Beri Orasi Ilmiah Dies Natalis Unpatti,  Kaliky : Mahasiswa Harus Punya Karakter

by
Dr. Pahrul Idham Kaliky, M.Si, memberikan orasi ilmiah dalam rapat senat terbuka Dies Natalis FKIP ke 56 di Student Center FKIP, Selasa (12/9). FOTO : ALFIAN (TERASMALUKU.COM)

 

TERASMALUKU.COM,-AMBON- Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan  (FKIP) Universitas Patimura (Unpatti) Ambon, Dr. Pahrul Idham  Kaliky,  M.Si, memberikan orasi ilmiah dalam rapat senat terbuka Dies Natalis FKIP ke 56 Tahun 2017, di Student Center Kampus itu Selasa (12/9).

Dihadapan guru besar FKIP, dosen dan mahasiswa, dosen muda berusia 36 tahun ini mengungkapkan, mahasiswa harus mempunyai karakter kepribadian yang baik untuk dapat mengembangkan Unpatti, khususnya FKIP. Namun karakter mahasiswa yang berbeda akibat faktor  budaya dan geografis di Maluku harus bisa dipersatukan di kampus.

“Pada prinsipnya kita melihat letak geografis Maluku berbasis pulau, jadi karakter budaya masing-masing daerah itu berbeda-beda. Tentunya dengan budaya itu mahasiswa dipersatukan di dalam kampus ini,” kata Kaliky saat orasi ilmiah itu.

Menurut Kaliky, dengan berbagai  perbedaan itu, untuk membangun karakter mahasiswa yang baik tentunya harus ditanamkan sebuah nilai tentang kebersamaan dengan menghargai perbedaan budaya yang ada di dalam kampus.  “Untuk tanamkan karakter mahasiswa dengan baik, kita harus saling menghargai perbedaan budaya yang ada di dalam kampus ini,” katanya.

Loading...

Menurut pandangan Kaliky, ada dua sisi yang dapat dipelajari oleh seluruh mahasiswa untuk dapat menghargai sebuah perbedaan. Yakni, sosiolinguistik kedaerahan  dan etnografi komunikasi. Sosiolinguistik adalah kajian interdisipilner yang mempelajari pengaruh budaya terhadap cara suatu bahasa digunakan. Dalam hal ini bahasa berhubungan erat dengan masyarakat suatu wilayah sebagai subyek atau pelaku berbahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi antara kelompok yang satu dengan yang lain.

Sedangkan etnografi komunikasi adalah salah satu dari sekian metode penelitian bidang komunikasi yang beranjak dari paradigma interpretative dan konstruktivis.Metode ini mengkhususkan diri pada kajian mengenai pola komunikasi yang digunakan leh manusia dalam suatu masyarakat tutur.

Menurut Kaliky, kedua sisi ini yang kemudian diterjemahkan dari sebuah tutur budaya bahasa yang berada pada masyarakat Maluku.  “Pada prinsipnya kita melihat dari sisi sosiolingustik kedaerahan dan etnografi komunikasi, kedua ini yang kemudian diterjemahkan oleh sebuah tutur budaya bahasa masyarakat di daerah,” kata peraih doktor komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung ini.

Ia herharap, kedepan mahasiswa Unpatti, khususnya FKIP dapat memiliki pemahaman dan kesadaran yang baik terkait perbedaan budaya, agama, adat istiadat yang dibawah oleh mahasiswa dari masing-masing daerah di Maluku. (IAN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *