Aparat Polairud Maluku Tembak Kapal Pengangkut 1,76 Ton Mercury

by
Direktur Polairud Daerah Maluku, Kombes Pol Harun Rosyid memperlihatkan barang bukti 1,76 ton mercury saat jumpa wartawan di Dermaga Direktorat Polairud Polda Maluku, Selasa (24/3/2020).FOTO : ALFIAN SANUSI

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Polda Maluku berhasil menggagalkan upaya pengiriman 1,76 ton mercury dari Kabupaten Buru Selatan (Bursel) ke daerah Buton, Sulawesi Tenggara. Mercury yang sudah diisi ke dalam 50 jirigen ini dibawa dengan menggunakan KLM Cahaya Baru dengan kapasitas 5 GT.

Saat akan diperiksa oleh polisi di tengah laut, nahkoda dan awak kapal memilih melarikan diri. Kapal kemudian dikejar dan ditembak oleh Komandan Kapal KP. XVI-1008, Pos Sandar Polairud Pulau Buru, Bripka Benhrat Pinge. Akibat penembakan ini kapal mengalami kebocoran dan kapal terpaksa berlabuh di Desa Simi, Kecamatan Wamsisi, Bursel.

Barang bukti 1,7 ton merkury kemudian dibawa ke Markas Direktorat Polarud Polda Maluku di kawasan Lateri Ambon. “Saat ingin dilakukan pemeriksaan, kapal tidak mau berhenti tapi menambah kecepatan. Kapal kemudian ditembak hingga bocor,” kata Direktur Polairud Daerah Maluku, Kombes Pol Harun Rosyid kepada wartawan di Dermaga Direktorat Polairud Polda Maluku, Selasa (24/3/2020).

Harun mengatakan, saat kapal bermuatan mercury ini berlabuh di Desa Simi, nahkoda bersama dua orang anak buah kapal langsung lompat dari melarikan diri ke hutan. Aparat Polairud kemudian mengejar nahkoda dan dua orang awak kapal itu. “Dari pengejaran itu satu orang awak kapal berinisal ZA berhasil kita tangkap dan dibawa ke Ambon untuk diperiksa lebih lanjut, sedangkan dua orang melarikan diri,,” kata Harun.

loading...

Harun menyebutkan, 50 jirigen yang terisi mercury ini didapatkan dari Kabupaten Seram Bagian Barat. “Pengakuan awak kapal yang kita tangkap, ini merupakan pengiriman yang kedua kalinya ke wilayah Buton. Barang bukti 50 jerigen ini kalau kita hitung sekitar 1,7 milyar rupiah kerugian negara yang kita selamatkan,” ujar Harun.

Akibat perbuatan tersebut, tersangka dijerat Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara dan denda 10 milyar. (ALFIAN SANUSI)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *