Bayi Helena Meninggal, Usai Penanganan Gizi Buruk

by
RSUD Dr. Haulussy Ambon tempat bayi Helena Ele penderita gizi buruk dirawat hingga menghembuskan napas terakhirnya Selasa(4/2/2020). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Helena Ele telah berpulang. Bayi 8 bulan yang sempat dirawat lantaran gizi buruk di RSUD Dr Haulussy Ambon itu harus mengakhiri perjuangan kesehatannya.

BACA JUGA : Widya Kunjungi Bayi Gizi Buruk

Helena yang masuk dengan diagnosa alami gizi buruk itu nyatanya punya komplikasi penyakit lain. Helena meninggal sekitar pukul 6.45 WIT Selasa (4/2/2020) pagi di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Maluku itu. Jenazah langsung dibawa oleh keluarga ke kediaman mereka di Waitatiri, Desa Suli, Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Ambon.

“Sudah pulang tadi pagi. Dia masuk dengan keluhan gizi buruk,” jelas dr. Sri Wahyuni Djoko, Sp. A, yang menangani bayi Helena. Sri menjelaskan jika Helana dalam penanganan tim dokter di rumah sakit. Penanganan untuk gizi buruk langsung mendapat respon cepat. Pasalnya di usia yang 8 bulan, berat Helena tak seperti ukuran normal bayi seusianya. Lingkar perutnya lebih besar dari batas normal, berikut lingkar kepala yang jauh lebih kecil.

BACA JUGA : Anak Lincah, Bukan Jaminan Terhindar dari Gizi Buruk

Namun gizi buruk bukanlah masalah kesehatan tunggal. Dari diagnosa dan hasil observasi tim dokter, gizi buruk tersebut dipersulit dengan adanya tumor abdomen (perut). “Tahap awal memang kami fokus untuk perbaikan gizi. Status gizi meningkat. Tapi kami masih belum bisa pastikan, masih bingung itu tumor apa,” lanjut dia.

Dari catatan medis, sejak Helena mendapat perawatan ada peningkatan kondisi kesehatan. Seperti lingkar perut semakin turun juga status gizi yang mulai membaik. Sayangnya, kondisi perut yang besar, disebabkan oleh tumor. Tumor ini, kata Sri yang masih akan dipastikan oleh dokter. Apakah ia tumor ginjal atau kista ovarium. Dari hasil ultrasonography (USG) pun tidak menunjukkan hasil yang jernih.

Saat diwawancarai di ruang pemeriksaan poliklinik anak lantai II RSUD Dr. Haulussy, Sri menyatakan jika Helana akan dirujuk untuk mendapat penanganan lanjutan.

Sayangnya, kondisi Helena kadung memburuk. Tumor yang terus membesar mendesak jalur pernapasannya. “Dari selama kondisi pasien memang sesak napas. Kami sudah lakukan resusitasi dengan begging. Tapi didapati kondisi denyut nadinya menurun,” terang Sri kepada sejumlah wartawan.

Bayi Helena lahir dalam kondisi normal dengan berat 4 kilogran. Namun masuk usia bulan kedua, tanda-tanda penurunan kesehatan mulai nampak. Tumor yang tumbuh sejak usia 2 bulan harusnya bisa lebih awal tertangani. Tumor tersebut yang turut mempersulit kondisi kesehatan si bayi. (PRISKA BIRAHY)