini lama. Dari tadi banyak yang lewat la tanya ini sapa,” ungkap Theizard Saiya, seniman mural.

Salah satu yang mempertegas karyanya yakni gambar burung kakatua dan cidaku yang khas Pulau Seram. Tanah yang dibela Yanes sebelum akhirnya meninggal tak wajar. Tak ketinggalan warna-warna dasar yang ngejreng yang dinilainya jadi ciri khas yang menarik perhatian warga kota. “Tapi karya ini bebas. Siapa saja bisa artikan gambar ini. Karena itu beta sengaja seng tulis nama,” sambungnya.

Ketua Panitia Maluku Mural Festival Ryan Juanito Engko, menyebut acara tersebut sebagai salah satu cara untuk meningkatkan awareness soal HAM dan berbagai kasus yang tak terdata. “Katong pakai media seni untuk penyadaran buat warga kota. Biar lebih mudah dicerna dengan lebih ringan,” sebut Kasubag Perlindungan Hukum dan HAM, Biro Hukum dan HAM Provinsi Maluku itu.

Pemilihan lokasi mural pun bukan tanpa alasan. Lokasi itu dinilai strategis dan netral. Lokasinya juga berdekatan dengan pos kepolisian, sekolah rumah sakit juga kampus. Festival yang berlangsung tiga hari itu bakal dinilai oleh seniman mural asal Jogja, Samuel Indratma yang mendirikan Apotik Komik, juga Abiddin Wacano. (BIR)

loading...