Begini Cara Membuat Pupuk Organik Menggunakan Mikroba Efektif – EM4 (EFFECTIVE MICROORGANISME-4) Oleh : Sheny Kaihatu, SP

by
Membuat Pukup Organik Menggunakan Mikroba Efektif. FOTO : ISTIMEWA

Pupuk  sangat  dibutuhkan  oleh  banyak  orang  untuk  menambah  unsur  hara  bagi pertumbuhan tanaman.Anjuran penggunaan pupuk ataupun bahan lain yang sifatnya organik dimaksudkan  untuk  mengurangi  masalah yang  sekarang  timbul  akibat  dipakainya  bahan-bahan kimia yang telah terbukti merusak tanah dan  lingkungan. Salah satu contoh, penggunaan  pupuk kimia  akan  berakibat pada rusaknya struktur  tanah.

Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi mahluk hidup seperti pelapukan sisa-sisa tanaman, hewan dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pupuk organic mengandung banyak bahan organic daripada kadar haranya. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota (sampah).

Pupuk  organik padat  biasanya  dibuat  dengan  cara  pengomposan.  Pengomposan  secara alami terjadi, namun dalammenyediakan  kompos  secara cepat dapat dilakukan dengan cara pengomposan menggunakan mikroba terpilih yangberhasil diisolasi dari tanah atau yang disebut aktivator pengomposan. Aktivator pegomposan yang sudah banyakberedar antara lain PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec, SuperDec, AtoComp,  BioPos, EM4 , SUPERFARMatau menggunakan cacing guna mendapatkan kompos (vermicompost).

Pengembangan    pupuk   organik    menggunakan    teknologi    EM4   telah    banyak dikembangkan  di Indonesia.  Teknologi  EM4  adalah  teknologi  budidaya  pertanian  untuk meningkatkan  kesehatan dan kesuburantanah dan tanaman dengan  menggunakan  mikroba yang bermanfaat  bagi pertumbuhan  tanaman. EM4mengandung  mikroba –mikroba antara lain Lactobacillus, ragi,bakteri fotosintetik , Actynomycetes   dan jamurpengurai selulosa untuk  memfermentasi  bahan  organik  tanah  menjadi  senyawa  yang  mudah  yang  mudahdiserap oleh tanaman (Anonim,1995).

Kompos merupakan sisa bahan organik yang berasal dari tanaman, hewan, dan limbah organik yang telah mengalami proses dekomposisi atau fermentasi. Jenis tanaman yang sering digunakan untuk kompos di antaranya jerami, sekam padi, tanaman pisang, gulma, sayuran yang busuk, sisa tanaman jagung, dan sabut kelapa. Bahan dari ternak yang sering digunakan untuk kompos di antaranya kotoran ternak, urine, pakan ternak yang terbuang, dan cairan biogas. Menurut Crawford (2003), kompos adalah hasil penguraian  tidak lengkap dan dapat dipercepat  secaraartificial oleh  populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atauan aerobik (dalam Aryantha.dkk,2010).

Membuat kompos perlu mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebihcepat. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian airsecukupnya,mengatur aerasi, dan penambahan aktivator. Kompos digunakan dengan cara menyebarkannya di sekeliling tanaman. Kompos yang layak digunakan adalah yang sudah matang, ditandai dengan menurunnya temperatur kompos (di bawah 400 c).

Perwakilan Bank Indonesia Maluku bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Maluku melaksanakan Kegiatan Pelatihan Pembuatan Kompos dengan fermentasi Bio Aktivator dan Manajemen Kelompok Tani selama 2 (dua) hari 6-7 Oktober 2020 di Desa Ohoi Yafawun Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara pada klaster Wear But. Klaster Wear But, merupakan klaster Bawang Merah binaan Bank Indonesia (BI) sejak Tahun 2018. Komoditas Bawang Merah merupakan salah satu komuditas utama di Desa Ohoi Yafawun Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara. Setelah di bina dan di dampingi oleh Bank Indonesia selama 2 tahun, klaster ini sudah bisa menghasilkan produksi bawang merah untuk penanganan kebutuhan bawang merah di kecamatan Kei Kecil kabupaten Maluku Tenggara.

Untuk meningkatkan produksi dari budidaya bawang Merah diusahakan oleh Klaster Wear But, maka petani Bawang Merah berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk melakukan pelatihan, dengan tujuan mereka ingin menyelamatkan tanah yang sudah terus menerus diberikan pupuk kimia dan  bahwa klaster ini ingin memanfaatkan limbah-limbah pertanian yang ada disekitar lokasi tempat tinggal mereka.

Loading...

Kegiatan pelatihan pembuatan Kompos dengan Fermentasi Bio aktivator dan Manajemen Kelompok Tani diikuti oleh petani dan penyuluh sebanyak 30 orang dan dibuka langsung oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Ir. Felix Bonu Tethool) dan didampingi oleh Perwakilan Bank Indonesia (Bpk. Elly Thenu). Narasumber kegiatan pelatihan dari BPTP Balitbangtan Maluku (Sheny. S. Kaihatu, SP) dan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Maluku Tenggara.

Pembuatan  pupuk  organik  menggunakan  EM4 dengan kapasitas satu  ton menggunakan bahan dan alat sebagai berikut:

  • Bahan/Alat utama: Aktifator EM4, Jerami/ rumput/tanaman yang lain dipotong-potong sepanjang 5-10 cm, Dedak/ampas gergaji, Kotoran ternak kering (sapi, kambing atau ayam), Humus (lapisan tanah bagian atas berwarna hitam), Gula pasir, Air secukupnya, Mesin penjajah jerami rerumputan
  • Bahan/Alat penunjang : Cangkul, sekop, ember, plastik mulsa hitam dan alat penyiraman  air (hiter), Peralatan lain adalah paku, martil, dan gergaji. Kayu (papan atau rep) dan terpal untuk pembuatan  wadah

Tahapan pembuatan  pupuk organik kapasitas satu ton, terdiri atas:

1.           Membuat Media Pengomposan

  • Lokasi pengomposan, sebaiknya pilih tempat yang lembab, terlindung dari air hujan dan sengatan matahari langsung, Lokasi mudah dijangkau dan cukup luas.
  • Pembuatan tempat untuk pembuatan media, berupa kotak persegi ukuran ideal panjang 2 m, lebar 1 m dan tinggi 1 m dengan penutup di atasnya.
  • Buatlah kantung pengomposan dari plastik mulsa dengan ukuran yang menyesuaikan dengan media pengomposan.
  • Pada bagian bawah lubangilah kecil kecil, berguna untuk penyaringan air. Lubangi juga pada bagian samping untuk sirkulasi udara.
  1. Menyiapkan Bahan Baku Pupuk Organik
  • Siapkan bahan-bahan berikut: 800 kg jerami rerumputan atau sisa hijauan panen (dicacah/dipotong menjadi kecil ukurannya), 100 kg kotoran ternak yang telah kering, 50 kg dedak/serbuk gergaji, 50 kg humus
  • Larutan decomposer dibuat dengan melarutkan 1 botol larutan aktivator EM4 dicampur dengan 1 kg gula pasir ke dalam 10 liter air.

3.          Proses  Pengomposan

  • Dedak + tanah hitam masing-masing 50 kg dicampur jadi satu lalu dibagi menjadi 4 bagian, kotoran ternak juga dibagi 4 bagian. Cacahan jerami/daun kering juga dibagi atas 4 bagian.
  • Masukan sedikit tanah sebagai pelapis pada media pengomposan, kemudian cacahan daun/jerami kering dimasukkan, setinggi 25 cm. Setelah itu siram larutan bioaktivator, kemudian tambahkan diatasnya kotoran ternak 1 bagian dihambur merata. Tambahkan diatas lapisan kotoran ternak itu ampas gergaji 1 bagian. Lakukan langkah diatas sampai semua bahan habis.
  • Kelembaban dijaga pada kisaran 30-40%.
  • Terakhir, tutupi media dengan plastik / terpal dan tutup menggunakan penutup media rapat-rapat lalu biarkan selama 6 minggu. Perlu diingat, kontrol suhu fermentasi hingga maksimal 45o Apabila melebihi suhu tersebut, aduk dengan cangkul agar suhunya turun.

4.          Proses  Pengadukan Kompos

Proses pengadukan dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Gunakan sekop atau garpu rumput untuk menggali ke dalam bagian dasar di tengah-tengah gundukan kompos dan membalikkannya. Lapisan teratas haruslah dipendam dan kompos daun harus tampak segar dan basah pada bagian atas.
  • Pengadukan kompos di lakukan 3x per minggu, atau minimal dua kali tiap dua minggu agar cepat saat pengomposan atau memasak.. Jangan lupa untuk menutup media pengomposan dengan terpal atau plastik untuk menjaga panas di dalam gundukan kompos tidak keluar. Serta sesekali anda perlu menambahkan sedikit air, tetapi jangan banyak banyak karena dapat menyebabkan timbulnya jamur.

Setelah bahan menjadi kompos akan berwarna hitam, gembur, tidak panas, dan tidak berbau. Dalam kondisi seperti itu, kompos telah dapat digunakan sebagai pupuk organik.

Penulis adalah Peneliti BPTP Balitbangtan Maluku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *