Benarkah Agama Adalah Candu Masyarakat ? Oleh :  Paul Jalvins Solissa

by
Paul Jalvins Solissa, Pendeta GPM. FOTO : DOK PRIBADI

Fenomena sosial kemasyarakat di masa kini sementara berada pada titik yang cukup memprihatikan terutama yang berkaitan dengan agama dan kehidupan umat beragama. Pada banyak situasi, kita melihat bahwa agam seringkali dijadikan sebagai “alat” untuk mengakomodir berbagai kepentingan individual atau kelompok tertentu. Agama dijadikan sebagai sebuah wadah untuk memuluskan keinginan dan kepuasaan pribadi semata.

Saya teringat dengan ungkapan “Die Religion… ist das Opium des Volkes” yang dinyatakan oleh Karl Marx, seorang sosiolog terkenal di Eropa sekitar abad ke 18 dan 19. Pernyataan ini diterjemahkan kedalam bahasa Inggris sebagai “Religion is the opium of the people” atau agama adalah candu masyarakat.

Adapun pemikiran Marx berangkat dari kenyatan bahwa para kaum elit penguasa  di Eropa pada waktu itu menggunakan agama untuk memobilisasi rakyat dalam memenuhi kepentingan mereka sendiri. Selain itu, Marx juga mengkritik kenyataan lain bahwa agam secara sengaja menggiring masyarakat (para pemeluknya) ke dalam sebuah ilusi kebahagiaan yang semu atas kenyataan hidup yang penuh diskirminasi, penindasan, ketidakadilan, sakit dan lainnya. Bagi Marx, pada titik ini agam mampu melemahkan semngat perlawanan kaum tetrindas terhadap kelas di atasnya yang bersifat opresif dan menjadikan mereka sebagai orang-orang yang kehilangan kekritisan dalam hidup.

Akhir-akhir ini, saya melihat kenyataan atau realita kehidupan masyarakat di masa kini sepertinya sementara terjebak pula pada kondisi ini. Orang-orang beragama saat ini, tampaknya sementara digiring kedalam sebuah keadaan “Opium” atas nama agama. Berbagai persoalan mulai dari politik, ekonomi, kesehatan, sosial sampai relasi-relasi personal selalu dikaitkan dengan agama. Bahkan tak jarang, agama dijadikan sebagai salah satu dasar pembenaran untuk menguatkan argumentasi-argumentasi mereka. Dalil-dalil keagamaan dijadikan senjata untuk memuluskan segala kepentingan sebagai kaum elit.

Loading...

Opini-opini yang mengutip sebagian ajaran-ajaran agamais dijadikan sebagai senjata untuk membenarkan berbagai hal yang dilakukan oleh beberapa elit atau sebagian kelompok masyarakat. Pada akhirnya kekuatan agama mampu memobilisasi masyarakat secara besar-besar untuk memuluskan berbagai kepentingan politik, ekonomi, sosial dll dari sebagian kelompok masyarakat itu. Karena dalil-dalil agama itu pula, sebagian besar masyarakat (yang adalah orang-orang beragama) kehilangan kekritisan mereka untuk mengkritisi berbagai bentuk ketidakadilan dan kesewenang-wenangan dalam kehidupan bermasyarakat. Lebih-lebih lagi jika mereka adalah kelompok masyarakat yang kecil, yang memiliki keterbatasan dalam banyak hal.

Sebagai orang beragama, saya setuju bahwa dalil-dalil agama bisa dipergunakan untuk menggiring masyarakat agar memiliki sifat dan sikap hidup yang baik, yang toleran, menghargai dan menghormati sesama, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang memiliki moral dan etika yang baik, yang memiliki perhatian terhadap pelestarian lingkungan hidup, yang mendorong para pemluknya untuk selalu kritis terhadap berbagai ketidakadilan dan penindasan dalam masyarakat dan sebagainya. Sebab untuk maksud itulah kehadiran agama benar-benar dibutuhkan dalam kehidupan ini.

Agama hendaknya mampu mengajarkan para pemeluknya untuk selalu kritis menyikapi berbagai bentuk ketidakadilan sembari tetap menjaga kaidah-kaidah etik moral dan toleransi dalam hidup ini. Sebaliknya jika agama secara sengaja dijadikan hanya sebagai “alat” untuk mengakomodir kepentingan pribadi dan kelompok tertentu maka agama tidak lebih dari sebuah candu bagi masyarakat. Jadi apakah benar agama adalah candu masyarakat? Tergantung kita memaknai pada titik mana agama (dan semua dalil-dalilnya) itu berada.
SALAM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *