BI Perkirakan Ekonomi Maluku di 2016 Makin Membaik

by
Keterangan pers BI Maluku Jumat (9/9)

AMBON- Bank Indonesia memperkirakan kondisi ekonomi Provinsi Maluku pada triwulan ke tiga nanti  makin membaik.  Kondisi ini didasari membaiknya perekonimian Maluku pada triwulan kedua.

Deputi Kepala Perwakilan Maluku, Andy Setyo Biwado menyatakan, terhitung sejak triwulan  kedua 2016, perekonomian Maluku tercatat tumbuh 6,48 persen secara tahunan atau meningkat, bila dibandingkan triwulan dua  pada  tahun sebelumnya, yang bertengger pada angka 5,52 persen.

Ia menyatakan, pertumbuhan perekonomian Maluku saat  ini tertinggi keenam di Kawasan Timur Indonesia.  Melajunya perekonomian Maluku ini, karena ditopang oleh tiga sektor ekonomi. Yakni sektor perikanan, kehutanan dan pertanian. Dari  sektor perikanan yang paling mendorong adalah produksi ikan tangkap.

“Bank Indonesia memprakirakan ekonomi Provinsi Maluku di triwulan  ketiga 2016 akan tumbuh menguat. Yakni pada rentang 6,5 – 6,9 persen, makin membaik,” kata Andy dalam keterangan pers kepada wartawan di Kantor BI Perwakilan Maluku, Jumat (9/9).

Andy menyatakan, dari sisi permintaan, peningkatan pertumbuhan diperkirakan masih akan ditopang oleh konsumsi Lembaga Non Profit melayani Rumah Tangga (LNPRT) dan investasi. Dia menyatakan, belanja LNPRT akan terus menguat seiring persiapan pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) lima kabupaten/ kota di Maluku   pada 2017 nanti.

Sementara investasi akan didorong oleh realisasi belanja pemerintah, termasuk melalui anggaran dana desa. “Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tersebut, maka diperlukan peran swasta yang lebih besar. Hal ini penting, karena pertumbuhan ekonomi ke depan akan menghadapi tantangan cukup besar dari sisi fiskal, yaitu berupa resiko pemotongan anggaran belanja pemerintah daerah lanjutan Kementerian Keuangan, khususnya DAU dan DAK,” kata Andy.

Dia menyatakan, Bank Indonesia saat ini terus mendorong kinerja investasi dengan melakukan bauran kebijakan moneter dan makro prudensial seperti, penerapan suku bunga kebijakan baru, penurunan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) dan peningkatan Loan to funding Ratio (LFR) bagi perbankan yang memenuhi syarat tertentu. DIT