Begini Cara Kerja Rapid Test Deteksi Covid-19 Dari Tracking di Maluku

by
Ini dia alat rapid test di UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Daerah Kota Ambon untuk uji sampel orang dari hasil tracking pasien positif, (14/4). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Alat rapid test digunakan sebagai tes cepat terhadap coronavirus disease 19 (Covid-19).  UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Daerah Kota Ambon salah satu yang menjalankan pengujian sampel darah dengan metode tes cepat. Lalu seperti apa cara kerjanya.

BACA JUGA : Temuan Pasien Covid-19 di Maluku Kini Banyak Tanpa Gejala

Saat ditemui di Laboratorum Selasa (14/4/2020) siang,  Kepala UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Daerah Kota Ambon, Wilson Teslatu menjelaskan hal itu. “Rapid test ini hanya untuk tes cepat. Hasilnya lebih cepat keluar. Nanti setelah itu baru ada tes selanjutnya yang swab. Itu dilakukan di lab berbeda,” kata Wilson kepada Terasmaluku.com.

Secara sederhana tes cepat ini seperti saat melakukan test gula darah. Orang yang hendak diperiksa, akan diambil sedikit darahnya dari salah satu jari. Darah itu lalu diteteskan pada lubang besar (buffer) pada pelat strip atau alat rapid test tersebut.

Seperti yang ditunjukkan siang tadi, pada labkes Ambon menggunakan perangkat rapid tets dengan merek Wondfo atau yang sama dengan yang digunakan di Jawa Barat. Petugas yang hendak lakukan uji dilengkapi dengan APD terstandar. Terdapat dua indikator keterangan. Yakni indikator huruf  ‘C’ berarti control line dan ‘T’ berarti test line.

Tunggu selama sekitar 15 menit untuk alat bekerja dan menunjukan hasil pada jendela indikator. Jika muncul garis hanya pada bagian control line (C) saja maka hasilnya non-reaktif. Namun jika ada garis muncul pada T dan C berarti sampel darah itu reaktif.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, dr. Meikyal Pontoh dalam beberapa kesempatan jumpa pers juga menegaskan dengan detil terkait acuan hasil dari rapid test. Hasil reaktif dan non-reaktif melalui tes cepat ini untuk mendeteksi respon tubuh terhadap virus berdasarkan antibodi yang terbentuk setelah terinveksi virus.

Loading...

Namun untuk memastikan keberadan virus itu sendiri dalam tubuh butuh yang namanya tes  PCR atau Polimerase Chain Reaction. Pengujian yang direkomendasikan WHO itu wajib dilaksanakan di laboratorium.

Walaupun dari keterangan Pontoh bisa jadi hasil tes cepat rapid test ini berupa ‘false positif’ dan ‘false negatif’. Jika ingin melakukan uji ulang, maka dibutuhkan waktu 10 hari dari uji yang pertama. Inilah yang kemudian dapat diteruskan untuk melakukan swab untuk kelajuntan tes di lab.

 

Selama pandemi, pengujian di labkes Kota Ambon disesuaikan dengan jumlah tarcking di lapangan. “Katong dapat alat dari provinsi dan jumlah terbatas. Biasanya dari hasil tracking, baru akan ketahun jumlah yang mau dites. Kalau habis berarti ajukan permintaan,” terangnya.

Pemerintah pusat mendatangkan 500.000 alat rapid test pada akhir Maret lalu. Alat itu kemudian disebar ke seluruh Indonesia. Akan ada penambahan akan jumlah sesuai kebutuhan. Karena itu di tingkat daerah penggunaan alat diupayakan tepat sasaran.

Wilson menjelaskan, setiap harinya ada tim tracking yang turun ke lapangan untuk mencari jejak kontak dari pasien positif. Jumlah orang dalam pelacakkan itu yang menjadi acuan permintaan alat rapid.

Jika hasilnya reaktif maka akan ada uji sample lanjutan di lab berbeda. Sampel-sampel dari Maluku kini sudah tidak perlu lagi dikirim ke Jakarta untuk pemeriksaan. Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas II Ambon yang merupakan jejaring laboratorium yang dintunjuk menkes sudah bisa menguji sejumlah sampel yang masuk tanpa antri panjang dan menghemat waktu. (PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *