Cara Seru Belajar Sejarah Pada Pameran di Lapmer Ambon

Cara Seru Belajar Sejarah Pada Pameran di Lapmer Ambon

SHARE
Pengunjung pameran di lapangan merdeka Ambon bisa Belajar sejarah melalui teknologi digitalisasi di layar hape. FOTO: PRISKA BIRAHY

TERASMALUKU.COM – Digitalisasi sejarah Indonesia merupakan terobosan dan cara anyar mempelajari sejarah dengan asyik tanpa ribet. Bila capek harus membaca cerita sejarah, kini pengunjung tinggal memindai gambar berbasis augmented reality (AR) lengkap dengan suara.

Seperti pada foto-foto yang ada di pameran bersama ‘Sejarah dan Budaya’ di Tribun Lapangan Merdeka (lapmer) Ambon siang tadi (6/11). Berbekal aplikasi pada hape sistem operasi android, pengunjung sudah bisa mendengar cerita di balik gambar tersebut.

Memang belum semua gambar di spanduk bisa dipandai. Baru beberapa gambar saja yang ada tanda target hitamnya. “Ini cara baru yang bikin nggak ribet. Pengunjung tinggal scan aja langsung muncul gambar bergerak dan suara,” jelas Firman Nur Chaliq preparator Museum Perumusan Naskah Proklamasi di sela sela pameran, Selasa (6/11/2018) siang.

Menurut Firman, itu merupakan inovasi pertama yang dibikin pihaknya. Mereka juga sebagai pionir digitalisasi museum di Jakarta. Tujuannya sederhana, untuk memudahkan pengunjung yang tidak mau ribet atau malas membaca.

Sebab ada tipe pengunjung yang mau menikmati cerita sejarah sendiri tanpa bantuan pemandu. Nah, mereka-mereka inilah yang jadi salah satu target dibuatnya digitalisasi itu.

Hal yang sama coba dibawa pada pameran bersama tiga instansi di Ambon kali ini. Jadi, pengunjung tinggal memindai gambar menggunakan aplikasi pada hape. “Kita download dulu aplikasi SIJI lalu tinggal scan dari aplikasi itu di hape. Ada suaranya juga, jadi lebih mudah memahami sejarah,” jelasnya sambil mendemokan penggunaan aplikasi berbasis AR itu kepada wartawan. Kini digitalisasi museum telah diterapkan pada tiga museum nasional di Jakarta.

Harapannya, dapat memudahkan pengunjung menerima informasi sejarah secara menarik tanpa bosan. Memang cara itu baru berlaku pada museum-museum di Jakarta. Namun bukan tak mungkin dapat diaplikasikan pada museum daerah seperti di Museum Siwalima Ambon. Siapa tahu, trik tersebut mampu mendatangkan pengunjung lebih banyak dan luas. Tidak hanya pengunjung PAUD dan Taman Kanak-Kanak (TK) tapi juga anak muda. (PRISKA BIRAHY)

loading...