Belajar Dari Sejarah Untuk Mewujudkan Maluku Yang Sejahtera Oleh : Daniel L. Shindang, Aktivis GMKI Ambon

by
Daniel L. Shindang, Aktivis GMKI Ambon. FOTO : DOK. PRIBADI

Catatan historis menyisakan bukti-bukti bahwa Maluku adalah wilayah kepulauan dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah. Sejak zaman penjajahan, hadirnya bangsa-bangsa kolonial di Maluku salah satunya membawa misi perdagangan sekaligus menguasai dan meraup keuntungan. Peristiwa menarik yang tercatat dalam lembaran sejarah ialah untuk mengakhiri pertempuran antara Ingris dan Belanda, dikeluarkan Trakatat Breda yang salah satu isinya Ingris harus mengakhiri kekuasaan mereka di pulau Run, Kepulauan Banda, dan menyerahkan kepada Belanda. Sebagai gantinya koloni Belanda Nieuw Amsterdam di Amerika Utara (Sekarang Manhattan, New York) di Serahkan ke Ingris. Cerita singkat ini setidaknya membuka cakrwala berpikir bahwa Maluku sejak dulu terkenal dengan kelimpahan kekayaan alam. Buktinya cengki dan pala menjadi rebutan bangsa eropa sampai-sampai besar keinginan Ingris dan Belanda menduduki Pulau Run. Namun menjadi kenyataan bahwa hampir sebagaian besar hasil diambil untuk memperkaya kelompok penjajah dan kaum kapitalis.

Saya kira bagian akhir dari paragraf di atas bukanlah suatu justifikasi subjektif terhadap para penjajah dan kapitalis, karena fakta membuktikan bahwa Maluku miskin di tengah melimpahnya SDA. Sampai pada tahap ini pertanyaan reflektif bagi kita bersama ialah mengapa Maluku miskin, sementara SDA melimpah? Apakah kemiskinan Maluku ialah wujud kemiskinan strukturl ataukah karena masyarakat malas dalam mengelola SDA?. Jika kita kembali membuka rangkaian perstiwa yang terjadi kita akan menemukan bahwa wilayah Maluku sering kali menjadi lahan eksploitasi. Mengutip beberapa catatan dalam buku “Potret Orang-Orang Kalah, Kisah Penyingkiran Masyarakat Adat Maluku” kita akan menemukan bahwa.

Potret orang-orang Maluku telah menjadi korban tombak bermata tiga atau trisula yang ditusukan oleh duet modal dan kekuasaan politik. Ketika ujung tombak itu terdiri dari, pertama, investasi di Sektor ekstraaktif yang bertujuan menguras kekayaan SDA (Hutan, tambang dan laut) untuk akumulasi modal. kedua, Proses depolitisasi lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi rakyat demi pemusatan kekuasaan. ketiga, penjinakan para penghuni rimba atau para warga tempatan melalui pemaksaan nilai-nilai asing yang merusak, lewat agama-gama dunia atau sekuler. Duet antara kekuasan dan model yang menusukan tombak bermnata tiga pernah kita jumpai dalam kasus-kasus diseputaran wilayah Maluku seperti misalnya, masalah eksploitasi hutan di Aru, Yamdena, penyikiran suku adat Hualu, dan masi banyak lagi wilayah kepulauan Maluku yang dieksploitasi.

Loading...

Apakah pedang bermata tiga itu sudah berhenti ditancapkan diwilayah Maluku, ataukah duel modal dan kekuasaan telah berubah wujud dengan kemasan kesejateraan rahkyat. Jika kita ikuti perkembangan akhir-akhir ini. Maluku digemparkan dengan aksi demonstrasi yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat, salah satu kasus yang sampai saat ini tidak kunjung selesai ialah masalah Ilegal loging di Desa Sabuai, Kecamatan Siwalalat Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Saya tau betul Kecamatan Siwalalat karena daerah ini merupakan wilayah lintasan sewaktu Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2019.

Memang jika dilihat situasi dan kondisi disana masih jauh dari keadilan pembangunan, mulai dari sarana transportasi yang tidak memadai, fasilitas pendidikan, kesehatan, ekonomi bahkan media komunikasi yang masi terbilang sulit untuk beradaptasi dengan perkembangan 4.0 di saat ini. Masih banyak lagi masalah ketidak adilan yang disoroti oleh berbagai elemen masyarakat seperti, masyarakat Aru yang menuntut hak mereka terkait Lumbung Ikan Nasional (LIN), masyarakat MBD yang menuntut untuk wilayah MBD dimasukan sebagai wilayah terdampak dari aktivitas tambang Blok Masela yang direncanakan akan beraktivitas di Maluku. Saya tidak menduga bahwa aktifitas LIN dan Blok Masela masuk dalam nominasi duel modal dan kekuasaan dengan kemasan kesejateraan rahkyat, tapi saya turut mendoakan semoga aktifitas LIN dan Blok Masela dapat membawa kesejateraan bagi masyarakat Maluku yang miskin di tengah kekayaan alamnya.

Rangkaian catatan ini kiranya menjadi bahan refleksi untuk bersama-sama kita bangkit dan menata kehidupan, kerana percuma bila kekayaan alam kita melimpah, namun semuanya dicuri untuk memperkaya oknum-oknum tertentu. Untuk itu tiga catatan penting bagi kita ialah. Pertama, untuk mewujudkan kesejateraan bersama, mari kita belajar dari sejarah kelam, bahwa Maluku pernah dirampok hasil alamnya, kita pernah dibodohi dengan pembangunan dan kesejateraan namun nyatanya itu hanyalah janji manis politik. Dengan demikian perlu gerekan edukasi secara berkala untuk membuka pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga dan merawat SDA yang dimiliki agar tidak dicuri oleh duet kekuasaan dan modal. Kedua, pentingnya gerakan pemberdayaan masyarakat yang kreatif dan inovatif dalam mengelola sumber daya alam sebagai bahan yang bernilai ekonomis tinggi. Ketiga, Bersama-sama bangkit dan berpartisipasi dalam gerakan advokasi menyurakan keadilan dan hak-hak masyarakat yang tertindas demi terwujudnya kesejateraan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *