Begini Harapan Keluarga WNA Penyelam dan Pencarian Lanjutan SAR

by
Kevin Scott saat keterangan pers terkait pencarian penyelam yang Hilang saat menyelam di Amahusu, (138). FOTO: Priska birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Pemerintah Kota Ambon telah menutup pencarian Carol Marie Laiken warga negara asing yang hilang saat menyelam sepekan lalu, Kamis (13/8/2020). Namun tetap ada upaya lanjutan sebanyak tiga kali jika ada tanda-tanda terang.

Hal itu diungkapkan saat Walikota Ambon Richard Louhenapessy bersama BASARNAS Ambon dan tim gabungan menggelar keterangan pers di Amahusu Kecamatan Nusaniwe Ambon, Kamis (13/8/2020). Pentupan pencarian itu ditempuh lantaran memang sudah tak ada lagi jejak kemunculan tubuh Carol di sekitar lokasi penyelaman.

Lokasi penyelaman yang tak jauh dari tempat parkir Yacht

Meski begitu dalam keterangan persnya, Kepala BASARNAS Ambon, Djunadi bakal meneruskan pencarian lanjutan dengan beberapa syarat. “Jika ada tanda- tanda setelah pencarian kita tutup maka akan dilanjutkan tiga hari lagi, tetapi jika tidak ada tanda maka dapat dilanjutkan tiga kali tiga hari sesuai SOP, ” katanya.

Walikota Ambon Richard Louhenapessy

Usai ini masih ada waktu pencarian tambahan yang dimaksud untuk membaca tanda-tanda alam dan kemungkinan temuan tubuh Carol. Tim gabungan itu akan kembali menyisir area lokasi penyelaman atau memperluas radius penyelaman. Hal itu dimaksud dengan dugaan tubuh korban terbawa arus hingga keluar dari zona penyelaman.

Loading...

Hal itu jelas cukup beralasan mengingat Djunadi secara terang menyatakan jika arus bawah laut cukup kencang saat kejadian dan dua hari pertama pencarian. “Hari pertama dan kedua pencarian itu arus kuat sekali. Selepas itu tenang sampai hari terakhir,” jelasnya.

Berdasar informasi cuaca BMKG, saat pencarian hari pertama dan kedua kecamatan arus bawah laut berada di anatar 1 knot – 4 knot. Untuk diketahui 1 knot sama dengan 1,85 kilometer per-jam.

Kevin Scott pasangan Carol yang selamat saat penyelaman juga membenarkannya. Kepada terasmaluku saat diwawancarai terpisah dia membenarkan soal arus. Bahkan saat penyelaman pun kondisi arus bawah laut sedang kencang-kencangnya.

Namun bagi penyelaman profesional bahkan sekaliber Carol yang sudah 20 tahun jadi instruktur selam tentu punya perhitungan matang dan tepat soal itu. “Saya menyelam 3 – 4 kali seminggu. Kadang cuaca hujan kadang panas. Cuaca jadi salah satu faktor. Bisa jadi airnya buram juga jerninh. Tapi kondisi saat kita pergi menyelam bagus,” terang Kevin.

Salah satu rekan penyelam yang juga penerjemahnya menyebutkan soal itu. Menurutnya mereka berdua sudah sangat familiar dengan situasi. Mereka hampir setiap pergi menyelam dan bukan yang baru sekali.

Di lain sisi pemerintah kota dan negeri juga mengupayakan agar ada pencarian cara alternatif atau dengan menggunakan ritual adat. Pasalnya ini merupakan kejadian kali pertama di Amahusu dan Ambon, tim membutuhkan waktu lebih dari seminggu menemukan tubuh penyelam.

 

“Saya terima semua pendekatan dan usaha untuk itu (pencarian, red). Tapi saya tidak tahu detil rencana itu saya tidak bisa berkomentar,” lanjut Kevin.

 

Walikota Ambon pada kesempatan yang sama menambahkan jika pihaknya telah mengetahui terkait usaha alternatif itu dari keluarga Carol di Amerika. Hanya saja saat berbincang dengan Kevin di lain kesempatan diketahui bahwa keluarga Carol telah ikhlas.

“Saya bicara dengan Kevin, Leila (Carol, red) berasal dari keluarga Kristen yang taat di Amerika. Karena itu live streaming keluarga berharap untuk mengikhlaskan kepergian almarhumah. Catatan kalau boleh jangan lagi gunakan upacara-upacara. Harapan kelurga. Kita hormati itu dan pertimbangkan,” tutup Richard. (PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *