Begini Keluh Kesah Penghuni Karantina Asal Italia di Ambon

by
Penghuni karantina Balai Diklat Kementerian Agama Provinsi Maluku yang dalam kondisi sehat saat mendapat kunjungan Plt. Kakanwil Agama Provinsi Maluku, Jamaludin Bugis, Selasa (31/3/2020). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Sebanyak 69 penghuni Balai Diklat Keagamaan Ambon dalam kondisi sehat termasuk merupakan WNA. Satu asal Prancis dan satu lagi asal Italia. Petugas kesehatan dan dinas terkait yang datang berkala telah memastikan kondisi warga yang dikarantina itu. Dari ketarangan kepala diklat, mereka yang dalam kondisi aman dan beridentitas Maluku dapat meninggalkan balai dengan minimal proteksi 1×24 jam dan paling lama 14 hari.

Beberapa penghuni juga sudah ada yang keluar. Dari data yang diperoleh di balai diklat terdapat 136 penghuni sejak Minggu (29/3/2020). Sebagian dari mereka suda ada yang keluar.  “Mereka ada yang memang pulang kampung, berasal dari Ambon, atau ada yang diminta langsung oleh perusahaan tempat dia bekerja dan dijamin,” ucap Kepala Balai Diklat Kementerian Agama Provinsi Maluku, Muis Riadi sore tadi (31/3/2020).

Sedangkan yang tersisa di balai hanya 69 orang. Mereka ini kata Muis dengan kondisi sehat dan ada yang menunggu jadwal kedatangan penerbangan atau kapal menuju ke lokasi yang mereka tuju sebelumnya.

Terdapat dua WNA yang telah dipastikan kondisinya ini belum bisa keluar. Saat diwawancarai mereka tampak tidak mendapatkan informasi yang jelas. Iriana, salah seorang WNA asal Italia mengaku tengah dalam perjalanan liburan ke Maluku. Dia tampak kebingungan lantaran tidak menerima informasi yang utuh.

Sejak datang dari Lombok menggunakan kapal dan tiba di Ambon pada Minggu malam, Iriana dan penumpang lain dipisahkan. Sebagian ditempatkan di Balai diklat Agama. Sesuai prosedur yang ditetapkan pemda Maluku mereka semua dicek kesehatannya dan dikarantina. Iriana tergolong yang sehat. Hal itu pun telah dikofirmasi oleh kepala diklat, bahwa mereka yang ada di sini sehat dan bisa dilepas (pulang).

Hingga kini dia masih berada di dalam balai. “Setelah berkeliling saya merasa Maluku yang paling aman tapi saya tidak tahu kalau ada proteksi seperti ini. Dan setelah sampai di sini saya di-lockdown,” ungkapnya.

Loading...

Dengan kondisi seperti ini, bisa berpotensi muncul masalah baru. Kepada wartawan dia mengatakan bahwa dia adalah seorang vegan dan punya alergi terhadap beberapa jenis makanan. Sementara selama dikarantina akses makanan yang sesuai dengan riwayat kesehatannya amat sulit dan terbatas. Sebab mereka tidak bisa leluasa keluar masuk balai begitu saja.

Pemda melalui tiap balai telah menyediakan makanan 3x sehari kepada semua penghuni. Jika ada kebutuhan lain, mereka hanya bisa menitip uang kepada petugas untuk dibelikan di luar balai.

“Saya pikir mereka tidak memikirkan hal ini dengan serius. Sebab jika saya makan apapun yang disediakan yang mengandung produk hewani, saya bisa alami beberapa reaksi. Seperti gatal-gatal, sensasi tercekik, sesak napas dan bisa saja mati karena makanan dan bukan virus corona,” keluhnya.

Dia berharap agar pihak berwenang dapat mempertimbangkan kondisinya dan memberikan kejelasan akan hal itu. Apalagi dia dan 68 orang lain punya kondisi yang sehat dan aman. Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, drg. Wendy Pelupessy saat dikonfirmasi mengenai status kesehatan penghuni balai diklat agama pun memberikan jawaban serupa.

Menurut Wendy, mereka yang ada di situ dalam kondisi baik. “Semua kondisi baik. Tetap ikut protap. Isolasi mandiri selama 14 hari,” terangnya melalui pesan singkat kepada wartawan. Sementara Kepala Gugus Tugas Penanganan dan Pencgahan COVID-19 Maluku, Kasrul Selang, saat dihubungi menjelaskan bahwa mereka yang berada di Balai Diklat Kementerian Agama Maluku dan punya identitas Maluku bisa langsung dilepas.

“Di tiga tempat itu hanya diisolasi pelaku perjalanan dari daerah yang sudah terpapar covid, harus diisolasi 14 hari, kalau mereka yang orang maluku, maka akan dilanjutkan saja perjalanannya ke lokasi masing-masing. Sedangkan kalau bukan orang Maluku harus isolasi 14 hari, meskipun tanpa gejala,” jelasnya melalui pesan singkat kepada wartawan.

Sementara itu terkait keluhan kesehatan alergi WNA, Kasrul menyatakan bahwa pihaknya akan mencari solusi khusus untuk Iriana. (PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *