Catatan Jelang Sidang Klasis GPM Pulau Ambon Timur Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Pendeta Rudy Rahabeat

GEREJA merupakan bagian dari masyarakat. Bersama dengan agama lainnya dengan pemerintah serta elemen lainnya turut membangun kehidupan publik yang sejahtera. Dengan demikian, gereja tidak hanya aktif dalam kegiatan ritual-serimonial dan internal namun turut terlibat dalam persoalan-persoalan sosial, termasuk persoalan kebangsaan. Peran dan partisipasi gereja di ruang publik merupakan bagian dari artikulasi keberadaannya, termasuk pada aras klasis.

Minggu (24/3/2017) Klasis GPM Pulau Ambon Timur mengadakan Sidang ke-7 di Jemaat GPM Pandan Kasturi Tantui Ambon. Sebuah iven gerejawi yang bertujuan mengevaluasi program tahun sebelumnya, memutuskan program-program dan anggaran setahun serta rekomendasi lainnya. Klasis sendiri merupakan organisasi level tengah (middle structure), antara Jemaat dan Sinode di Gereja Protestan Maluku (GPM). Klasis Pulau Ambon Timur dengan ketua Pdt Daniel Wattimenalla, M.Si dan Sekretaris Klasis Pdt. Ketty Hetaria-Bakarbessy, M.Th.

Melalui sidang gerejawi diharapkan muncul program-program yang mendinamisir eksistensi jemaat-jemaat serta masyarakat, khususnya di pulau Ambon, salah satu pulau utama di Maluku. Energi positif para pelayan dan umat akan disinergikan menjadi kekuatan transformasi keagamaan maupun sosial-publik.

POHON MASALAH

Selama manusia dan masyarakat ada, maka tetap ada masalah yang muncul. Masalah-masalah tersebut menyangkur relasi manusia dengan Sang Pencipta, relasi manusia dengan manusia (sesama) maupun manusia dengan alam semesta. Relasi-relasi tersebut mesti terus diperkuat sebab tantangan dan ancaman yang dihadapi saat ini tidaklah ringan. Pada level relasi manusia dengan Sang Pencipta, terkadang hanya berlangsung secara formal dan statistikal. Orang-orang tercatat sebagai warga gereja dan umat beragam, namun aktifitas keagamaan seperti ibadah-ibadah belum tentu dijalankan secara teratur.

Pada level relasi antar sesama manusia, terkadang masih muncul konflik dan relasi-relasi yang retak karena masing-masing pihak merasa diri lebih utama dari yang lain. Demikian pula pada level relasi manusia dengan alam, terkadang karena sifat superior terhadap alam, maka alam dieksploitasi secara semena-mena sehingga menimbulkan bencana alam, seperti banding bandang yang terjadi akhir-akhir ini.

Proses identifikasi masalah menjadi penting, sebab belum tentu kita dengan tepat dapat merumuskan masalah yang benar-benar masalah. Umumnya, analisis yang digunakan adalah membuat analisis pohon masalah (problem tree). Dengan analogi pohon, maka yang dicari adala akar (root) masalahnya. Dengan begitu program dan kegiatan menyasar akar masalah tersebut. Fakta menunjukan bahwa seringkali akar masalahnya tidak ditangani, yang ditangani justru akibatnya, bukan sebabnya. Ada juga yang saat membuat pohon, proses “naik”nya begitu bersemangat sehingga lupa “turun”. Akhirnya tidak menemukan akar masalah yang sesungguhnya.

Sebagai contoh aktual masalah Sopi yang sedang viral saat ini. Apa sebetulnya akar masalahnya. Apakah soal produksinya atau distribusi atau konsumsinya. Apakah ketika sopi digunakan sebagai medium dalam prosesi adat itu bermasalah? Demikian pula apakah duduk masalah ada pada para legislator yang tidak tanggap terhadap persoalan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada usaha pohon mayang, aren, koli tersebut. Apakah pandangan moral agama itu merupakan akar masalah ataukah ada hal-hal lain yang perlu diteliti lebih mendalam. Dengan kajian lintas-ilmu dan lintas-aktor tentu akan ditemukan solusi yang tepat terhadap masalah Sopi tersebut.

MEMBANGUN HARAPAN

Pendekatan Apreciative Inquiry (AI), memberi aksentuasi terhadap hal-hal positif yang dimiliki sebuah masyarakat atau kelompok keagamaan. Ibadat air setengah di dalam gelas. Orang yang menggunakan AI yang menyebutkan itu sebagai “gelas setengah penuh”, sebaliknya, orang yang pesimis akan menyebutkan “gelas setengah kosong”. Dengan asumsi setengah penuh, maka ada optimisme bahwa terdapat peluang untuk membuat gelas itu menjadi penuh, dan kemudian bermanfaat bagi banyak orang.

Klasis GPM Pulau Ambon Timur, merupakan klasis baru yang dinamis. Jemaat-jemaatnya mengalami akselerasi dan perkembangan yang cukup cepat. Bertambahnya jemaat-jemaat baru maupun pertambahan jumlah anggota jemaat merupakan salah satu indikatornya. Demikian pula proses penantaan kelembagaan, penataan peningkatan sumber daya manusia yang sistematis, serta respons terdapa persoalan-persoalan sosial budaya berbasis jemaat merupakan hal-hal positif yang perlu terus didorong dan dikembangkan.

Klasis yang jemaat-jemaatnya berada di Kecamatan Baguala dan Kecamatan Leitimur Selatana ini terus bersinergi dengan pemerintah baik pada level negeri maupun kecamatan serta kota. Tipikal jemaat-jemaat yang beragam, seperti jemaat di pusat ekonomi (seperti Paso), jemaat di perbukitan seperti Rutong, Leahari dan Hutumuri maupun jemaat-jemaat relokasi seperti Benteng Karang dan Waringin Pintu Halong. Tipikal jemaat-jemaat ini membutuhka pendekatan yang spesifik, sekaligus perlu sinergi dan kolaborasi yang berkelanjutan.

Demikian pula dalam membangun relasi lintas-agama, khususnya dengan Basudara Muslim tentu merupakan agenda yang menarik. Pdt Daniel Wattimanella yang menulis tesis tentang relasi Islam-Kristen di Maluku Tengah, khususnya Waai dan Tulehu menjadi salah satu referensi yang penting untuk meletakan relasi-relasi tersebut pada level teoritik maupun praksis.

Kenapa demikian? Sebab GPM yang memperkenalkan diri sebagai “Gereja Orang Basudara” memiliki salah satu tipikalitas unik yakni keragaman agama, khususnya Islam-Kristen (Salam-Sarane). Ketika sinergi dan kolaborasi terus ditingkatkan maka ada optimisme untuk sebuah masa depan bersama yang sejahtera. Bukankah agama-agama terpanggil untuk mewujudkan kesejahteraan bersama itu? Selamat bersidang Klasis GPM Pulau Ambon Timur. Tuhan Memberkati !

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *