Catatan Jelang Sidang Klasis GPM Pulau Ambon Utara Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Rudy Rahabeat

Esok, Minggu, 31 Maret 2019, Klasis GPM Pulau Ambon Utara melaksanakan sidang klasis ke-7 bertempat di Jemaat GPM Poka. Sebagaimana Klasis Pulau Ambon Timur, Klasis Pulau Ambon Utara adalah buah pemekaran klasis Pulau Ambon. Dengan begitu, di pulau Ambon ada tiga Klasis ditambah Klasis Kota Ambon menjadi empat.

Klasis Pulau Ambon Utara yang jemaat-jemaatnya tersebar mulai dari tanjung Allang hingga Negeri Lama ini merupakan jemaat-jemaat yang terus bergeliat merespons perubahan di berbagai dimensi kehidupan.

Menurut Pdt Herry Siahay, Ketua Majelis Jemaat GPM Poka yang menjadi tuan dan nyonya rumah persidangan klasis kali ini, selain penggunaan kertas sehemat mungkin (paperless) tetapi juga penggunaan bahan plastik, seperti gelas plastik air mineral misalnya. Panitia mengupayakan agar material yang digunakan dalam sidang Klasis dapat menjadi lebih efesien dan efektif serta ramah lingkungan.

Selain itu, tentu saja Klasis yang dipimpin oleh Ketua Klasis Pdt Abraham Beresabby dan Sekrataris Klasis, Pdt Ella Effendy-Usmany ini terus menata dan mengembangkan pelayanan pada tiga pilar pelayanan yakni, keumatan, kelembagaan dan pelayan. Tentu saja kiprah Klasis di tengah-tengah masyarakat akan terus dioptimalkan dari waktu ke waktu.

TIGA ISU TEMATIK

Merujuk pada Sub tema pelayanan GPM tahun 2019 yakni “Memuliakan Tuhan dengan bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan untuk kesejahteraan masyarakat dan keutuhan bangsa”, maka ada tiga konsep kunci yang selanjutnya mesti diterjemahkan dalam program pelayanan Klasis. Pertama, meningkatkan kualitas pendidikan. Hal ini menegaskan betapa pentingnya pendidikan dalam kehidupan bergereja maupun bermasyarakat saat ini dan ke depan . Dengan pendidikan yang berkualitas, kita dapat bersaing di tengah dinamika perubahan yang kian mengglobal.

Gereja terpanggil untuk mendorong proses pendidikan, baik dalam arti pendidikan formal, pendidikan non formal maupun pendidikan informal. Oleh sebab itu, kita perlu membuat program yang bertujuan meningkatkan kapasitas dan skill umat dalam berbagai sektor. Misalnya, dalam kerjasama dengan Dinas Tenaga Kerja atau Badan Diklat yang dapat meningkatkan skill jemaat di bidang otomotif, montir, ekonomi kreatif, IT, dan lain sebagainya.

Hal yang kedua adalah kesejahteraan masyarakat. Gereja ada di tengah-tengah masyarakat. Oleh sebab itu, apa yang dilakukan gereja tentu berdampak kepada masyarakat. Tentu saja, berdasarkan Analisis Sosial (ANSOS) yang kita lakukan sebagai bagian utuh alur kerja Renstra Klasis dan Jemaat, maka ada berbagai persoalan kemasyarakatan yang mesti kita jawab melalui program-program pelayanan.

Salah satu masalah klasik yang digumuli gereja dan masyarakat saat ini adalah masalah kemiskinan. Kemiskinan adalah lawan dari kesejahteraan. Jika masyarakat miskin maka tentu ia tidak sejahtera. Oleh sebab itu, kiranya melalui program-program yang telah dilaksanakan oleh Jemaat selama ini, dan pada tahun ini memberikan aksentuasi yang besar kepada aspek kesejahteraan maka tentu saja akan menjadi kontribusi penting gereja bagi masyarakat.

Hal yang ketiga yakni Keutuhan Bangsa. Di sini sebagai warga gereja sekaligus warga negara, kita terpanggil untuk menjaga persatuan dan keutuhan bangsa ini di tengah ancaman radikalisme, terrorisme dan paham-paham ekstrim. Gereja terpanggil menjadi garam dan terang dunia, termasuk bagi bangsa Indonesia yang kita cinta bersama ini.

ANAK DAN GENERASI MILENIAL

Selain itu, penting pula memberi perhatian dan aksentuasi kepada anak-anak dan pemuda, yang disebut sebagai “generasi milenial” dengan akses terhadap teknologi informasi berbasis internet serta media sosial. Di era digital ini kita tidak mungkin mundur ke belakang, ke jaman pra sejarah. Kita harus bisa memanfaatkan segala kemajuan yang ada secara kritis dan kreatif. Jangan menggunakan media sosial untuk menyebar hoaks dan kebencian serta hal-hal negatif, tetapi gunakanlah untuk mencerdaskan masyarakat dan membangun solidaritas kemanusiaan demi kebaikan bersama.

Fokus pada anak dan generasi milenial menandakan kepekaan terhadap konteks sosial saat ini. Anak-anak menjadi kelompok rentan terhadap tindak kekerasan dan pengabaian. Pada sisi lain, mereka merupakan generasi penerus yang perlu mendapat perhatian dan dukungan semua pihak. Demikian pula para pemuda yang dikategorikan sebagai generasi milinial perlu mendapat perhatian dan dukungan penuh dari gereja sehingga mereka dapat mengembangkan potensi dan talenta yang dimiliknya demi hari esok yang lebih cerah.

Dalam sinergi dan kolaborasi dengan pemerintah, agama-agama serta stakehoders lainnya diharapkan pelayanan Klasis turut berdampak bagi kemajuan dan masa depan yang lebih baik. Tak ada pilihan lain, diperlukan kreativitas dan inovasi dalam merespons tiap perubahan, dan tentu saja tetap mengandalkan kasih, kuasa dan rahmat Tuhan. Selamat bersidang Klasis GPM Pulau Ambon Utara. Teruslah menjadi berkat bagi gereja, masyarakat, bangsa dan negara. Salam kasih.