Bunuh Diri Bisa Dicegah Jika Kita Lebih Peka Dan Peduli Oleh : Boby Parinussa, Pendeta GPM

by
Boby Parinussa, Pendeta GPM. FOTO : DOK.PRIBADI

ANGKA kematian dini akibat bunuh diri di kota Ambon akhir-akhir ini tergolong cukup tinggi, dalam dua tahun terakhir saja kurang lebih sudah 13 orang yang mengakhiri hidupnya lebih cepat di tali jemuran, kabel antena, dan tali yang lain. Tindakan ini sebenarnya dapat dicegah jika keluarga, masyarakat, pemerintah gereja, maupun agama-agama lebih peduli.

Pertama, kita perlu sepakat dulu faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tindakan bunuh diri tidak berawal dari sebuah kekosongan lalu tiba-tiba orang bunuh diri. Pasti ada sesuatu yang melatarbelakangi sesorang memilih untuk bunuh diri. Tidak ada faktor tunggal yang melatarbelakangi seseorang untuk memilih bunuh diri. Ada beberapa penyebab seseorang sampai pada keputusan untuk bunuh diri.

Penyebabnya pun bisa bergam; seperti maslah keluarga (broken home), faktor ekonomi; seperti hutang-piyutang yang belum terlunasi, tidak ada penerimaan di lingkungan sosial sekitar yang mengakibatkan seseorang bisa depresi, bullyng, dll. Di mana seseorang tidak terintegrasi dengan baik dengan lingkungan sekitar maupun dengan keluarganya, yang mengakibatkan terjadi kesedihan, kehilangan, dllsbnya.

Jika kita menemukan beberapa gejala-gejala di atas sebaiknya kita lebih peka untuk berbagai beban dengan mereka lewat sharing/maupun bersedia mendengar curahan isi hati mereka. Selama proses pendampingan hindari menceramahinya secara berlebihan dan lebih memposisikan diri sebagai pendengar yang setia. Kenali status Wa, IG Story, Facebook yang mengarah pada status-status yang putus asa. Seperti; “ingin memeluk bintang”, mati itu enak atau kah tidak”, “Tuhan tolong beta jua”, tidak semangat untuk hidup dllsbnya.

Beberapa contoh status di atas sudah terbukti dalam beberapa kasus bunuh diri yang bersangkutan meluapkan perasaan yang dirasakan lewat sebuah status singkat, maupun pesan-pesan singakat yang disampaikan lewat beberapa temannya. Hal ini seharusnya menjadi peringatan bagi kita, agar kita lebih peka mengenali gejala-gejala yang mengarah pada tindakan bunuh diri. Sebab, manusia itu adalah sebuah dokumen yang hidup yang mempunyai beragam persoalan hidup yang kompleks. Kita perlu merasa empatik dan sedikit masuk di dalam dunianya mereka, agar kita bisa mengetahui sebenarnya apa yang sedang terjadi. Ketimbang selalu menyinyir mereka dengan stigma; tidak punya iman, labil, gila, dllsbgnya.

Kedua, Peran Keluarga. Peran keluarga untuk mencegah tindakan bunuh diri sangatlah krusial. Sebab, dalam keluarga ada ikatan-ikatan emosional antara ayah, ibu, dan anak-anak. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Apa jadinya jika orang tua tidak memposisikan dirinya sebagai guru, sombar, penyemangat dan motivator. Ada begitu banyak contoh kasus keluarga-keluarga kita akhir-akhir ini, orang tua tidak memposisikan dirinya lagi sebagai pengayom. Orang tua hanya sibuk bekerja seharian dan hanya memberi uang jika anak-anak meminta jatah untuk jajan. Akhirnya aspek pengayoman; berupa nasehat, bimbingan, ibadah-ibadah binakel bersama keluarga, semakin dilupakan. Yang penting aspek material terpenuhi dan disatu sisi melupakan aspek spritual yang harus dibangun bersama-sama dengan anak-anak.

Di tengah dunia yang sudah dikepung oleh internet ini, tentu mempunyai plus dan minusnya. Kelebihannya kita bisa mendapatkan banyak informasih yang bermanfaat. Tapi kekurangannya kita kehilangat waktu produktif bersama keluarga jika tidak mengatur waktu dengan baik. Dalam keluarga-keluarga kita hari-hari ini, yang ditinggali oleh ayah ibu dan anak-anak kita menemukan masing-masing lebih asik sendiri dengan handphone pintarnya lalu kurang peduli dengan sesama yang ada di dalam rumah. Kita bisa saja tinggal dalam satu atap, tapi tanpa sadar ada yang terhilang dan terluka dalam keluarga tersebut.

Loading...

Akhirnya, ketika ada masalah, keluarga bukan lagi menjadi pondasi untuk bertahan. Keluarga bukan lagi sebagai tempat untuk menceritakan beban hidup yang dirasakan. Karena ada gap yang besar sehingga kita sulit mengenali jika ada anggota keluarga yang mempunyai persoalan hidup yang berat. Disini kita melihat bagaimana seseorang yang mengalami depresi; kehilangan kehangatan bersama keluarganya. Hal ini seharusnya bisa dikenali sejak dini agar tindakan bunuh diri tidak terulang kembali.

Ketiga, Peran Gereja. Tentu peran gereja dirasa sangat penting dalam mengenali dan mengamati anggota jemaatnya yang berpotensi mengambil tindakan yang mengarah untuk bunuh diri. Hari-hari ini dalam dua tahun terakhir menunjukan yang meninggal bunuh diri merupakan warga gereja. Delapan orang remaja yang bunuh diri di Jemaat Tawiri, 1 orang remaja yang bunuh diri di Jemaat Bere-Bere, Salah Satu Anak Kos yang merupakan anggota Jemaat aktif di Rumah Tiga, seorang supir yang gantung diri di Gunung Nona. Dan masi banyak lagi yang belum terdata. Dalam beberapa kesempatan berdiskusi via Watshaap dengan Dosen Fakultas Teologi UKIM, Steve Gasperz, yang juga sedang meneliti tentang persoalan ini, Steve mengatakan; di jemaat-jemaat kita tidak mempunyai pemetaan sosial yang serius mengenai kondisi sosial-ekonomi warga jemaat yang berdampak pada terabaikannya pendampingan kepada remaja dan pemuda. Beta mengamini apa yang dikatakan Dosen fakultas teologi ini. Sebab, selama ini dirasa di jemaat-jemaat kita lebih menekankan pada pelayanan-pelayanan yang kental dengan ritualistik maupun formalisme bergereja.

Jika pemetaan sosial/Ekonomi bisa dilakukan, tentu kita mempunyai data untuk mengenali keluarga-keluarga mana saja yang anggota keluarganya bermasalah. Dampak-dampak dari keluarga yang perekonomiannya rendah tentu berimbas pada ketahanan dan keseimbangan hidup. Di sini gereje perlu hadir untuk menjumpai mereka. Gereja tidak hanya hadir pada saat-saat kunjungan akhir tahun. Majelis-majelis pendamping di setiap unit perlu mengamati anggota unitnya yang mengalami depresi, selanjutnya menginformasikan kepada pendeta jemaat agar dapat didampingi.

Teman-teman AMGPM juga di ranting-ranting bisa mengemati teman-tamannya yang menunjukan gejala-gejala yang mengarah pada tindakan bunuh diri supaya bisa didampingi. Bukankah itu tugas gereja dalam menjumpai domba-dombanya yang terhilang dan terluka. Gereja mesti mempunyai visi seperti Yesus, sebab Yesus adalah kepala dari gereja. Visi itu tertuang dalam Lukas 19:10; Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang. Ketika Yesus datang mencari yang terhilang; apakah sebagai gereja kita sudah berupaya semaksimal mungkin mencari dan merangkul mereka yang terhilang?

Keempat, Peran Pemerintah. Penyebab angka bunuh diri semakin meningkat juga karena faktor kemiskinan dan pengangguran. Tidak pernah ada orang miskin tapi tetap bahagia. Menurut WHO (Global Health Estimates 2019), usia yang mengalami kematian terbanyak akibat bunuh diri adalah usia 20 tahun, disusul oleh 25 dan 30 tahun. Jumlahnya lebih tinggi terdapat pada mereka yang berpendapatan rendah atau yang berada di bawah garis kemiskinan.

Untuk mengatasi kemiskinan itu dibutukan peran pemerintah secara serius. Membuka lowongan pekerjaan, mengembangkan ekonomi kreatif yang melibatkan pemuda. Di Kota Ambon juga banyak bakat-bakat terpendam yang tersalurkan lewat komunitas motor. Hanya saja komunitas ini lebih terarah pada balap liar di malam minggu. Pemerintah bisa membuat lomba Gubernur Cup atau Wali Kota Cup secara intens agar bakat-bakat anak-anak remaja dan pemuda bisa tersalurkan dijalur yang benar. Dengan begitu bakat mereka bisa tersalurkan, dan paling tidak bisa menekan angka bunuh diri. Karena mereka disibukkan dengan aktivitas yang produktif.

Penulis : Bobby F. Parinussa, Pdt. GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *