BERAT Oleh : Dr Steve Gaspersz, Dosen Fakultas Teologi UKIM Ambon

by
Dr Steve Gaspersz, Dosen Fakultas Teologi UKIM Ambon. FOTO : DOK. PRIBADI

SAYA rasa itu kata multimakna yang tepat untuk menggambarkan situasi yang dihadapi oleh beberapa mahasiswa, terutama yang indekos. Beberapa dari mereka mengirim pesan bahwa perbekalan makanan dan keuangan kian menipis. Kiriman bahan makanan (sagu kering, sagu tumang, kasbi, kaladi, patatas, pisang dll) dan uang bulanan yang biasanya rutin dikirim oleh orangtua di kampung tersendat. Bahkan terhenti. Jasa transportasi antarpulau tak lagi selancar sebelumnya. Memang masih ada jasa transportasi yang beroperasi tapi dengan prosedur izin dan pembatasan penumpang yang lebih ketat.

Terima kasih untuk pemerintah daerah (provinsi dan kota) dan jemaat-jemaat sekitar kampus, serta beberapa keluarga baik hati yang telah memberikan bantuan bahan-bahan kebutuhan pokok makanan kepada para mahasiswa yang indekos di beberapa kawasan Kota Ambon. Semua itu memampukan mereka bertahan beberapa waktu lagi. Pulang kampung? Sebagian memilih demikian karena tidak mampu lagi bertahan dengan kondisi krisis pangan dan uang di kota ini.

Sebagian lain bersikukuh bertahan dan menawarkan “tenaga” untuk bekerja apa saja, seperti membersihkan selokan, membabat rumput pekarangan, mengecat rumah, memperbaiki bagian kursi, meja, atau bagian tertentu dari rumah yang rusak, membenahi instalasi listrik rumah. Apa saja yang bisa mereka lakukan demi bisa mendapatkan sedikit uang untuk mengganjal perut sehari-hari. Yang punya modal suara merdu dan bisa bermain alat musik sebelumnya biasa “ngamen” di kafe-kafe, tapi kini tidak lagi karena sepi pengunjung dan banyak yang tutup. Banyak keluarga ingin membantu mereka tapi mengurungkan maksud karena tidak ingin para mahasiswa tersebut keluar-masuk kampung atau rumah mereka. Untuk urusan perkuliahan saja sudah tidak diperbolehkan mengunjungi kampus atau rumah dosen. Semua harus “online”.

Loading...

Di situ mereka merasa berat. Terkungkung dalam kamar indekos sembari menahan perut yang nyeri karena tak terisi. Tidak ada makanan yang “online”. Semua perlu uang untuk membeli dan perlu bahan bakar untuk mengolah semuanya menjadi makanan siap santap. Bekal andalan beberapa hari ke depan hanyalah sedikit beras dan mie instan.

Tak semua seindah apa yang disebut “online”. Kuliah online. Ibadah online. Khotbah online. Rapat online. Nyanyi online. Karena untuk “online” itu butuh pulsa data (yang tidak gratis). Atau dengan sedikit nekat nongkrong tengah malam di dekat kampus untuk menggaet sinyal wifi gratis kampus. Itu pun tak bisa lama karena pasti akan ditegur oleh sekuritas kampus atau warga sekitar: “stay at home”, “work from home”, katanya. Begitukah? Bagaimana bisa betah di kamar indekos yang sempit dan sumpek tanpa bahan makanan? Apa yang bisa dikerjakan di indekos sedangkan untuk berbicara saja berjarak dan orang enggan menerima orang lain bekerja di rumahnya?

Tadi pagi, ada yang mengirim pesan: “Kami memutuskan untuk pulang kampung karena tidak mampu bertahan lagi. Sudah beberapa hari terakhir hanya makan bubur.”

Berat memang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *