Catatan Webinar Pasca Teologi UKIM Oleh : Rudy Rahabeat, Moderator Webinar

by
FOTO : RUdy Rahabeat

GEREJA-gereja dan agama-agama pada umumnya mesti menjadi kekuatan perajut solidaritas inklusif untuk menolong jeritan kemanusiaan saat ini terkait pandemi kovid 19. Selain gerakan membantu mereka yang rentan secara ekonomi, mengalami kecemasan dan krisis psikologis, serta terpapar hoaks yang berpotensi melemahkan imun tubuh dan sosial, maka gereja dan agama-agama juga mesti bergerak pada level advokasi kebijakan publik yang memastikan keselamatan masyarakat. Peran advokasi lembaga keagamaan menjadi penting dan urgen agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan, termasuk mendukung pemerintah untuk konsisten dan total menolong rakyat melalui berbagai program dan kebijakan yang diambil.

Selama lebih kurang 180 menit atau tiga jam berlangsung seminar online yang dihelat oleh Program Pascasarjana Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon, Kamis 11 Juni 2020. Dihadiri hampir seratus peserta dari Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Makasar, Sulawesi Tenggara, Toraja, Medan, Jakarta, Yogyakarta dan Salatiga. Tiga narasumber mengisi webinar tersebut masing-masing; Dr Martin Sinaga, dosen tamu STT Jakarta dan STFT Driyakara Jakarta, Dr Paulus Koritelu, Ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah Maluku, yang juga dosen Sosiologi FISIP Universitas Pattimura, dan Rachel Iwamony, Ph.D, Direktur Pascasarjana Teologi UKIM. Ketiga narasumber memberi perspektif teologi sosial, sosiologi-antropologi dan eklesiologi terhadap tema seminar “Ale Rasa Beta Rasa, Gereja dan Solidaritas Sosial di Era Covid 19”.

Dr Martin Sinaga menyebutkan bahwa “Ale ras beta rasa” merupakan modal sosial kultural orang Maluku yang harus dirawat dan dikembangkan di era pandemi saat ini. apa yang beta (saya) alami turut dirasakan ale (kamu) sebagian suatu kesatuan solidaritas sosial. Hal saling peduli, saling berbagi dan menopang, merupakan hal yang sangat penting dan urgen saat ini. Lies Marantika-Mailoa menekankan pentingnya pendampingan bagi masyarakat yang tarpaper kecemasan dan tekanan psikologis akibat menghadapi pandemic kovid 19 ini. Olehnya upaya-upaya pastoral konseling pastoral mesti diperkuat.

Loading...

Seorang peserta dari Papua mencontohkan gerakan-gerakan solidaritas sosial yang dilakukan gereja-gereja di Papua, seperti membangun pokso covid, menggalang aksi berbagi bantuan ekonomi, dan sebagainya. Aksi-aksi seperti ini juga dilakukan di berbagai tempat, termasuk di Gereja Protestan Maluku yang ada di Provinsi Maluku dan Maluku Utara. Pendeta Rantau Siregar peserta dari Gereja Protestan Sulawesi Tenggara (Gepsulta) menyarankan agar frasa “ale rasa beta rasa” dikontekstualkan menjadi “ale sehat beta sehat”.

Sri Alem Sembiring, peserta dari Medan melihat bahwa gerakan berteologi kontekstual membutuhkan negosiasi antara aturan gereja  dengan ranah politik yang disesuaikan dengan dinamika sosial politik. Ia melihat bahwa gereja-gereja sangat akomodatif atas nama humanism demi keselamatan umat. Pendapat ini selaras dengan pandangan Rachel Iwamony yang menegaskan bahwa hakekat panggilan gereja adalah menghadirkan kebaikan bagi semua ciptaan, termasuk memperkuat solidaritas. Selanjutnya Iwamony menyarankan agar masyarakat dapat menggunakan media sosial sebagai saluran komunikasi dan media pastoral yang memperkuat daya imun umat dan masyarakat. Sebab berbagai berita yang bercampur hoax dapat menambah beban dan masalah dalam masyarakat. Olehnya, literasi dan edukasi media sosial menjadi penting juga.

Selain bergulat dengan penguatan solidaritas yang bersifat horissontal antar sesama warga masyarakat, maka perlu juga menopang dan mengkritisi tugas-tugas negara atau pemerintah dalam mengatasi pandemi kovid 19 ini. Dr Paulus Koritelu melihat pentingnya peran gereja dan agama-agama dalam melakukan advokasi kebijakan publik. Gereja perlu menopang pemerintah, termasuk memastikan bahwa berbagai bantuan yang diberikan kepada masyarakat itu sampai pada sasaran yang tepat serta keselamatan masyarakat menjadi prioritas.

Yohanes Parihala, Sekretaris Program Pascasarjana Teologi UKIM yang bertindak sebagai host pada Webinar ini menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen programnya untuk berpartisipasi dalam persoalan aktual saat ini. Ia menyebutkan bahwa Webinar ini akan berlangsung secara serial dengan tema-tema yang aktual dan menarik. (RR)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *