Begini Pengakuan Pelaku Perjalanan Saat Jalani Karantina di Ambon

by
Aswardi Idris, Hakim Tinggi di Pengadilan Tinggi Maluku bersama istrinya menjalani masa karantina saat tiba di Ambon. FOTO : HUMAS MALUKU

TERASMALUKU.COM,-AMBON–Kebijakan karantina yang dilakukan Pemerintah Provinsi Maluku terhadap pelaku perjalanan yang baru tiba di Kota Ambon, dinilai sangat memuaskan.
Pengakuan ini disampaikan beberapa pelaku perjalanan yang saat ini menjalani proses karantina di Balai Pendidikan dan Latihan Pertanian (BPLP) Provinsi Maluku, Waiheru, Ambon, Sabtu malam (11/4/2020).

BACA JUGA : Ketua Harian Gugus Tugas COVID-19 Maluku Klarifikasi Soal Heboh Pasien Oma

BACA JUGA : Cegah CORONA, Diaspora Banda Naira Minta Gubernur Hentikan Pelayaran Kapal Pelni ke Banda

“Kita merasa nyaman karena untuk kesehatan bersama ikut saja standar yang ditetapkan. Apalagi bila kita tidak dikarantina sedangkan nanti di kantor berinteraksi dengan banyak orang. Kita tidak tahu kondisi sebenarnya tubuh kita sudah terjangkit atau bagaimana,” ungkap Aswardi Idris, seorang pejabat yang akan dilantik menjadi Hakim Tinggi di Pengadilan Tinggi Maluku.

Ia mengungkapkan dirinya bersama istri, Elita Saragih dua pekan lalu tiba di Ambon dari Medan, Sumatera Utara. Dengan tujuan akan dilantik, namun karena adanya pandemi Covid-19, akhirnya mereka harus menjalani proses karantina di BPLP. “Saya ke Ambon rencananya akan dilantik namun karena pandemi Covid-19 ini maka kami ikuti proses karantina dulu disini. Kami merasa steril dan tidak ragu kembali ke rumah,” bebernya.

Mantan Hakim di Pengadilan Negeri Medan itu juga menegaskan karantina membuat pihaknya merasa aman dan nyaman karena menghindarkan diri dan orang-orang dari penyebaran virus yang mematikan itu.

BACA JUGA : Hasil Lacak, Yang Terpapar Covid-19 Tidak Hanya Pelaku Perjalanan

Ia pun berharap agar pelaku perjalanan lainnya mau melakukan hal yang sama. “Kita merasa nyaman karena untuk kesehatan bersama ikut saja standar yang ditetapkan. Apalagi bila kita tidak dikarantina sedangkan nanti di kantor berinteraksi dengan banyak orang. Kita tidak tahu kondisi sebenarnya tubuh kita sudah terjangkit atau bagaimana,” terangnya.

Sementara itu, istrinya, Elita Saragih yang mendampingi juga menambahkan selama karantina mereka merasa tidak asing karena pelayanan petugas sangat memuaskan. “Petugas disini semua kooperatif. Kami ajungkan jempol untuk program Pemprov Maluku ini. Untuk itu saya juga menghimbau masyarakat bila untuk kesehatan bersama ikut saja kalau disuruh karantina karena lebih banyak manfaatnya,” himbau Elita.

Loading...

Malah ditambahkan, karena karantina yang dilakukan bersama suaminya maka hal ini juga membuat hubungan sebagai suami istri makin dipersatukan. “Saya pikir karantina ini tidak mengurungkan kami tapi mempersatukan kami berdua lagi, lebih erat, lebih dekat lagi,” ungkapnya.

Warga lainnya yang menjalani masa karantina di Ambon

Di tempat yang sama, Firman Pikalouhata, pelaku perjalanan dari Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan juga mengaku kalau upaya karantina yang dijalani ini adalah upaya untuk menghindarkan keluarga dan lingkungan dari Covid-19 dan upaya meyakinkan diri kalau bebas dari paparan virus dimaksud.”Kami kan datang dari luar takutnya berdampak kepada lingkungan sekitar, jadi kami memilih untuk tinggal disini, karena aman untuk lingkungan sekitar dan keluarga,” ujar Firman yang merupakan mahasiswa Program Magister, yang beralamat di Lorong Putri itu.

Dirinya juga msnghimbau agar masyarakat tudak menganggap enteng penyebaran virus ini, namun mendukung upaya pencegahan yang dianjurkan pemerintah dengan kesadaran sendiri.”Saya menghimbau kepada seluruh masyarakat Maluku yang datang dari luar daerah dan memiliki KTP Provinsi Maluku ataupun bukan orang Maluku untuk wajib dikarantinakan, karena itu lebih aman. Kami tidak sampai di rumah lagi tapi langsung dikarantinakan diantar orang tua dari bandara,” ujarnya

BACA JUGA : Maluku Tambah 9 Orang Positif, Jadi 12 Kasus Terkonfirmasi Covid-19

Hal senada disampaikan Ali Marasabessy yang telah ber-KTP Kota Makassar karena lama menetap disana.”Jadi sampai di Ambon ini memang kami tidak mau langsung ke rumah. Dari awal untuk karantina mandiri kita sudah membicarakannya sehingga tidak langsung ke rumah karena mempertimbangkan lingkungan sekitar, dan juga keluarga,”terangnya.

Pada kesempatan itu, Ali juga meminta bila keluar dari karantina karena tidak terjangkit Covid-19 agar Pemprov melalui dinas terkait dapat mengeluarkan keterangan yang menjelaskan kondisi kesehatan. “Yang kami minta dari sini adalah ketika kami keluar harus ada surat dari dinas agar bisa meyakinkan masyarakat sekitar bahwa kami sehat,”harapnya.

Ali juga menghimbau agar masyarakat mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap di rumah, menjaga jarak serta anjuran lainnya termasuk karantina diri. “Harapan kepada masyarakat khususnya anak muda marilah kita patuhi aturan yang sudah dikeluarkan pemerintah untuk mengkarantinakan diri ketika tiba dari daerah terpapar,” harapnya. (alfian/humasmaluku)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *