Bahaya Merkuri Dan Sianida, Warga Dekat Gunung Botak Tak Lagi Konsumsi Air Sumur

by
Polsek Waeapo memasang garis polisi melarang adanya hewan ternak masuk ke sebuah wilayah di Dusun Wamsait Desa Dava Kabupaten Buru menyusul ditemukan tiga ekor kerbau mati setelah minum limbah merkuri dan sianida di lokasi pengolahan emas sistem rendaman Jumat (9/3). Foto ini diambil pada Jumat(16/3) oleh jurnalis Terasmaluku.com.

TERASMALUKU.COM,-NAMLEA- Aktivitas penambangan ilegal di kawasan  Gunung Botak Kabupaten Buru  dengan menggunakan bahan kimia merkuri dan sianida benar – benar membuat warga takut. Warga Dusun Wamsait Desa Dava Kecamatan Wailata Kabupaten Buru yang berlokasi tak jauh dari Gunung Botak  sejak tiga tahun terakhir tidak lagi mengkonsumsi air sumur di rumah-rumah  mereka menyusul maraknya aksi penambangan ilegal.

Warga tidak lagi mengkonsumsi sumber air di perkampungan mereka karena takut terpapar merkuri dan  sianida yang digunakan para penambang untuk pengolahan emas ilegal.  Tak hanya air, warga di desa tersebut juga tidak lagi mengkonsumsi ikan dan sayur-mayur karena khawatir terkena racun sianida.

Ini diungkapkan, Sutikno, seorang tokoh masyarakat Desa Dava saat ditemui sejumlah wartawan  di rumahnya, Kamis (16/3) di Dusun Wamsait. Ia  mengaku dia dan ratusan  warga dusun tersebut sejak tiga tahun terakhir tidak lagi mengkonsumsi air sumur dan lebih memilih membeli air mineral untuk kebutuhan minum.

“Kami warga di Dusun Wamsait yang berdekatan dengan Gunung Botak sudah tiga tahun terakhir tidak lagi meminum air sumur karena kami takut terkena racun sianida, begitu juga dengan sayur mayur dari dusun sini,”kata Sutikno.

Di Dusun Waisait ini menjadi daerah paling parah terdampak merkuri dan sianida. Buktinya pada Jumat (9/3) tiga ekor kerbau mati mendadak setelah minum air limbah dari pengolahan emas dengan sistem rendaman yang menggunakan merkuri dan sianida.

Menurut Sutikno peristiwa ini bukan kali pertama. Sejak 2015 sudah sekitar tujuh ekor hewan ternak milik petani mati akibat minum limbah bahan kimia yang diduga berasal dari hasil pengolahan emas ilegal.”Kami makin takut dengan adanya peristiwa terakhir ini, tiga kerbau mati mendadak yang berlokasi tak jauh dari pemukiman warga dan sebuah kali,” katanya.

Sumur warga Wamsait

Mantan Kepala Dusun Wamsait ini mengaku dusun Wamsait didiami oleh hampir 350 kepala keluarga dan hamper setiap rumah memiliki sumur yang dimanfaatkan untuk sumber air minum. Namun sejak lokasi tambang illegal di kawasan Gunung Botak mulai ramai beroperasi, sumur-sumur warga tidak lagi bisa dimanfaatkan. “Sejak penambang berdatangan dan aktivitas penambangan dengan menggunakan sianida mulai marak kita tidak lagi mengkonsumsi air sumur, termasuk juga mengkonsumsi sayur-sayuran di desa ini,”paparnya.

Setiap hari kata Sutikno keluarganya harus membeli tiga galon air mineral untuk kepentingan minum dan memasak. Sementara air sumur yanga da di rumahnya hanya digunakan untuk keperluan mencuci dan mandi. “Kalau saya setiap hari itu beli tiga galon air, harganya Rp 5.000 per gallon, kalau air sumur itu hanya untuk mencuci. Semua warga disini begitu,”ujarnya.

Sejalan  dengan Sutikno, Nurozi warga Dusun Wamsait juga mengungkapkan, keluarganya juga tidak lagi mengkonsumsi air sumur di rumahnya karena takut terkena racun sianida,”Kalau untuk minum kita tidak lagi minum air sumur, kita beli air mineral,”kata dia.

Nurozi menuturkan, warga di dusun itu semakin khawatir lantaran dalam beberapa pekan terakhir, hewan ternak di dusun tersebut terus mati mendadak setelah meminum air bekas limbah di sekitar lokasi pengolahan emas ilegal. Kini di lokasi tersebut, hewan ternak dilarang masuk karena wilayah itu tercemar limbah merkuri dan sianida. (ADI)