Bintang Nutricia-AYODI Dongen Siswa di Pulau Syahrir Banda Naira

by
Staf Bintang Nutricia dan Komunitas Ayo Dongeng Indonesia (AYODI) tengah mendongeng siswa –siswi SD Kecil Pulau Syahrir, Pulau Banda Selasa (29/11)

BANDA_ Bintang Nutricia dan Komunitas Ayo Dongeng Indonesia (AYODI) menggelar dogeng kepada 24 siswa –siswi SD Kecil Pulau Syahrir Kecamatan Banda Kabupaten Maluku Tengah, Maluku Selasa (29/11). Dalam dogeng ini, Head of External Communications ELN & Nutricia Medical Indonesia, Fauziah Syafarina Nasution dan Ketua Komunitas AYODI Ariyo Zidni mendogeng siswa di hutan pohon pala tak jauh dari sekolah mereka, tentang pentingnya nutrisi dan gizi bagi ana-anak usia dini.
Cara ini diyakini dapat memberikan pesan kepada anak-anak agar suka mengkonsumsi sayur dan buah sehingga menjadi anak-anak yang sehat, kuat dan pintar di kemudian hari. Kegiatan ini dalam rangkaian Festival Pendidikan di Banda, dan rangkaian Festival Dogeng Internasional Indonesia (FDII) 2016. Fauzia menyatakan, salah satu kendala klasik pemenuhan kebutuhan gizi anak adalah kurang menyukai sayur dan buah, dengan alasan rasa tidak enak. Sehingga dengan dongeng ini dapat menjadi media pengajaran yang tepat mengenai pola hidup sehat dari dini, termasuk makanan bergizi seperti buah dan sayur. “Bintang Nutricia ingin menghidupkan kembali tradisi mendongeng dengan mempromosikan pola hidup sehat sedari dini baik bagi orang tua maupun anak-anak,” kata Fauziah, Selasa (29/11) di saat mendongeng di Pulau Syahrir.
Fauziah menyebutkan, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, sebanyak 37% anak Indonesia mengalami stunting. Bahkan, Indonesia masuk ke dalam daftar 17 negara dengan tiga masalah gizi serius, yaitu stunting, wasting, dan obesitas. Namun, masalah ini dapat diatasi salah satunya dengan pemenuhan gizi dan pola hidup sehat sejak awal kehidupan sehingga berdampak pada pertumbuhan dan kesehatan jangka panjang si kecil.
Pemenuhan gizi melalui pola hidup sehat sejak awal kehidupan merupakan tanggung jawab dari orangtua, untuk itu dalam pola asuh terhadap anak sebaiknya orang tua dapat memberikan contoh serta menggunakan medium yang tepat dalam pengajaran. Salah satu medium sederhana serta mudah dilakukan adalah dengan mendongeng atau bercerita. “Untuk itu menurut Fauziah, PT Nutricia Indonesia Sejahtera, melalui Bintang Nutricia dan komunitas Ayo Dongeng Indonesia ingin menghidupkan kembali tradisi mendongeng dengan memperkenalkan cara dan metode mendongeng yang baik dan unik untuk anak serta menumbuhkan fisik dan mental anak terutama yang terkait dengan nutrisi dan gizi anak,” katanya.
Fauziah menyatakan, Bintang Nutricia sudah melakukan penelitian sederhana terhadap pola makan anak-anak di PAUD binaan Bintang Nutricia, hasilnya anak lebih menyukai jajan seperti makanan yang manis ataupun gorengan. Dan hanya sedikit yang mengkomsumsi buah dan sayur setiap harinya. Melalui dongeng serta “itervensi’ pemberian buah, menunjukkan anak mulai mengkomsusi buah dan sayur setiap hari, termasuk di rumahnya. Kegiatan ini merupakan komitemen Bintang Nutricia agar anak-anak Indonesia itu masa depannya lebih kuat, lebih sehat, pintar agar mereka mendapatkan hidup yang lebih baik.
Ketua Komunitas AYODI Ariyo Zidni mengatakan, FDII 2016 yang merupakan festival dongeng bertaraf Internasional yang telah diadakan kedua kalinya di Indonesia, sebelumnya digelar pada tahun 2015. Kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan kembali akan pentingnya peran orang tua pada masa pertumbuhan anak melalui metode cerita atau dongeng. “Selain untuk mengangkat dongeng baik Indonesia, kami ingin menghidupkan kembali tradisi mendongeng dengan mempromosikan metode mendidik yang baik dan unik untuk anak serta menumbuhkan rasa cinta mereka terhadap Indonesia, termasuk tema yang beragam dalam cerita itu sendiri.”kata Ariyo Zidni. Bintang Nutricia juga memberikan bantuan uang dan peralatan sekolah kepada anak – anak sekolah yang diterima pelaksana tugas Kepala Sekolah SD Kecil Pulau Syahrir, Salasa Hatulelai.
Di hari yang sama, selain mendongeng, Haka Leka, sebuah LSM yang peduli pendidikan di Maluku juga memberikan bantuan peralatan, buku – buku sekolah dan buku ajar bagi anak –anak SD Kecil Pulau Syahrir.Pemberian paket bantuan ini, dalam rangkaian Festival Pendidikan Maluku. Sejumlah fasilitator tingkat nasional juga mengajarkan para siswa dengan mengambar, dan pendidikan sains.
Pemerintah selama ini tidak membangun SD di Pulau Syahrir, karena terbentur regulasi, jumlah siswa bersekolah dari pulau itu yang hanya 24 orang tidak memenuhi syarat dibangunnya sebuah SD. Bertahun-tahun, anak – anak di Pulau Syahrir atau biasa disebut Pulau Pisang ini bersekolah ke SD Negeri Desa Selamon, dengan menyeberang lautan menggunakan motor tempel sekitar 20 menit. Kondisi mereka sangat memprihatinkan, jika laut bergelombang mereka terpaksa tidak bersekolah. Pulau Syahrir ditempu dari Kota Naira, ibukota Kecamatan Banda sekitar 30 menit dengan menggunakan motor tempel. Atas kepedulian berbagai pihak, pada 2015 SD Kecil Pulau Syahrir pun didirikan. Gedung sekolah dibangun atas kepedulian sejumlah pihak serta pantungan warga setempat. Saat ini, anak –anak Pulau Pisang tidak harus bersekolah ke SD di Selamon, cukup di SD Syahrir di Pulau Pisang.
Bangunan sekolah SD ini hanya memiliki panjang delapan meter dan lebar lima meter. Pengelola membagi bangunan tersebut menjadi dua ruangan kelas, untuk mengajar para siswa. Di sekolah ini, hanya ada tiga guru honorer, termasuk Pelaksana Tugas Kepala SD Salasa Hatulelai. ”Kami berharap kedatangan aktivis peduli pendidikan ini dapat memberikan semangat bagi para siswa untuk giat belajar agar bisa bersaing dengan siswa di daerah lainnya. Selain itu kami harapkan, pemerintah membangun fasilitas sekolah seperti ruang belajar sehingga memberikan kenyamanan bagi siswa,” kata Salasa. (ADI)