AT: Rencana Pemindahan Ibukota Provinsi ke Pulau Seram Hanya Proyek Akal-Akalan

by
Abdullah Tuasikal menyerahkan dukungan AT Community kepada Said Assagaff saat deklarasi dukungan di GOR Waiheru Ambon, Minggu, 1 Oktober 2017. FOTO : DOK. TERASMALUKU.COM.

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Rencana pemindahan Ibukota Provinsi Maluku ke Makariki Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) di Pulau Seram, dinilai merupakan proyek akal-akalan saja. Karena rencana pemindahan ibukota provinsi ke wilayah tersebut sampai saat ini belum memiliki legitimasi hukum.

Pernyataan ini diungkapkan oleh Ketua Tim Relawan AT Community, Abullah Tuasikal (AT)  yang mendukung calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku, Said Assagaff-Andareas Rentanubun di Pilgub Maluku. “Pemindahan Ibukota Provinsi Maluku itu hanya proyek akal-akalan saja. Sampai saat ini belum ada peraturan daerah yang mengatur untuk pemindahan (ibukota provinsi) padahal sudah pencanangan,” kata AT kepada wartawan di Ambon, Rabu (21/3).

Pernyataan AT tersebut  menanggapi sikap politik pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku, Murad Ismail dan Barnabas Orno yang akan memindahkan Ibukota Provinsi Maluku ke Pulau Seram jika memenangi  Pilkada Maluku 27 Juni 2018 .

BACA JUGA : Karel : Baileo Menang, Ibukota Provinsi Maluku Dipindahkan ke Pulau Seram

Mantan Bupati Malteng dua periode ini mengatakan, saat peletakan batu pertama  Ibukota Provinsi Maluku di Makariki  itu dikiranya seluruh persyaratan sudah terpenuhi, sehingga bisa dilakukan pemindahan ibukota provinsi.

“Saya kira seluruh persyarakat dan peraturan daerah itu sudah terpenuhi sampai melakukan peletakan batu pertama pemindahan ibukota provinsi. Karena saat itu saya masih menjabat sebagai Bupati Maluku Tengah,” katanya.

Menurutnya, wacana untuk pemindahan ibukota ini sudah basi. Sehingga masyarakat juga tidak akan terpengaruh terhadap hal tersebut. Adik kandung Bupati Malteng Tuasikal Abua ini juga sangat menyayangkan peletakan batu pertama yang dulu dilalukan oleh Karel Albert Ralahalu, saat Gubernur Maluku. Namun sampai saat ini hal tersebut tidak terealisasi. “Saya tau Pak Karel punya niat baik, tetapi ini sama saja meletakan bom waktu, karena proses tidak dilanjutkan,” kata AT. (IAN)