Cerita Dari Bumi Saka Mese Nusa, Catatan PESPARAWI Oleh Pendeta Rudy Rahabeat   

by
Rudy Rahabeat. FOTO. DOK. Pribadi

EMPAT  Tahun yang lalu di tanah ini, Kota Piru Seram Bagian Barat (SBB) berlangsung Musabaqah Talawatil Quran (MTQ) dan hari ini (Minggu, 19 November 2017),  Pesta Paduan Suara Gerejawi (PESPARAWI).

Sebuah tanda persaudaraan yang mesti diukir dengan tinta emas”. Itulah prelude khotbah pembukaan yang disampaikan Pdt John Ruhulessin di hadapan 2.177 peserta dari 11 kabupaten kota yang akan mengikuti 10 mata lomba.

Bumi Saka Mese Nusa, moto Kabupaten SBB yang artinya, “Mari Jaga Tanah Ini Baik-baik” masih seturut sang pengkhotbah merupakan tanah yang diatasnya nilai-nilai persaudaraan dan kebersamaan lintas agama dan suku harus terus diperkuat.

PESPARAWI menjadi ajang memperkuat dan memperkokoh kerukunan antar umat beragama, seperti ditandaskan Gubernur Maluku Said Assagaff  pada acara pembukaan, Minggu 19 November 2017. Dari sini pula Bupati SBB Yasin Payapo mengamini ide menjadikan Maluku sebagai laboratorium kerukunan umat beragama.

Saka mese nusa seturut catatan etnografis antropolog Dieter Bartels merupakan salah satu situs budaya yang diyakini sebagai pangkal tolak masyarakat Maluku Tengah hari ini termasuk Ambon dan Lease. Jadi acara ini sebetulnya membawa mereka kembali pulang ke rumah primordialnya, Nusa Ina.

Loading...

Tak heran jika Dirjen Bimas Kristen Kementrian Agama RI Prof Dr Thomas Pentury turut hadir selain kapasitasnya sebagian Ketua Umum PESPARAWI Nasional tapi genealogi sebagai anak negeri Sakamesenusa turut memberi aura sakralitas di tanah leluhur ini.

Rasanya kita perlu kembali menilik sejarah dan spirit awal diadakannya PESPARAWI. Tentu tak sebatas lomba tanding antar peserta lomba tapi tentu ada motif dan visi yang jauh lebih mendasar dan luhur. Dengan begitu ia tidak menjadi ajang mencari juara umum, sebab semua peserta yang datang adalah juara. Piala atau Beker mesti dilihat dengan kacamata iman sehingga itu bukan tujuan.

Sebab seperti pesan khotbah pembukaan; PESPARAWI mesti dimaknai sebagai apresiasi terhadap karunia roh, sarana pengucapan syukur dan media mendeseminasikan nilai-nilai kehidupan seperti kasih, persaudaraan, toleransi dan kebaikan.

Olehnya tema “Aku mau menyanyi dengan Roh dan akal budiku” menjadi alarm bahwa bukan prestasi duniawi yang hendak diraih tapi spirit dan jalinan kasih persaudaraan lebih luhur ketimbang sebuah piala yang diarak sepanjang jalan (kenangan). Dengan begitu tak perlu terjadi salah paham apalagi konflik segala. Biarlah semua tetap gembira dan sukacita. Semua adalah pemenang (bdk. Roma)

Selamat bernyanyi tentang persaudaraan dan toleransi. Tentang hidop orang basudara, laeng sayang laeng. Tentang “Nusa Ina katong samua dari sana”. Dan jangan lupa jaga tanah ini bae-bae. Salam hangat ! (RR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *