Cerita Masjid Tertua di Maluku Yang Berpindah Dari Atas Gunung ke Perkampungan

by
Masjid Wapauwe Negeri Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Minggu (25/4/2021). Masjid tertua di Maluku ini menjadi saksi bisu perkembangan Islam di Maluku. FOTO : ALFIAN SANUSI

TERASMALUKU.COM,-AMBON- Maluku terdapat masjid tertua yang sudah berumur 607 tahun. Masjid Wapauwe namanya.

Masjid ini konon dari cerita rakyat berpindah sendiri dari Gunung Wawane ke perkampungan warga di Negeri Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Masjid Wapauwe juga menjadi saksi bisu perkembangan Islam di Maluku.

Penjaga Masjid Wapauwe, Yus Iha mengungkapkan Masjid Wapauwe dibangun pada tahun 1414 oleh seorang kaya saat itu, yakni perdana Jamillu. Tepatnya di Gunung Wawane dan dibantu oleh mubaligh dari Arab beserta  warga setempat.

Namun pada tahun 1614 masjid itu dipindahkan oleh Imam Rijali ke Tehalla, 6 kilometer sebelah timur dari Wawane. Asal mula nama Masjid Wapauwe karena masjid ini dibangun dibawah pohon mangga hutan.

Pada saat masuknya Belanda di Maluku dan menguasai Maluku, seluruh warga di pegunungan Wawane harus turun melakukan kerja paksa membangun Benteng Amsterdam sebagai pertahanan, masjid masih berada di Tehalla. Benteng yang berada di perbatasan Negeri Kaitetu dan Negeri Hila tersebut berdiri kokoh hingga saat ini.

Pada tahun 1664, menurut cerita rakyat, Masjid Wapauwe secara mengejutkan sudah berada di tengah perkampungan.

Warga saat bangun kaget melihat masjid sudah ada di Desa Atetu yang kini bernama Kaitetu. Masjid tersebut turun lengkap dengan peralatan ibadah.

“Masjid itu secara gaib turun di desa dengan seluruh perlengkapan ibadah, warga saat bangun kaget melihat masjid tersebut,” tutur Penjaga Masjid Wapauwe, Yus Iha saat ditemui di Masjid Kaitetu, Minggu (25/4/2021).

Yus mengatakan, dari mulai turun hingga saat ini, masjid tersebut belum dirubah bentuknya. Masjid masih tampak asli dengan konstruksi dinding bangunan terbuat dari pelepah sagu dan beratapkan daun rumbia.

“Bahkan masjid ini dibuat tanpa menggunakan pasak dan paku di tiap sambungannya,” kata Yus.

Dia mengatakan, bila hendak melakukan pergantian atap, warga desa setempat akan membuat ritual adat agar untuk menggantikan dengan atap daun rumbia yang baru.

Di dalam masjid ini masih tersimpan dengan rapi bukti peninggalan yang umurnya juga sudah ratusan tahun. Masjid Wapauwe berada di sebelah utara Pulau Ambon, sekitar 42 km dari Kota Ambon.

Peninggalan tersebut adalah Mushaf Al-Qur’an yang ditulis langsung oleh imam pertama masjid. Terdapat juga lampu terbuat dari kuningan, dan timbangan yang terbuat dari kayu.

Selain itu, ada juga mimbar masjid, tongkat yang dibawa langsung dari tanah Arab, dan ada beduk tua yang masih digunakan hingga saat ini.

“Saat ini masjid Wapauwe sudah masuk dalam cagar budaya dan telah dilindungi oleh pemerintah,” kata Yus. (ALFIAN SANUSI)