Batu Gajah Dalam Sejarah (Membaca Kembali Kisah Pengasingan Susuhunan Pakubuwono VI)

by
Belly I. Kristyowidi, M. Pd. Dosen Sejarah-IAKN Ambon. FOTO : DOK.PRIBADI

Mengamati potret lawas tentang lukisan De Vallei Batoe Gadjah, – karya Charles William Meredith van de Valde (1818-1898) membawa ingatan saya untuk mencoba merekonstruksi kisah Raja Jawa yang mangkat di pengasingan dan sempat dimakamkan di Batu Gajah. Potret lawas tersebut melukiskan keindahan lembah Batu Gajah di wilayah Ambon di tahun 1847. Tepat dua tahun sebelum raja dilaporkan telah wafat oleh pihak kolonial Belanda kepada pihak Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Keterlibatan Susuhunan Pakubuwono (PB) VI dengan nama kecil Raden Mas Sapardan (Suratmin, 1980) atau yang dikenal Sunan Bangun Tapa dalam Perang Jawa (De Java Oorlog) membawanya ke pengasingan di Pulau Ambon. (Joebagio, 2015)

Perjuangan dan Pemberontakan

Senin Kliwon, 9 Sura tahun Dal 1751 atau 15 September 1823 Raden Mas Sapardan resmi dinobatkan menjadi Raja di Kasunanan Surakarta menggantikan ayahanda yaitu Raja Pakubuwono V, namun penobatan tersebut menjadi awal petaka akibat konflik antara Pakubuwono VI dengan kolonial Belanda, hal ini disebabkan karena campur tangan Belanda dalam urusan pemerintahan Kraton Surakarta. Susuhunan PB VI diwajibkan mengabdi kepada Belanda dengan memberikan bantuan prajurit demi menyukseskan kepentingan pihak kolonial, meskipun sang raja telah menyandang gelar Souverign atau yang berdaulat(Yosodipuro, 1980)

Kepentingan Belanda yang semula hanya terbatas pada perdagangan, maka pada periode ini Belanda mulai mengutamakan kepentingan politik (Kartodirdjo, 1987). Perpaduan antara motif agama, sosial, ekonomi dan politik pada periode ini mengakibatkan meletusnya Perang Jawa (De Java Oorlog) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Ketika Perang Jawa dimulai, aritokrat Jawa dihadapkan pada dua pilihan posisi keperpihakan, yaitu bergabung dengan perlawanan Pangeran Diponegoro atau sebaliknya beraliansi dengan kolonial Belanda (Carey, Asal Usul Perang Jawa: Pemberontakan Sepoy & Lukisan Raden Saleh, 2001).

Dukungan secara terselubung dilakukan oleh Susuhunan Pakubuwono VI untuk membantu pasukan Pengeran Diponegoro dalam melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Pertemuan-pertemuan terselubung acapkali dilakukan baik di dalam lingkunagn keraton maupun di luar keraton untuk melakukan pemberontakan terhadap kolonial Belanda. Perjumpaan dua tokoh penting Wangsa Mataram ini benar-benar dirahasiakan. Yang jelas, Pakubuwono VI menyatakan kesanggupannya untuk membantu Diponegoro yang tidak lain adalah pamannya itu. (Agus, Sri, & Widjaya, 2003)

Kekhawatiran Belanda akan adanya dukungan yang lebih besar dari Kasunanan Surakarta kepada Pangeran Diponegoro, membuatnya berinisiatif untuk melakukan perundingan antara pihak kolonial dengan Pakubuwana VI. Perundingan resmi pertama dilakukan pada 12 Mei 1830, dalam perundingan tersebut Belanda mengusulkan mengenai penyerahan daerah disebelah Barat dan Timur Surakarta kepada kolonial Belanda dan sebagai imbalannya pajak atas daerah tersebut diserahkan kepada Kasunanan Surakarta. Selain itu Belanda juga meyakinkan akan terus memberikan dukungan secara finansial kepada para Pangeran dan menghapuskan seluruh kondisi yang mengakibatkan Perang Jawa (Sukrismiyati, Yuniyanto, & Djono, Strategi Politik Pakubuwana VI Melawan Kolonial Belanda Tahun 1823 – 1830, 2015), kemudian secara khusus kolonial Belanda membentuk “Commissarissen ter Bepaling der Zaken te Surakarta” (komisaris-komisaris yang bertugas untuk menetapkan urusan di wilayah Surakarta).

Pada tanggal 20 Mei 1830, badan itu menetapkan “Hendaklah Sri Sunan Pakubuwono VI setuju menyerahkan kepada Gubernemen dari Banyumas dan Bagelen beserta tanah-tanah Monconegoro yang akan diatur oleh Gubernemen atas nama Susuhunan.” (http://ikpni.or.id/pahlawan/sri-susuhunan-pakubuwono-vi). Sedangkan pihak Pakubuwana VI mengajukan permintaan bahwa bagia tiap-tiap Bupati dari setiap daerah diizinkan untuk mengunjungi keraton setiap tahunnya untuk melakukan penghormatan kepada Sunan. Usulan dari Pakubuwana VI ditolak oleh pihak Belanda yang menimbulkan kekecewaan di pihak Kasunanan Surakarta. (Sukrismiyati, Yuniyanto, & Djono, Strategi Politik Pakubuwana VI Melawan Kolonial Belanda Tahun 1823 – 1830, 2015)

Loading...

Pada hari Minggu pagi tanggal 6 Juni 1830, beserta enam pengikutnya tanpa sepengetahuan Residen Surakarata tanpa pengetahuan Residen Surakarta, Nahuys van Burgst, keluar dari kompleks Keraton Surakarta dan melakukan perjalanan menuju daerah Pantai Selatan Jawa. (Houben, 2002) Kepergian Pakubuwono VI dari Keraton segera di laporkan oleh Pangeran Buminoto kepada Residen Surakarta (http://ikpni.or.id/pahlawan/sri-susuhunan-pakubuwono-vi). Residen Surakarta yang mendapat laporan tersebut langsung melakukan penggeledahan di keraton untuk memastikan bahwa Pakubuwana VI benar-benar meninggalkan keraton.

Dengan berbekal tambahan informasi yang notabene adalah fitnah tentang dibocorkannya informasi adanya persekongkolan antara Susuhunan Pakubuwono VI dengan  Pangeran Diponegoro oleh Yasadipura Panjangswara yang merupakan ayah dari Ronggowarsito (Purnomo, 2012), dua hari pasca kepergian Susuhunan Pakubuwono VI pada hari Selasa 8 Juni 1830 Susuhunan Pakubuwono VI berhasil ditangkap di Mancingan oleh Residen Yogyakarta Van Nes dan Letnan Kolonel B.Solewijn. Kasus kepergian Pakubuwono VI tersebut dianggap sebagai sikap memberontak terhadap kekuasaan kolonial sehingga pada akhirnya pemerintah kolonial untuk mengasingkan Pakubuwono VI menuju Ambon melalui dekrit yang dikeluarkan oleh Gubernur Jendral Van Den Bosch tanggal 3 Juli 1830. (Houben, 2002)

Misteri Cinta hingga Kematian Susuhunan Pakubuwono VI

Pada akhir Perang Jawa, hukuman dari pengasingan hingga pelengseran kerap kali diberlakukan kepada siapa saja yang dianggap pemberontak kolonial Belanda termasuk diberlakukan kepada Pangeran Diponegoro di Manado (Carey, Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855, 2011) dan kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam. Hal serupa juga dialami oleh para pendukung Pangeran Diponegoro termasuk Susuhunan Pakubowono VI.

Proses pelengseran Susuhunan Pakubuwono VI oleh Kolonial Belanda dan proses pergeseran kekuasaan dari Pakubuwono VI kepada Pakubuwono VII pada dasarnya tidak menimbulkan gejolak perlawanan dari para pangeran Surakarta (Houben, 2002). Permintaan dukungan maupun pendampingan dari pengikutnya maupun permaisuri untuk mengikutinya di pengasingan juga ditangguhkan, hanya G.K.R. Anom dan salah putrinya yaitu G.K. Ratu Timur yang berkenan ikut ke Ambon (Bambang Sujarwanto, 2020).

Selama di pengasingan, Susuhunan menulis Babad Jaka Tingkir. Babad yang berisikan piwulang Sang Sunan Pakubuwono VI kepada permaisurinya, Kanjeng Gusti Ratu, untuk memberikan pendidikan agama Islam secara baik kepada putera-puterinya, terutama kepada Pangeran Prabuwijaya (Joebagio, 2015). Dalam pengasingannya, beliau juga berselir seorang peranakan Tionghoa bernama Kwee Ko Hing yang kemudian dianugerahi nama menjadi R.Ayu Retnoasmoro / R.Ayu Pujaningrum. Selain sebagai seorang selir, Nyonya Kwee adalah teman perjuangan yang turut membantu perjuangan Susuhunan Pakubuwono VI melawan kolonialisme Belanda di pengasingan bersama Sultan Ternate. (Bambang Sujarwanto, 2020)

Penyebab wafatnya Susuhunan Pakubuwono VI masih menjadi misteri hingga saat ini. Menurut informasi yang disampaikan kolonial Belanda kepada pihak keluarga, Susuhunan Pakubuwono VI wafat akibat tertimpa tiang layar kapal dan dimakamkan di Batu Gajah, Ambon. Namun beradasrkan penelitan tengkoraknya oleh Pangeran Djatikusumo berkesimpulan, Pakubuwono VI meninggal akibat luka oleh tajamnya peluru “Baker Rifle” dikepalanya.

Lain lagi menurut Serat Babad Ingkang Sinuwun Kangjeng Susuhunan Kaping VI. Beliau meninggal dunia karena sakit setelah mengalami kecelakaan ketika berkereta-kuda. Berbeda lagi keterangan Raden Ayu Timur, putri Pakubuwono VI yang menyertainya dalam pengasingan. Dalam suratnya kepada kakaknya, K.P.H. Natadiningrat, yang dikutip oleh Florida dalam Writing the Past, ribbing the Future, terbitan Duke University Press, 1995, halaman 57.

Sedangkan Raden Ayu Timur mengatakan bahwa ayahnya meninggal akibat infeksi paru-paru (Suwantoro, 2016).  Atas kesepakatan antara keluarga dan pemerintah, maka tanggal 10 Maret 1957 diadakanlah pemindahan makam Susuhunan Pakubuwono VI dari Batu Gajah ke Astana Panjimatan Imogiri, Yogyakarta. Atas perjuangannya, Sushunan Paku Buwono VI mendapat bintang kehormatan dari Pemerintah Republik Indonesia serta masyarakat pada umumnya (Sekretariat Menteri Koordinator Kompartimen Kesejahteraan, 1964). Selanjutnya dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden Soekarno No. 294/ 64 tanggal 17 November 1964 Pakubuwana VI diangkat menjadi “ Pahlawan Kemerdekaan Nasional”. (Sukrismiyati, 2015)

PENULIS  : Belly I. Kristyowidi, M. Pd. Dosen Sejarah-IAKN Ambon

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *