Ciptakan Motif Baju Cele Dari Warisan Patung Kakek

by
Dodie memperlihatkan patung pertama yang dibuat kakeknya yang didapat melalui mimpi. Patung ini merupakan koleksi patung warisan di museum mini di rumahnya di kawasan Lateri Ambon. FOTO : BIR (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Motif pala cengke, atau motif Kakehang sering kita jumpai pada baju cele yang dipakai oleh petugas pemerintahan tiap Kamis itu. Motif motif itu dikombinasikan di atas baju cele dasar polos atau kotak kotak. Tapi tak banyak yang tahu dengan beberapa motif lain yang masih terbatas ini. Seperti motif gerakan tarian, atau motif yang terkesan abstrak namun nyatanya menyimpan segudang cerita.

Dodie Marrio Tiwery, creator dan designer motif pada baju cele punya beragam simbol yang kini diaplikasikan ke atas baju wajib PNS itu. Bila jeli, beberapa motif baju seperti yang dikenakan Rabu (11/4), cukup langka. Sulit kita temukan kembaranya. Baru Dodie dan sang istri yang memakai baju bermotif demikian. “Ini kami bikin sendiri. Motifnya ambil dari patung karya opa saya,” jelas Dodie saat ditemui di Sibu Sibu Cafe Kota Ambon.

Dia menjukkan motif pada baju yang dikenakan diambil dari ukiran pada patung. Pria asal Pulau Manusela MBD ini punya darah pematung dan seniman kental dari kedua orang tuanya. Sang kakek terlebih dulu memulai kiprah di dunia pemahatan. Nah, beberapa motif yang dicipta sendiri lantas dijadikan pemanis pada baju cele. Seperti salah satu motif di bagian tengah. Yaitu gambar orang yang berdiri di tengah sambil kedua tangan diangkat. Ini adalah motif tarian perang yang dibawakan perempuan.

Kebanyakan patung yang dibuat sang kakek punya kemiripan dengan motif. Sosok manusia divisualisasikan dengan tangan terangkat ke atas. “Namanya tarian ehe lawan asal MBD. Dulu dibawakan saat hendak berperang melawan Belanda. Waktu itu namanya perang Otkuky,” lanjut Alumnus Fakultus Ilmu Sejarah, Universitas Patimura Ambon, 2004 ini. Tujuannya untuk memberi semangat berjuang di medan perang kepada kaum pria.

Motif tersebut sejatinya lebih dulu dipakai untuk kebutuhan pribadi. Yakni dijadikan motif pada busana resepsi pernikahan Dodie dan sang istri pada 2014. Di atas kain Tenunan, mereka menjahit tiga motif tersebut dan diberi bubuhan payet untuk memberi efek timbul. “Katong jua sudah buat motif untuk  dipake di salah satu kementerian di Jakarta,” lanjut pria yang memproduseri film dokumeter berjudul ‘Munsera’ yang diikutkan pada Jogja Film Festival itu.

KOLEKSI PATUNG

Kecintaan mereka pada budaya mendorong mereka menciptakan motif motif lain. Sumber utama yakni lada ukiran di patung atau simbol simbol yang telah dibukukan oleh sang kakek. Bersama istrinya, mereka berusaha melestarikan budaya melalui karya design. “Beta tu ingin kasih kenal budaya ke orang tanpa harus banyak bicara. Ya beta rasa lewat motif di katong baju,” sambungnya. Untuk saat ini motif tersebut belum di produksi masal. Namun dia tetap melayani permintaan design atau pembuatan motif sesuai pesanan.

Museum Mini Koleksi Patung Warisan

Tak hanya pandai membuat motif, tampaknya kecintaan budaya serta intuisi kuat membuat dirinya terjun ke dunia budaya makin dalam. Intuisi untuk menjaga akar budaya Maluku khususnya yang dari MBD tetap lestari. Sang kakek, Dantjy Uniberua jadi sosok inspirator yang mewariskan budaya tak hanya lisan tapi juga tulisan. Dulunya Dantjy adalah seorang tukang kayu. Lantaran ditipu rekan bisnis dia beralih menjadi seorang pematung.

Patung pertama yang dibuat Dantjy diberi nama Iwyolainy. Patung tersebut menggambarkan nenek sihir yang ingin berbuat jahat kepada sepasang suami istri di atas perahu. Inspirasi Iwyolainy diperoleh melalui mimpi. Dodie mengkisahkan, usai bermimpi Dantjy langsung membuat dua buah patung. “Beta opa cuma bisa buat dua patung sa dari mimpi itu. Mau perbanyak lai su seng bisa,” jelas Dodie sambil menunjukkan salah satu dari dua patung yang disimpan di rumahnya di daerah Lateri Kota Ambon itu.

 

Sejak saat itu Dantjy beralih profesi sebagai pematung. Inspirasi patung diperoleh dari kehidupan sehari-hari, filosofi hidup, budaya, kepercayaan juga legenda yang tuturkan generasi sebelumnya dan masih diyakini warga MBD. Seperti patung ikan hiu gergaji. Patung berbentuk tubuh manusia yang sedang duduk memiliki tujuh kepala yang bersusun. Menurut cerita, dulu ada seekor ikan hiu yang marah pada warga di salah satu kampung di Pulau Babar lantaran mengambil anaknya. Si hiu lantas meminta kekuatan gaib dan merubahnya jadi manusia pemakan kepala.

Beberapa koleksi patung lain seperti simbol-simbol kesuburan, visualisasi masyarakat berburu, raja, kapitan, hingga patung penolak bala. Patung ini persis seperti patung dari kayu yang jadi koleksi di Museum Gajah atau Museum Nasional Jakarta. Hanya sang kakek membuat ukuran yang lebih kecil. “Selain bikin patung dia juga koleksi. Opa itu dulu bongkar tempat pemujaan berhala lalu ambil patung patungnya dikoleksi,” ceritanya kepada Terasmaluku.com.

Ada pula patung yang didapat dari warisan orang tua tua dulu. Ada yang berbahan kayu nani, batu atau tulang ikan hiu. Pembuatan patung dilakukan sejak tahun 70an. Menurut pengusul warisan budaya tak benda Maluku itu, sebagian patung dijual untuk menghidupi keluarga. Bahkan ayahnya yang juga pematung melakukan hal serupa.

Patung dari batu

“Intinya katong kalau mau jaga budaya, katong juga harus bisa hidup dari situ.kalau seng pasti seng ada yang mau lai. Sebab semua butuh makan juga,” sebut pria yang juga mengoleksi kain tenun itu. Sebagian patung lagi disumbangkan ke Museum Siwalima Ambon. Di situ, kata Dodie, sekitar 40 persen patung  merupakan sumbangan Dantjy Uniberua.

Di rumahnya di kawasan perumahan dijadikan museum mini. Pria asal Desa Lawawne MBD itu kerap menerima tamu yang ingin melihat karya kakek dan ayahnya. Dodie dan istrinya Lucia Junita Wurlianty berkomitmen untuk melestarikan budaya mereka melalui patung serta simbol yang telah dibukukan. Dengan begitu generasi sesudahnya tak kehilangan jejak sejarah dari akar budaya mereka. “Katong juga punya dua batu. Tapi ini bukan pahatan. Ini adalah manusia dan ayam yang berubah jadi batu saat terkena sinar matahari,” katanya lantas tersenyum. (BIR)