Bendera Duka di Batang Dua, Surat Terbuka Untuk Presiden Jokowi, Oleh Pendeta Rudy Rahabeat

by
Rudy Rahabeat

Bapak Presiden yang kami kasihi !

Pertama-tama sebagai warga negara Indonesia kami menyampaikan Selamat Ulang Tahun Kemerdekaan ke-73 Republik Indonesia. Semoga bangsa kita makin sejahtera dan maju. Dan semoga Bapak Presiden ada dalam keadaan sehat, diberi hikmat dan kekuatan untuk memimpin bangsa yang besar ini.

Bapak Presiden yang kami hormati,

Di seluruh pelosok berkibar Bendera Merah Putih dengan gagah berani. Semua warga bangsa bergembira. Tapi tidak bagi 18 keluarga di sebuah pulau kecil di Timur Indonesia. Sudah hampir 7 hari mereka belum berjumpa dengan pribadi-pribadi yang mereka kasihi. 18 warga Indonesia asal Desa Mayau Kota Ternate Maluku Utara sejak Sabtu, 11 Agustus 2018 berlayar dengan sebuah kapal kecil dari Pelabuhan Bitung Sulawesi Utara ke Pulau Mayau di Maluku Utara. Jarak tempuh melalui laut 75 mil laut.

Sayangnya hingga detik ini 18 warga bangsa ini belum ditemukan. Apakah mereka telah tenggelam, hilang atau sedang terapung-apung di laut lepas. Kalaupun terapung-apung maka apa yang mereka makan setelah 6 hari berlalu. Dan kalaupun mereka terdampar di salah satu pulau maka mengapa belum ada khabar berita tentang nasib mereka?

Bapak Presiden Yang Kami Kasihi,

Kepada siapa kami harus bertanya dan mengadu? Kepada Tuhan itu pasti. Hingga malam ini umat di Mayau terus berdoa bahkan doa adalah senjata utama untuk memberi ketenangan di jiwa mereka yang sedih. Lalu bagaimana dengan negara? Bolehkah kami bertanya kepada negara dan kepada Bapak Presiden? Dapatlah membantu warga negara Bapak yang sedang dirudung duka di hari kemerdekaan bangsa kita?

Bapak Presiden yang kami hormati,

Melalui media sosial kami mengikuti sejauhmana negara hadir menolong warganya? Tim SAR, pemerintah daerah setempat bahkan Perusahan Tambang di Maluku Utara turut menunjukan solidaritas dengan melakukan pencarian via laut dan udara. Tapi hingga kini belum juga ada informasi pasti tentang nasib 18 orang warga bangsa yang “hilang” ini.

loading...

Bapak Presiden yang kami sayangi,

Apakah jumlah 18 warga negara itu terlalu kecil untuk bangsa yang besar ini? Apakah pulau kecil yang hampir tak nampak di peta besar Indonesia terlalu kecil untuk sebuah kebijakan negara?.Bahkan menetapkan status darurat atau duka bangsa bagi mereka?

Selama ini kami mengetahui Bapak Presiden sangat peduli dengan rakyat kecil (wong cilik). Bapak memberi perhatian bagi masyarakat di pinggiran bahkan Bapak rela melakukan apa saja untuk kebaikan warga negara ini.

Untuk itu, di hari bersejarah ini, ijinkan kami meminta belas kasih Bapak Presiden kepada 18 warga negara yang hingga kini belum ditemukan. Semoga Bapak dapat memberi perhatian khusus kepada keluarga mereka yang sedang bersedih. Dan kami yakin ini adalah “hadiah kemerdekaan” yang paling termulia di 73 tahun kemerdekaan bangsa kita.

Terima kasih Bapak Presiden atas kebaikan dan belas kasih dengan warga bangsa yang sedang berduka di ujung Timur Nusantara. Terima kasih atas kesediaan memberi uluran tangan kepada saudara-saudara sebangsa dan setanah air ini. Tuhan memberkahi Bapak senantiasa.

Semoga bendera hitam ini akan diturunkan dan sang Merah Putih terus berkibar dengan gagah berani di seluruh pelosok Nusantara.

Dari kami yang mencintai Indonesia ! (Pendeta Rudy Rahabeat, pernah melayani di Ternate Maluku Utara 2011-2014).

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *