BABATU : Musik Tradisional Alifuru di Ulahahan Oleh : Nelsano A. Latupeirissa, M.Sn – Musisi Alifuru Dosen IAKN Ambon

by
Nelsano A. Latupeirissa, M.Sn - Musisi Alifuru Dosen IAKN Ambon. FOTO : ISTIMEWA

MUSIK adalah sarana hiburan sekaligus sarana alat terapi untuk menghilangkan penat, tetapi musik juga adalah bahasa komunikasi yang menampilkan kesantunan anak negeri menghadapi kerasnya kehidupan. Harmonis jika berpadu. Harmoni alam, harmoni sosial dan harmoni musik adalah keindahan yang harus diciptakan tanpa henti. Air yang mengalir, kicauan burung, semilir angin tak pernah dibiarkan sendiri menghibur semesta, tingkah musik anak negeri selalu mengalun merdu.

Musik dan kreatifitas selalu dinamis, mendinamisir, menginspirasi, menyemangati setiap generasi Alifuru di Ulahahan untuk terus kreatif. Dan kreatifitas musik tradisional adalah gambaran kehidupan anak negeri Ulahahan yang terus berkarya, seperti ide lahirnya musik babatu ini di era pandemic “Jangan sesekali batuk, ketika berada dikerumunan orang, kalau tidak mau dijauhi. Pandemi lantas menjadi kekhwatiran bersama, kecurigaan pun muncul antara satu dengan yang lain. Salah satu dampak adalah hilanganya kreatifitas seseorang ataupun kelompok. Itu yang hendak kami lawan dengan musik babatu”.

Musik Babatu (Bambu dan Batu) adalah musik yang lahir dan tumbuh disaat dunia ini dilanda pandemic covid 19. Dan lahirnya musik Babatu ini terinspirasi dari sumber daya alam sangat kaya dan sumber daya manusia yang potensial dari Pulau Seram.

Musik Toki Batu (Pele Vatwam) dalam bahasa Ulahahan adalah alat musik yang terbuat dari batu, dahulu di neg’ri atau desa Ulahahan, Telutih, Pulau Seram, saat masyarakat sepulang bekerja dari hutan dan melewati aliran air di kali, mereka akan beristirahat ditepian kali tersebut. Saat beristirahat itu, mereka akan membunyikan batu-batu yang berukuran kecil yang berada ditepian kali, dan batu-batu itu dibunyikan sebagai bunyi ritmis untuk menentukan tempo lagu saat mereka bersiul ataupun bernyanyi. Semuanya itu dilakukan untuk menghibur diri dari rasa cape dan lelah setelah seharian mereka bekerja.

Alat musik toki batu dibuat dan digagas oleh Anez Latupeirissa bersama teman-teman musisi dari Ulahahan. Terbentuknya gagasan untuk membuat musik batu ini disaat bersama dengan teman-teman musisi menikmati indahnya pemandangan ditepian pantai Ulahahan dan melihat anak-anak kecil yang asik bermain memegang batu dan mereka memukul batu yang ada ditangan sambil bernyanyi. Dari sinilah ide untuk membuat musik batu ini muncul, dikarenakan karena suara dari batu-batu ini bernada.

Akhirnya musik ini pun dibuat berdasarkan tangga nada musik. Pada awalnya musik batu ini hanya menggunakan satu tangga nada, tetapi seiring perkembanganya musik batu ini telah dibuat dan bisa dimainkan dalam semua tangga nada.  Proses pembuatan musik batu membutuhkan kemampuan musikal serta kemampuan pendengaran yang baik.  Batu merupakan benda alam yang padat dan keras dan menjadi penyusun utama materi bumi.

Tidak semua batu bisa digunakan untuk membuat alat musik batu ini, batu-batu yang dipilih mempunyai tekstur tersendiri, seperti saat dipukul atau diketuk akan mengahasilkan getaran bunyi yang bisa didengar oleh alat pendengaran kita. Setelah batu-batu itu dipilih kemudian dalam proses pembuatan alat musik batu ini, menggunakan alat penyetel nada atau yang sering disebut tuner, fungsinya untuk menetukan nada-nada yang kita inginkan.

Alat musik Pele Vatwam atau toki batu dalam perkembangannya sekarang, bukan saja sebagai alat musik dalam bentuk ritmis untuk mengiringi nyanyian, tetapi juga bisa dimainkan secara melodi dan harmoni, adapun cara memainkannya baik secara individu maupun secara kelompok. Musik Tiup Bambu (Kuma Titiplam) adalah alat musik tiup yang terbuat dari sebuah ruas bambu kecil, dahulunya di neg’ri Ulahahan alat musik ini digunakan sebagai sebuah tanda bagi masyarakat setempat.

Saat alat musik ini ditiup sebanyak tiga kali dengan nada yang panjang menandakan bahwa daerah Ulahahan sedang mengalami kedukaan misalnya, ada masyarakat yang meninggal atau sakit, dan sebaliknya saat alat ini ditiup sebanyak tiga kali dengan nada pendek, itu berarti masyarakat setempat akan melakukan pertemuan bersama.

Bagi masyarakat Ulahahan, Telutih, Pulau Seram, alunan musik dan alunan kehidupan tak dapat dipisahkan. Toki Batu (Pele Vatwam) dan Tiup Bambu (Kuma Titiplam) di saat-saat tertentu, waktu di pinggir kali sewaktu pulang dari kebun dan di hutan adalah pentas Musik yang menggambarkan beberapa aspek kehidupan baik Ekologi, Sosiologi dan Kebudayaan sebagai sebuah harmonisasi kehidupan manusia Alifuru di Ulahahan.

Salam Musik Rakyat Alifuru

T A B E A !
Ambon, 18 Maret 2021