Catatan Kecil di Awal April Oleh : Joberth Tupan, Alumni Fakultas Teologi UKIM

by
Joberth Tupan, mahasiswa S3 UKSW Salatiga. FOTO : DOK PRIBADI

BEBERAPA  catatan reflektif sejauh pemahaman dan pengalaman Beta yang sangat terbatas. Catatan ini Beta buat berdasarkan respons masyarakat kota Ambon mengenai pandemi COVID-19. Bagi Beta pribadi, penting menghubungkan pengetahuan umum tentang COVID-19 dan tradisi lokal untuk menjadikan diri sebagai disease citizenship (penyakit warga) di kalangan masyarakat sipil kota Ambon.

Pertama. Sebagian besar informasi mengenai pandemi COVID-19 diperoleh melalui media massa online. Informasi yang diperoleh sebagaimana kasus COVID-19, PDP yang sembuh, mortalitas, bahkan upaya pencegahan telah menjadi teks ingatan (mnemotext). Teks ingatan tersebut memproduksi imajinasi, sehingga memunculkan segala hal yang agaknya paradoksal. Di satu sisi muncul optimisme agar pandemi ini segera berakhir. Namun di sisi lain, keraguan juga muncul karena berbagai upaya pencegahan tidak selalu berjalan mulus. Mengapa demikian? Karena sebagian besar atau mungkin keseluruhan masyarakat sipil non-medis di kota Ambon tidak memiliki dan mewarisi ingatan sebagai warga yang pernah mengalami pandemi, sehingga tidak sepenuhnya siap menjalankan protokol pencegahan.

Kedua. Oleh sebabnya, kecerdasan spiritual dirasakan penting untuk mencegah pandemi COVID-19. Kecerdasan spiritual merupakan keyakinan terdalam manusia untuk mensejahterakan diri, sekalipun di tengah pandemi COVID-19. Peran media massa online membantu untuk mengaktifkan naluri menjaga kesehatan – mencuci tangan, menjaga jarak secara fisik, mengkonsumsi vitamin, dan mandi – kemudian nalar untuk menghindari kerumunan serta melakukan karantina mandiri di rumah, dan nurani agar saling berempati. Performansi kecerdasan spiritual tersebut dirasakan penting untuk memutus rantai pandemi COVID-19 bagi sebagian orang – kendati sebagian yang lain mengabaikan kecerdasan spiritual karena kebutuhan mendesak.

Ketiga. Situasi tersebut kontributif bagi formasi proyek identitas di kalangan masyarakat kota Ambon. Kemunculan beragam kampanye #dirumahsaja di media sosial kemudian diterima baik oleh sebagian orang atas dasar kesehatan, dan ditolak pula sebagian orang atas dasar sumber nafkah. Kontradiksi antara kesadaran diri terhadap penyakit dan kebutuhan ekonomi yang mendesak mewarnai fenomena pandemi COVID-19, yang diperdebatkan dalam media sosial.

Sekali lagi Beta katakan bahwa fenomena di tengah pandemi COVID-19 memunculkan proyek identitas, yaitu clicktivist. Clicktivist muncul sebagai proyek identitas, dipengaruhi oleh narasi, realita sosial, dan legitimasi atas teritorial. Para clicktivist yang bergerak di ruang virtual muncul dengan naskah, drama, dan panggung yang beragam untuk mempengaruhi audiens. Secara kuantifikasi terdapat 50% clicktivist mendukung protokol pencegahan versi pemerintah, 30% mempersoalkan kebutuhan sosial-ekonomi, 20% menginginkan lockdown, dan 10% menyebarkan konten-konten positif untuk menghindari rasa takut.

Loading...

Keempat. Perdebatan di kalangan masyarakat sipil tersebut terus berlangsung di ruang publik fisik maupun virtual. Dengan demikian diperlukan solidaritas. Dapat dikatakan bahwa solidaritas bersifat korespondensif. Selain membantu menyampaikan informasi secara santun dan etis, solidaritas juga diperlukan untuk mencari keselarasan berujung solusi dari berbagai perdebatan. Di Maluku, solidaritas muncul dengan wajah beragam; (1) melalui peran pemerintah dalam pengadaan fasilitas cuci tangan; (2) secara mistis melalui ajakan merebus telur, serta berbagi telur untuk direbus kendati latar belakang peristiwa itu adalah Hoax; (3) secara mutual melalui sikap saling memberi bantuan secara materiil, saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan, saling mendoakan mereka yang sehat, sakit, dan telah sembuh, dan saling berbagi informasi, dan; (4) secara performatif melalui lagu, puisi, dan lainnya. Solidaritas tidak hanya berwujud fisik melainkan imajiner sebagaimana telah dijelaskan. Solidaritas muncul untuk meminimalisir praktik-praktik partikularisme, tetapi juga menjadi penting bagi terwujudnya keadaban manusia.

Kelima. Pandemi COVID-19 berdampak bagi tidak diberlakukannya ritual keagamaan, terkhususnya kegiatan ibadah di rumah-rumah ibadah. Situasi tersebut didorong risiko penyebaran yang cepat pada saat masyarakat berkerumun. Pemerintah kota Ambon mengimbau seluruh umat beragama di kota Ambon untuk sementara tidak melakukan ibadah di rumah-rumah ibadah sampai keadaan sepenuhnya kondusif. Peran sentral tokoh-tokoh lokal yang mengambil langkah tegas untuk menghindari penularan, kemudian memberhentikan kegiatan ibadah dirasakan bermanfaat. Situasi tersebut diterima baik oleh sebagian besar umat beragama.

Dalam konteks ini, manusia menjalani masa transisi dengan meninggalkan rutinitas ibadah konvensional, tetapi tidak meninggalkan persekutuan dan keimanan. Bertolak dari pengalaman Beta mengikuti ibadah Minggu kemarin, fase liminal kemudian muncul pada saat kami selaku jemaat harus duduk di rumah masing-masing, sambil mendengarkan pendeta setempat berkhotbah dan berdoa menggunakan Toa – kendati tidak terbiasa dengan keadaan tersebut. Liminalitas dalam ritual ibadah menghubungkan kondisi separasi – yang saat ini dilakukan melalui ibadah di rumah-rumah – ke proses reintegrasi imajiner – mengembalikan imajinasi persekutan tidak sebatas ritual di gedung gereja. Namun nilai penting yang harus dimaknai bersama oleh umat beragama adalah sakralitas persekutuan, dan mengembalikan tradisi rumah sebagai axis mundi – tampa sombahyang.

Bertolak dari kelima catatan yang telah dipaparkan, Beta berkesimpulan bahwa, setelah ini muncul disease citizenship di kalangan masyarakat kota Ambon – yang tanggap serta terampil mencegah wabah penyakit. Mengapa? Karena telah memiliki ingatan bersama, mampu mengaktifkan kecerdasan spiritual, terjadi formasi proyek identitas di era kekinian, memiliki solidaritas kendati mistis sekalipun, dan terpenting sebagai umat beragama adalah memaknai sakralitas persekutuan.

Demikian catatan kecil beta. Selamat memasuki Bulan April. INGAT PANDEMI COVID-19 BUKAN APRIL MOP!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *