Bagi Kain Gratis Buat Bikin Masker, Cara Warga Ambon Lawan Covid-19

by
Salah seorang penjahit di Kota Ambon tengah mengambil dua gulung kain yang dibeirkan gratis untuk dibuatkan masker dan dibagikan cuma-cuma ke warga, (9/4). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Cara demi cara dilakukan agar wabah dapat berlalu segera. Di Ambon, warganya punya cara tersendiri untuk bangkit melawan coronavirus disease atau Covid-19. Usai ada bilik baukup, kini giliran gerakan untuk membuat masker lewat bagi-bagi kain gratis.

Di sebuah ruang tamu rumah di kawasan Jalan Anthoni Rebok Ambon, ada bertumpuk gulungan kain. Sudah sejak dua hari lalu, kain aneka warna dan motif itu datang. Mereka berasal dari sumbangan sejumlah toko kain besar di Kota Ambon. Seperti toko kain Meter dan Ciwangi.

Beberapa orang siang tadi datang untuk mengambil kain tersebut. Vander Christian Soukota, menjadikan ruang tamu rumahnya sebagai markas kain. Dia bersama Perhimpunan Dokter Serumpun Maluku Makang Patita di Jakarta menginisiasi sebuah gerakan membantu warga di Ambon melawan COVID-19.

Saat Terasmaluku.com mendatangi kediamannya, Vander berujar, jika ratusan meter kain itu adalah sumbangan dari sejumlah pengusaha dan pemilik toko kain di Kota Ambon. “Ini samua dari koneksi (klien, red). Dan dong mau bantu dan gratis berikan kain itu kepada warga yang mau bikin masker dan dibagikan gratis juga ke orang,” kata Vander yang Kamis siang (9/4/2020) kedatangan seorang warga untuk mengambil kain.

Keterbatasan masker bagi warga mendorong dirinya serta komunitas tersebut berbuat sesuatu yang lebih riil. Dari hasil sumbangan itu, dia menjatah setiap orang dua gulung kain. Siapa saja boleh mengambilnya untuk dibikinkan masker. Dengan catatan, masker-masker itu dibagikan gratis kepada warga sekitar yang belum kebagian.

Baginya tak ada pilihan lain yang paling masuk akal selain menghadirkan masker merata bagi seluruh rakyat. Pemerintah tentu tidak bisa bekerja sendiri. Vander yang tergabung di Baronda.id bersama perhimpunan dokter serumpun mengambil langkah cepat untuk itu. Setidaknya gerakan mereka dapat membantu lebih banyak orang.

“Katong target lai mau bikin 4.000 masker bagi ke pasar mardika dan sudah koordinasi dengan pak walikota dan dinas terkait untuk bagaimana pembagiannya ada SOP jelas. Katong hanya mau bantu warga,” jelas dia.

Loading...

Kebijakan work from home (WFH) berlaku bagi cukup banyak orang. Namun segelintir malah terancam kehilangan pendapatan. Vander merupakan seorang fotografer. Dia hanyalah satu dari sekian profesi yang mengharuskan berada di luar rumah agar pundi-pundi terisi.

Sebagian kain sumbangan dari pengusaha di Ambon yang masih tersedia jika ada warga yang ingin mengambilnya

Perlu ada tindakan proaktif dan cepat untuk potong pele Covid-19. Jika tidak dalam situasi ini orang-orang dengan profesi serupa bisa kejut-kejut. “Yang bisa beta lakukan ya ini. Maluku harus bisa tekan angka sebaran virus. Katong harus tunjukan bahwa Maluku bisa dan jadi semangat buat daerah lain,” kata founder Baronda.id itu optimistis.

Lisye Tahamata, seorang penjahit di belakang Gereja Marantha siang itu buru-buru datang mengambil dua gulung kain. Motif-motif lawas yang berkesan vintage dengan tone warna kalem tampaknya amat menarik perhatian dia. Lisye sudah tak sabar ingin segera membuat masker.

Beberapa kali dia membolak balikan kain mencari motif serta ketebalan kain yang pas. “Beta cari yang jang terlalu tebal dan bagus. Ini mau bikin masker buat bagi di katong komplek juga, Jemaat Bethania,” ujar Lisye yang jatuh hati pada dua gulung kain berwarna merah muda dan merah corak bunga.

Semua kain itu akan dibikin jadi masker dan dibagikan kepada warga sekitar. Belum tahu pasti ada berapa jumlah masker, namun dirinya berusaha sebanyak mungkin agar semua warga kebagian.

Ide membagikan kain gratis dan 4.000 masker kepada orang di Pasar Mardika adalah bentuk keyakinan warga kota Ambon yang menolak kalah melawan virus corona. Mereka berharap ada lebih banyak lagi orang di Ambon yang terbakar untuk menyelamatkan kota dengan cara-cara sederhana namun nyata. (PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *