Cerita Pedagang Makanan di Pulau Tujuh Selama Pandemi

by
Tempat nginap di lokasi wisata Pulau Tujuh Kecamatan Seram Utara Barat Kabupaten Maluku Tengah, Jumat (23/10/2020). FOTO : NAIR FUAD

TERASMALUKU.COM-MASOHI– Matahari mulai jatuh, hari kian gelap kala Chandra Watti Makatita (54) baru saja mengeluarkan satu persatu dagangan untuk dijual pada Jumat (23/10/2020) petang.

Chandra punya kios kecil menujual rokok, air mineral juga nasi ikan.  Dia mengaturnya rapi di atas meja. Kira-kira hampir sejam dia menatanya. Chandra berjualan di lokasi wisata, Pulau Tujuh Kecamatan Seram Utara Barat Kabupaten Maluku Tengah (Malteng).

Di musim sulit macam ini tentu butuh waktu lama baginya menghabiskan semua jualan. Namun ibu lima anak ini tak patah arang. Dia terus berjualan meski sepi pembeli di situasi pandemi Covid-19. Risiko berdagang di tempat wisata yakni jika minim tamu wisatawan.

Sementara dapurnya harus terus mengepul sambil membantu sang suaminya yang hanya bekerja sebagai kuli bangunan di kampung. “Kalau saya setiap hari berjualan di sini. Saya berjualan disini sudah tiga tahun,”kata Chandra.

Chandra mengungkapakan dirinya berjualan di objek wisata diperkirakan pendapatan menurun drastis sejak ditutupnya objek wisata akibat pandemi covid-19.

Chandra menyebutkan sebelum adanya Covid-19 pendapatan berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu perharinya. Namun dengan adanya pandemi COVID-19 kini pendapatan menurun hingga hanya Rp 150 ribu perhari.

“Dulu sehari saya dapat cukup bagus tergantung tamu apalagi kalau mereka nginap. Tamu yang nginap bisa pesan makan dan minum dari kita. Bedah sama tamu kunjungan. Tamu kunjungan itu tidak lama mereka datang lihat sedikit beli minum pulang lagi,”kata Chandra.

Chandra mengetahui bahwa objek wisata sedang di tutup. Tetapi untuk menghidupkan dan menambah ekonomi keluarganya Chandra terpaksa berjualan di objek wisata tersebut. Selain Chandra, ada juga empat pedangang makanan yang berjualan di objek wisata.

Loading...

Chandra berharap satu dua tamu masih bisa memasuki kawasan objek wisata sehingga ia masih mendapatkan pemasukan dari hasil dagangan itu.

Chandra Watti Makatita, pedagang di Pulau Tujuh.

Senada dengan itu, salah seorang pedagang sembako dan makanan Nona Tuhuteru (52) mengatakan, baru delapan bulan berjualan di kawasan objek wisata tersebut dengan menjual sembako dan makanan. Ia mengaku berjualan di lokasi objek wisata atas izin pemerintah negeri. “Kami penjual tetap di sini. Saya berjualan baru delapan bulan,’ujar dia lagi

Namun menurut Ibu tiga anak ini, selama COVID-19 ia dan teman teman yang berjualan di lokasi objek wisata itu pendapatan menurun drastis. Olehnya itu, Ia memintah agar ada upaya dari pemerintah untuk objek wisata dapat dibuka kembali agar bisa dapat menghidupkan keluarganya.

“Sudah empat bulan ini kami sulit dapat uang. Mudah mudahan ada niat baik dari pemerintah kembali buka objek wisata supaya pendapat saya dan teman teman bisa seperti dulu,” tambahnya

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) menutup objek wisata Pulau Tujuh saat adanya COVID-19 guna memanimalisir peyebaran COVID-19.

Kepala Dinas Pariwisata Malteng Jacob Wattimena kepada Terasmaluku.com pekan lalu mengatakan, tempat tempat wisata di Malteng termasuk wisata pulau tujuh untuk sementara ditutup dengan dasar instruksi Bupati Malteng. Tetapi melihat perkembangan belakangan ini.

“Kita mau reaktivasi lokasi-lokasi wisata di Serut Barat termasuk pulau tujuh itu. Ini lagi diproses karena harus bapak bupati tandatangan ulang,” ujar Jacob Wattimena.

Jika semua proses sudah selesai lanjut Jacob Wattimena, maka pihaknya akan melakukan reaktivasi terhadap tempat tempat wisata. Dengan dibukanya tempat wisata, maka protokol kesehatan diperketat. Agar tidak terjadi klaster baru covid-19 di lokasi wisata. (NAIR FUAD)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *