Cerita Pemain Termuda Pukul Sapu Mamala

by
Ramdhany Malawat pemuda 17 tahun generasi baru pukul sapu yang tampil perdana pada atraksi Rabu lalu berpose bersama sang ayah Ridwan Malawat di depan Lumbato - Rumah Raja Mamala. FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,MALTENG,– Ramdhany Malawat satu dari delapan pemain pemula Pukul Sapu di kampungnya Negeri Mamala. Ini merupakan atraksi perdana pria 17 tahu di lapangan Masjid Al-Mubbin pada Rabu (12/6/2019).

Luka-luka tersebar di sekitar perut punggung dan dada. Beberapa terlihat masih ‘segar sesudah dioleskan minyak mujarab. Usai beratraksi bersama 36 pemukul sapu lain, dia menghela napas panjang seraya menengok luka di perut.

Saat ditemui di luar lapangan, Ramdhany tampak tenang tak banyak bicara. Dia seperti sedang mengelola sensasi perih yang baru saja menempel di kulit. Bagi anak muda macam dia melakukan pukul sapu tidak seenteng baku pukul biasa dengan tangan kosong.

Jika tak kuat, pemain bisa saja kabur dari dalam arena. “Dulu ada yang karena seng tahan pas dapa pukul langsung lari dari kaluar lapangan,” kata Ridwan Malawat ayah Ramdhany saat mendampinginya usai atraksi.

Ridwan ingat betul, beberapa pemuda pada masa itu tak kuat menahan sakit dan terpaksa menghidari cambukan lidi saat atraksi. Perkara masuk ke dalam arena pukul sapu, bukan hanya keberanian semata. Melainkan niat calon pemain. Hal itu yang dia tanamkan pada Ramdhany sebelum ‘meresmikan’ badannya pada atraksi pukul sapu.

Bagi anak seusianya, pukul sapu merupakan hal yang serius. Bukan permainan atau atraksi seremonial biasa di hadapan penonton. “Beta bilang kalau mau ikut seng bisa coba-coba. Kalau alasan coba-coba, gugur. Karena ada seleksi. Panitia itu liat dong pung niat,” sambung pria yang akrab disapa Boy itu.

Setelah pensiun pukul sapu, Boy lebih banyak mendampingi anak-anak muda atau generasi baru di Mamala yang ingin ikut pukul sapu.

FOTO: Baronda.id

Para pemain dimantapkan mental dan niatnya sebelum atraksi. Bagi Boy, pukul manyapu merupakan identitas dan tardisi yang dijunjung tinggi warga Mamala. Karena itu perlu ada regenerasi melanjutkan peninggalan leluhur itu di masa kini. Seperti yang dia ajarkan kepada putranya itu.

loading...

Boy mengaku tidak menyangka jika Ramdhany akan ikut atraksi. Dia malah sempat meminta anaknya untuk pikir ulang dan mengoreksi niat. Tapi tampaknya keberanian dari sang ayah mengalir dalam dirinya.

“Beta mau ikut karena beta mau dan beta anak Mamama,” kata Ramdhany menyambung ucapan sang ayah. Sebelum usianya genap 17 dia menyaksikan ayahnya membekali para pemain pukul sapu sebelum tampil. Di situ, Boy pernah berucap, jika darah belum tumpah di Lapangan Masjid Al-Mubbin, kamong bukan anak Mamala.

Kata-kata penyemangat itu tertanam di ingatan dan menjadi alasan dia ikut pukul manyapu Mamala untuk kali pertama. Kecintaan pada sejarah, negeri dan tradisi mampu menekan rasa sakit dipecut lidi hingga berdarah.

“Pertama oles minyak itu dingin, lama-lama panas, tapi seng talalu sakit. Karena beta niat dan mau ikut. Seng boleh ragu-ragu,” tegas dia. Para pemain pukul sapu merupakan pemuda-pemuda terpilih lewat seleksi. Ada sebanyak 88 anak muda yang mendaftar jadi pemain pukul sapu. 52 peserta gugur, 36 lulus seleksi.

Ada berbagai persiapan yang dilakukan oleh pemain. Khusus bagi penampil perdana macam Ramdhany persiapan mental dan fisik harus sama-sama dipertebal. Beberapa hari sebelum acara, para semain harus tidur lebih awal. Mereka juga disarankan untuk tidak minum minuman keras terlebih sebelum atraksi.

Ini menjadi atraksi pertama bagi Ramdhany dan kawan-kawannya. Namun mereka telah memulai langkah besar menjaga warisan budaya lestrasi dan generasi ke generasi. (PRISKA BIRAHY)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *