Bangun Kesadaran Multikulturalisme Dan Toleransi Dengan Budaya Kalwedo

by
Pdt Albert Efraim Kofit FOTO : ISTIMEWA

SAYA bersyukur 13 September 2019 lalu, diberi kesempatan mewakili Ketua Klasis GPM Pp. Letti Moa Lakor menyampaikan materi tentang “Membangun Kesadaran Multikulturisme dan Toleransi di Kalangan Mahasiswa” pada acara Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) di PSDKU Unpatti Tiakur. Mengapa penting topik materi ini disampaikan di lingkungan kampus? Menjawab pertanyaan ini, saya mengutip pendapat prof Sumanto Al Qurtuby, bahwa model Pendidikan Multikultur dan Pendidikan Agama Inklusif” perlu dilestarikan di lingkungan perguruan tinggi. Lembaga-lembaga pendidikan termasuk perguruan tinggi perlu ada mata pelajaran cross-cultural or religious understanding.

Saya sependapat dengan pandangan pak Sumanto, sebab kampus-kampus bisa berpotensi menjadi lahan yang subur bagi pesemaian paham-paham radikalisme dan intoleransi. Oleh sebab itu, gerakan atau diskursus akademik guna membangun kesadaran multikutularisme, paham kebangsaan dan toleransi di kampus menjadi keharusan serta terus menerus digelorakan di lingkungan kampus agar civitas akademik berpikir dan bertindak inklusif dan semakin toleran.

Pada perspektif multikulturalisme, kaum intelektual di Kampus perlu diingatkan tentang menghormati hak-hak atas keanekaragaman budaya, etnis dan agama merupakan suatu keharusan dan kewajiban. Sebab masing-masing memiliki hak hidup yang sama untuk dihormati dan dihargai. Itulah sebabnya, Pendekatan multikulturalisme sangat relevan bagi upaya membangun sikap hidup yang toleran dengan semua elemen masyarakat agama, masyarakat budaya, masyarakat sosial, masyarakat politik, dan lainnya.

Oleh seorang yang namanya Romo Mangunwijaya dalam bukunya Pasca Indonesia, Pasca Einstein (1999, hlm 85) mengatakan bahwa bangsa ini sudah seharusnya berada dalam budaya yang disebut dengan budaya pasca Indonesia. Budaya pasca Indoensia mengajak kita untuk meninggalkan sikap-sikap serta pandangan yang serba ekslusive, monolistik ke arah budaya inklusif yang menghargai pihak-pihak lain.

Pertanyaan bagi kita di Maluku Barat Daya, apakah produk budaya inklusif yang kita hasilkan selama ini benar-benar menghargai dan mengakomodir setiap perbedaan budaya, suku dan agama yang ada, sekaligus menerimanya sebagai suatu kekayaan bersama? Apakah produk-produk budaya yang dimiliki mampu membangun kebersamaan yang inklusif dan persaudaraan yang sejati?

loading...

Salah satu kearifan lokal (local wisdom) yang dapat dijadikan sebagai spirit yang menyadarkan kita tentang pentingnya multikulturalisme dan toleransi adalah Budaya Kalwedo. Budaya Kalwedo merupakan “Pusaka Kemanusiaan Anak Negeri Maluku Barat Daya”. Sebuah pusaka yang selalu mengutamakan perilaku beradat dan bermartabat dengan segala kekayaan nilai geo kultural maupun sosio religius Maluku Barat Daya yang khas dan kuat. Budaya kalwedo menjadi fajar kehidupan (en’lightmen) dan kekuatan budaya (power of culture).

Kalwedo menjadi cermin luhur keperibadian masyarakat Maluku Barat Daya yang selalu ramah, berkelembutan dan rendah hati, sederhana, penuh kesantunan, tabah berjuang, beriman, disiplin, bekerja keras, berintegritas, jujur, tekun, empati, solider dan toleran dengan rangkulan cinta kasih untuk memuliakan hidup dalam kemajemukan dan persaudaraan (Sinyoli Lieta, Ina Nara Ama Syali). Setiap orang yang mengkumandangkan salam kalwedo, ingat bahwa yang sering kita ucapkan bukan salam yang melafaskan kejahatan dan kebencian, tetapi sapaan yang beradat dan bertabiat mulia.

Dengan spirit budaya kalwedo ini mari kita bangun kesadaran multikultural dan kukuhkan toleransi di Maluku Barat Daya, demi MBD yang Aman, demi Maluku yang Harmonis, dan demi Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan keutuhan bangsa. Sekian, Ho Kalweta, ho. Uplerlawna Nodi Nora Ita Penulis Pdt Albert Efraim Kofit, M.Si, Sekrataris Klasis GPM Lemola MBD.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *