Bumi Sebagai Saudara dan Tubuh Kosmis, Sekelumit Catatan Reflektif Religiusitas-Sosiologis Oleh : Pendeta Dr John Ruhulessin

by
Pdt John Ruhulessin

Berbagai krisis yang melanda bumi saat ini, bencana dan kerusakan lingkungan yang berlangsung di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia membutuhkan tanggapan yang serius, fundamental dan komprehensif, sehingga bumi dapat terselamatkan, terhindar dari krisis dan bencana yang lebih parah lagi. Idealnya, bumi mesti menjadi “rumah bersama” yang nyaman dan aman bagi semua ciptaan (manusia dan seluruh makluk hidup). Selain perspektif ilmu pengetahuan dan teknologi tanggap bencana, maka kita dapat belajar dan menggali dari berbagai kearifan budaya, religiusitas agama-agama serta analisis sosiologis yang dapat memberi solusi dan jawaban fundamental terhadap ancaman terhadap bumi. Berikut ini beberapa pikiran pokok yang bersifat reflektif religiusitas-sosiologis berkaitan dengan upaya-upaya antisipatif merawat dan menyelamatkan bumi, di antaranya :

1. Bumi Sebagai Saudara. Metafora ini merupakan kesadaran eksistensial tentang bumi bukan semata fenomena alam fisik-material, melainkan bumi dimaknai sebagai sesama ciptaan Tuhan yang mesti dihargai, dijaga dan dirawat. Bumi bukan hanya objek eksplorasi dan eksploitasi manusia, tetapi sebagai “saudara” bumi mesti diperlakukan dengan ramah dan penuh belas kasih. Kesadaran ini membuat manusia tidak menjadi serakah dan merusak bumi, sehingga menimbulkan berbagai bencana seperti banjir, tanah longsor, polusi/pencemaran lingkungan, dan sebagainya.

2. Bumi sebagai Tubuh Kosmis. Metafora ini memposisikan bumi sebagai bagian dari tubuh ciptaan yang maha Kuasa. Ibarat tubuh maka terdapat banyak anggota, seperti tangan, kaki, perut, dan sebagainya. Sebagai tubuh, maka seluruh elemen tubuh itu saling terikat dan saling melengkapi. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya turut merasakan sakit. Ketika manusia merusak alam, maka sesungguhnya ia sedang merusak dirinya sendiri. Hal itu membuat seluruh tubuh menjadi sakit dan menderita. Oleh sebab itu, langkah yang bijaksana adalah bersama-sama menjaga dan merawat tubuh itu agar tetap sehat dan produktif.

3. Pemahaman dan metafora bumi sebagai “Saudara” dan “Tubuh” dapat digali dalam agama-agama maupun kearifan lokal yang ada pada masyarakat di seluruh Nusantara. Teks-teks Kitab Suci memberi penekanan terhadap tanggungjawab manusia untuk menjaga dan merawat bumi, tidak merusak dan mengeksploitasi bumi secara tamak. Manusia dimandatkan oleh Tuhan Sang Pencipta untuk menghadirkan rahmat bagi seluruh ciptaan (rahmatan lil alamin). Demikian pula dalam kosmologi masyarakat di Nusantara terdapat pandangan dunia (worldview) yang ramah dan bersahabat terhadap alam.

Di Papua, misalnya tanah dimaknai sebagai “Ibu” atau “Mama”. Demikian pula di Maluku, dikenal istilah “Nusa Ina” yang artinya pulau Ibu. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat lokal telah memilih wawasan yang luhur tentang alam dan semesta ciptaan. Hal ini agar berbeda dengan pandangan masyarakat modern yang cenderung memposisikan bumi dan alam semata-mata sebagai sebagai objek yang dieskploitasi sewenang-wenang, yang kemudian menimbulkan bencana dan malapetaka terhadap manusia/masyarakat itu sendiri.

loading...

4. Untuk menemukan pemahaman dan pandangan masyarakat Nusantara yang ramah terhadap alam maka tentu studi dan riset sosiologi-antropologi menjadi sangat penting dan relevan. Studi dan riset yang mendalam akan membantu memberi peta dan pemahaman yang memadai terhadap berbagai pandangan dunia (kosmologi) masyarakat di Nusantara terkait bumi dan semesta ciptaan Tuhan. Studi dan riset sosiologi-antropologi menjadi relevan untuk menjadi masukan dalam membuat kebijakan-kebijakan yang bersifat utuh dan antisipatif agar bumi dapat terselamatkan. Kami yakin bahwa pendekatan untuk menghadapi bencana dan malapetaka krisis lingkungan akan lebih relevan jika dibangun berdasarkan realitas sosial-budaya masyarakat setempat, dan bukan memaksanakan pendekatan “dari luar dan asing” yang bisa saja malah makin memperparah keadaan.

5. Pendekatan lintas-agama dan kepercayaan. Di samping pentingnya studi dan riset sosiologi-antropologi tentang pemahaman dan pandangan masyarakat setempat (lokal) di berbagai wilayah di Indonesia dalam kaitan dengan bumi dan upaya-upaya pelestarian alam, maka pendekata lintas-agama dan kepercayaan juga merupakan hal yang penting dipertimbangkan. Agama-agama saling berkolaborasi dan bersinergi dalam menjaga dan merawat bumi. Agama-agama juga terbuka untuk menginspirasi berbagai pihak untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan memberi penyadaran kepada manusia agar tidak menjadi tamak dan merusak alam ciptaan Tuhan ini. Dalam kaitan ini pemerintah pusat maupun daerah dapat bersinergi dan berkolaborasi dengan agama-agama untuk menjadikan isu lingkungan sebagai salah satu isu fundamental dalam pembangunan bangsa dan negara.

Demikian beberapa pikiran pokok yang dapat disampaikan untuk dipertimbangkan ke depan, berkaitan dengan langkah-langkah kebijakan yang bersifat strategis, fundamental dan komprehensif dalam rangka menjaga dan merawat bumi sehingga tetap menjadi “rumah bersama” yang aman dan nyaman bagi semua ciptaan.

Terima kasih !

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *