Cerita Ambon Vintage Bike Reborn, Bikin Kamping Sepeda Sampai Berburu Rongsokan

by
Camping bike, agenda baru Komunitas pesepeda Ambon Vintage Bike Reborn ajar anggota cek kekuatan dan kebersamaan di jalan, (29/4). FOTO: Istimewa

TERASAMLUKU.COM,AMBON, – Tipikal jalan kota Ambon yang landai dengan beberapa ruas menajak sepertinya melahirkan banyak pesepeda. Salah satu yang pernah diliput Terasmaluku.com tahun lalu yaitu Ambon Vintage Baike. Yang kini bersolek menjadi Ambon Vintage Bike Reborn.

Aktivitas mereka masih sama seperti komunitas sepeda lain. Tiap Rabu dan Minggu ada agenda rutin gowes di jalan dalam kota dan diakhiri dengan berkumpul.

Namun belakangan ada agenda baru AMVBR yang menarik. Kalau biasanya anak pecinta alam atau yang jiwa bertualang kamping di alam, kali ini justru sepedanya yang kamping. Namanya camping bike. Eits… tapi bukan hanya sepedanya. Si pemilik sepeda pun turut serta.

Yang bikin seru, untuk sampai di lokasi kemah atau kamping, para anggota AMVBR harus bersepda puluhan kilometer. Lokasinya ada di Desa Mamala Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah. Atau berjarak lebih dari 20 kilometer dari pusat kota Ambon.

Untuk menuju ke sana dengan sepeda hanya butuh waktu tak sampai dua jam. Nah lain cerita dengan komunitas satu ini.

Mereka menghabiskan waktu hampir seharian untuk sampai di lokasi kemah. “Dengan jarak ini katong bersepeda dari pagi sampai sore. Santai, yang penting kompak. Seng boleh ada yang kasi tinggal,” celetuk Hedi Safari salah satu anggota.

Ada sekitar 13 anggota. Masing-masing membawa sepeda mengayuh menuju kabupaten Maluku Tengah. Semua barang keperluan kamping sampai bongkar pasang sepeda digotong sendiri. Hedi punya latar belakang seorang mekanik. Boleh dibilang salah satu yang terbaik urusan bongkar, pasang, bikin sepeda.

Bekal ini yang jadi kemujuran. Dalam perjalanan, ban sepeda anggota pecah dua kali. “Di jalan itu ban sepeda pecah dua kali. Di tanjakan Natsepa dan Waai. Katong seng ada mobil perbantuan. Ini dia menariknya berhenti semua katong kerjakan sendiri sampai jadi, baru jalan,” celetuk Decho, pemilik Miyata 941 Neo retro.

Anggota lain sudah pasti menunggu sampai semua pekerjaan tuntas. Lelah sudah pasti. Mengayuh sepeda vintage dari kota ke kabupaten, tragedi ban pecah dua kali jadi alasan kenapa perjalanan kamping ini memakan waktu lama.

Namun mereka justru sumringah saat bercerita ulang kejadian itu. Bagi AMVBR tak penting tujuan, kebersamaanlah yang utama. Itu dibuktikan saat mereka harus menunggu anggota lain dengan speed rendah. Yang terpenting, kata Decho, tiba sama-sama.

Saat sesi wawancara beberapa waktu lalu, mereka membawa serta sepeda-sepeda kebangaan. Sepintas kalau dilihat tak ada yang beda. Mungkin, kesan vintage yang melekat di kepala awam tentu bentuk sepeda jadul, dengan keranjang di depan. Atau rangka dan warna badan sepeda.

Justru sebaliknya. Disebut vintage sebab rangka atau body sepeda yang berumur minimal di atas 25 tahun. Sepeda-sepeda itu mereka dapatkan ada yang secara utuh lewat pembelian online, kolpri alias koleksi pribadi. Atau build-up dari rangka sepeda lama yang mereka peroleh usai perburuan.

Anggota Ambon Vintage Bike Reborn berpose bersama sepeda lawas kebanggaan, (29/4)

“Jadi katong jalan keman-mana mata lihat kiri kanan. Ke tempat loak, sampai ke rumah orang itu ada sepeda lama. Katong lama di jalan itu juga karena om Eno liat ada kecil main sepeda lawas,” beber Alfian Bahrudin, ketua AMVBR.

Alfian becerita, mereka sempat berhenti beberapa waktu di sebuah rumah. Mata Eno tak sengaja melihat sepeda lawas yang sedang ditumpangi seorang anak. Sontak dia berhenti untuk melihat sepeda tersebut. Lalu diikuti anggota lain.

Di Ambon yang masih minim komunitas sepeda, adalah gudang harta karun khusus bagi para penggila barang vintage. Sepedap lawas -seperti Wimcycle- masih bisa dijumpai. Baik yang berfungsi maupun yang berakhir jadi barang rongsokan.

“Katong berburu sepeda sampai di tempat rongsokan. Bahkan nayris mau jadi besi tua, katong beli. Di lapak online harganya sampe puluhan juta. Kemarin katong dapat 300 ribu. Itu serunya berburu,” Aku bapak tiga anak itu.

Kota Ambon menjanjikan banyak ‘harta karun’. Rangka rangka rongsok nyatanya jadi barang yang paling dicari. Alfian dan para anggota kerap berburu. Perlu ketelitian dan terutama soul. Jika tidak, perburuan rangka atau sepeda lawas akan berakhir sia-sia. Memang butuh perjuangan. Mulai dari berburu hingga proses restorasi.

Eno atau Mang Encum, anggota dengan keahlian khusus. Dia spesialis pengecatan. Mengecat sepeda vintage bukan perkara mudah meski tidak begitu sulit.

Teknik pewaranaan yang tepat, pencampuran warna, ketelitian dan kualitas cat amat menentukan jiwa sepeda. Apalagi warna-warna sepeda vintage berciri tidak menor dan lembut. Ditambah sedikit campuran agar berkesan lawas.

Jika ingin membuat sepeda dari rangka bekas itu artinya Eno perlu pastikan teknik hingga warna presisi. “Sekarang su lengkap. Dari mekanik sampai spesialis cat ada. Kalau mau bikin sepeda su gampang. Jadi kalau ada yang belum punya sepeda tinggal konsultasi,” Katanya yang juga dikenal sebagai builder motor vintage.

Kebetulan di komunitas ini ada yang belum memiliki sepeda. Sambil mulai mengembangkan kecintaan, para anggota lain saling memberi masukan soal sepeda. Termasuk membimbingnya hingga mendapat sepeda vintage yang pas.

Menurut Alfian syarat bergabung tidak mesti Punya sepeda. Yang utama adalah kebersamaan dan jiwa. Toh jika berjodoh, selalu ada jalan yang membawa kita pada sepeda yang tepat. (PRISKA BIRAHY)