Christian Izaac Tamaela Dan Kerinduan Inkulturasi Musik Liturgi Oleh : Robert B. Baowollo, Intelektual Publik tinggal di Yogyakarta

by
Christian Izaac Tamaela. FOTO : ISTIMEWA

Saya mengenal – walau tidak secara pribadi dan juga tidak dari dekat – tokoh musik liturgi Gereja Protestan Maluku (GPM), Pdt. Christian Izaac Tamaela, sejak tahun 80-an di Ambon. Saat itu ia baru kembali dari Pihilipina dan memberi lokakarya musik liturgi di Latuhalat (mohon koreksi saya jika nama lokasi tidak tepat). Lokakarya yang menjadi program GPM tersebut juga diikuti peserta dari Gereja Katolik.

Para peserta dari paroki Maria Bintang Laut (Benteng) yang ikut dalam lokakarya tersebut memberi kesan menarik, kesan yang hanya bisa dijelaskan dengan melihat tanggapan kontras atas obyek kesan yang sama. Demikian, para peserta Katolik merasa sangat ‘familiar’ dengan jiwa “bermusik-liturgi” yang dikenalkan Chris Tamaela. Ada nafas dan jantung yang berdegup kencang dalam diri Chris Tamaela untuk pembaruan musik liturgi. Sementara peserta dari kalangan Gereja Protestan agak gagap, cenderung keberatan: koq seperti katolik saja?

Kegundahan Chris Tamaela menghadirkan nafas baru, nafas berliturgi dari anugrah Ilahi dalam kekuatan budaya-budaya lokal dan musik daerah (lawan dari musik Gereja warisan Gereja Eropa-kolonial) hanya bisa dipahami dengan memeriksa konteks gerakan pembaruan liturgi di Asia, khususnya di Asia Timur dan Tenggara.

Chris Tamaela mendalami musik liturgi di Philipina. Pada saat itu Manila dan Yogyakarta adalah dua epistentrum kerja-kerja besar proses inkulturasi (bukan akulturasi) liturgi Gereja, termasuk musik liturgi. Kekristenan harus bisa masuk ke dalam, dan berintegrasi dengan, budaya setempat, sehingga budaya setempat dilayak-pantaskan menjadi sarana keselamatan dan cara masyarakat setempat mengungkapkan diri, iman dan keyakinan mereka, dalam perjumpaan dengan Tuhan. Budaya setempat tidak harus dipertentangkan, apalagi divonis sebagai tidak kristiani alias ‘pagan’, dengan menghadapkannya pada liturgi gereja warisan Gereja-Gereja Barat.

“Resistensi” terhadap ide-ide pembaruan seperti yang dialami Chris Tamaela, terhadap ide mengintegrasikan kekayaan budaya lokal KE DALAM liturgi yang sudah baku, liturgi yang hanya mengenal pakem standar, adalah persoalan kebiasaan dan soal rasa/selera di satu sisi, dan persoalan keterbukaan dan kedewasaan di sisi lain dalam menerima perubahan yang memang butuh proses dan waktu. Tingkat ekspose seseorang dengan budaya dan liturgi lain di luar budaya dan liturginya amat membantu proses penerimaan dan adaptasi.

Loading...

Disadari bahwa Gereja-Gereja lokal tidak bisa terus-menerus hidup dari nafas titipan budaya Eropa. Gereja-gereja lokal harus bisa menemukan kekuatan untuk menjadi diri sendiri tanpa lepas dari ikatan kebersamaan dengan Gereja universal – termasuk dalam tata cara liturgi dan musik gereja. Mari lihat fenomena kebangkitan gereja lokal yang dinamis seperti di Korea Selatan, Amerika Latin, dan beberapa kawasan di Afrika Tengah dan di pantai barat.

Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga, OFMCap, uskup Sibolga yang baru menutup usia pada tanggal 8 Noveber 2020, sempat membuat petinggi Vatican ‘gusar’. Uskup yang antropplog ini menulis disertasi di Universitas Leuven Belgia dengan judul The Toba-Batak High God: Transcendence and Immanence. Perspektif antropologi budaya membuat ia menjadi pejuang paling depan dalam pembaharuan liturgi (Katolik) di Indonesia lewat Komisi Liturgi KWI yang ia pimpin (saat itu). Romo Karl Edmund Prier SJ dan Paul Widyawan ‘ditugaskan’ berkeliling melakukan berbagai lokakarya musik liturgi di seluruh Indonesia dan menghasillan banyak sekali lagu-lagu gereja dari seluruh penjuru nusantara, musik dengan karakter khas budaya daerah.

Apa reaksi Vatikan? Dalam suatu percakapan di Hamburg di tahun 90-an, Mgr Sinaga bercerita bahwa Vatican takut kalau dengan banyaknya musik dan unsur budaya daerah diangkat ke dalam litugi Gereja, ada bahaya gereja-gereja lokal akan terlepas dari gereja induk (Vatican).

Kekuatiran itu tentu saja sampai hari ini tidak terbukti. Mandat Konsili Vatican II dipelajari, diterjemahkan dan diangkat secara hati-hati ke dalam ‘program ‘ inkulturasi liturgi Gereja, sedemikian rupa, agar orang Ambon, Manado, Timor, Flores, Jawa atau Batak tidak perlu menyapa Tuhan dengan lagu Eropa yang lahir dari dalam konteks sosial dan sejarah yang amat berjarak dengan praksis hidup dan keseharian orang-orang pribumi di sini.

Jika pemikiran Chris Tamaela untuk menginkulturasikan musik liturgi Gereja tidak mendapat sambutan dalam rumah GPM, itu – kemungkinan – karena Chris adalah solo fighter, tak ada teman berjalan bersama dalam memberi warna baru pada liturgi dan lagu-lagu Gereja yang sudah jadi pakem, baku dan ‘tidak boleh diubah’.

Sahabat saya Pdt Sulaiman Manguling, ketika kembali ke Toraja dari tugas pelayanan di Jerman, membawa koleksi sejumlah musik gereja dari Evangelische Lutherische Kirche in Deutschland. Di Toraja ia memperdengartkan lagu-lagu ‘protestan’ tersebut. Apa kata orang di Toraja? “Itu kan lagu-lagu katolik?”

Yogyakarta, 9 November 2020. rbbaowollo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *