Batu Gajah dan Passo Target Sidak Curi Listrik PLN

by
Pemeriksaan Tim lapangan menemukan masih ada kecurigaan praktik curi listrik yang dilakukan oleh masyarakat. Sanksi denda hingga kemungkinan kebakaran bisa saja terjadi (21/3). FOTO: Dok PLN

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Penggunaan daya listrik ilegal oleh masyarakat kerap terjadi. Selain akibatkan kerugian, parktik semacam ini bisa berujung fatal seperti kebakaran. Selama bulan ini, pihak PLN mulai menyisir beberapa wilayah yang dicurigai ada penggunaan listrik ilegal di sana.

Wilayah Batu Gajah dan Passo menjadi target operasi selanjutnya. Sebeluamnya, pihak PLN Persero Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara lebih dulu menyisir kawasan Hitu hingga Larike Kabupaten Maluku Tengah. Ada sejumlah temuan di lapangan terkait pencurian listrik dari rumah tinggal hingga tempat usaha.

Kali ini giliran penyisiran di tengah kota. Manager Komunikasi PT. PLN Persero Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara, Ramli Malawat menjelaskan tim lapangan terus mencari lokasi-lokasi pencurian. “Mereka (tim) yang turun liat di berbagai tempat, di mana saja. Apalagi kalau ada kejanggalan,” terangnya kepada terasmaluku.com, Kamis (21/3/2019).

Kejanggalan yang dimaksud biasanya seperti ada keterlambatan pengisian pulsa token. Dari data yang terpantau tim TO, token-token listrik yang dibiarkan kosong selama lebih dari dua bulan biasanya akan memunculkan kecurigaan. Nah, pada lokasi-lokasi itu tim akan turun dan memastikan jika ada pengambilan listrik secara ilegal.

Temuan lain di lapangan yakni pencurian listrik dilakukan oleh pelaku usaha kecil. Sepeti usaha laundry, warung makan atau usaha kecil lain. “Biasanya mereka tidak daftar sebagai pelanggan. Tapi lansung cantol ke jaringan. Itu sering didapati tim,” jelas dia.

Nah untuk TO kali ini, tim akan turun memastikan di dua wilayah besar yaitu Batu Gajah dan Passo. Salah satu pertimbangannya, wilayah tersebut tergolong padat penduduk dan banyak bermunculan usaha-usaha kecil. Memang itu bukan jadi kriteria pasti sebab sidak dilakukan di tiap area yang masuk wilayah kerja. Ada kecurigaan warga yang melepas MCB atau miniature circuit breaker.

Praktik semacam ini dapat dikenakan sanksi sesuai ketentuan Kepdir Nomor 088 Z tentang pelaksanaan P2TL atau penertiban pemakaian tenaga listrik. Dendanya tidak main-main. Dari yang paling kecil Rp 3 juta hingga belasan juta, bergantung lama dan besar tenaga listrik yang diambil.

Praktik cantol listrik seperti ini sudah lama ditemukan oleh PLN. Bahkan tak terhitung berapa banyak pelanggan yang harus membayar denda. Namun toh masih saja terjadi. Data dari tim lapangan yang berhasil dihimpun wartawan, dalam sebulan minimal ada 40 temuan dari berbagai wilayah. “Masyarakat tidak tahu, praktik seperti ini yang sering jadi pemicu kebakaran,” tutup Ramli. (PRISKA BIRAHY)