Curhat Tenaga Medis di Maluku, Beli APD Sendiri Hingga Rangkap Tugas

by
Tenaga medis di puskesmas berpose dan membuat gestur 'cinta' ala Korea usai pelayanan di salah satu faskes pratama, (26/5). FOTO: Terasmaluku.com

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Kasus terkonfirmasi positif sudah lebih dari 100 pasien di Maluku. Naik dalam dua pekan terakhir. Ragam anjuran pemerintah tunai disampaikan. Maluku kekurangan tenaga analis virus. Sementara yang pasti, tenaga medis dan kesehatan jungkir balik setiap hari membuka tangan lebar menyambut kedatangan pasien. Entah itu yang ada virus corona ataupun tidak. Kerja ekstra yang tampaknya tak sebanding dengan ketersediaan APD dan jumlah pasien.

BACA JUGA : Penjelasan Gugus Tugas Kota Ambon Atas Curahan Hati Tenaga Medis

BACA JUGA : Kota Ambon Dapat Lagi Bantuan Kali Ini APD Dari GBI Maluku

Berikut ini ada tiga curahan hati (curhat) tenaga medis di fasilitas kesehatan pratama atau Puskesmas selama masa pandemi. Terasmaluku.com berhasil menghimpunnya dalam wawancara berjarak melalui whatsapp dan facebook.

Meivita, Puskesmas di Kabupaten Maluku Tengah; “Beta merasa beta di sini seperti dokter, ibu camat, ibu kades, ibu dinas perhubungan, sisa jadi ibu polwan saja”

Belum lagi APD yang terbatas, akhirnya diusahakan sendiri berbekal relasi dengan sesama dan dibantu IDI Malteng, setidaknya untuk berjaga-jaga. Itupun masih kurang. Rapid? jangan tanya, tidak ada yang diedarkan ke puskesmas-puskesmas. Alur tracking kalau kalau ada pasien covid yang juga belum jelas.

Belakangan ini yang buat sangat capek itu tentang bikin surat sehat untuk pelaku perjalanan. Tanpa adanya penyediaan rapid test dari Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tengah (Malteng).

Awalnya belum ada ketegasan aturan tentang surat sehat, baru beberapa hari ini ada surat edaran bupati yang menyatakan kalau tidak ada surat tugas dari atasan atau kalau bukan orang tua sekarat atau meninggal baru boleh keluar Saparua.

Hingga akhirnya kami bikin surat pernyataan dengan meterai supaya orang-orang yang pergi wajib isolasi mandiri 14 hari kalau kembali. Ada lembar tanggal kembali dan selalu dishare ke pemerintah negeri tiap hari agar bisa pantau warganya. Sebelum ada surat edaran bupati ini, kami setiap hari bertengkar dengan orang-orang yang ngotot mau minta surat sehat. Alur surat juga tidak jelas, jadi petugas kesehatan juga ikut pusing untuk hal-hal ini.

Sudah dilakukan berbagai cara edukasi dari awal. Sebelum ada kasus di Ambon sudah sempat bikin penyuluhan di wilayah kerja puskesmas. Selanjutnya saat sudah ada kasus, bikin himbauan yang di putar di corong-corong pengumuman tiap negeri. Isinya tentang pencegahan corona bahkan himbauan jangan keluar rumah kalau tidak karena mencari nafkah, sampai cara membuat disinfektan, cara mencuci tangan, perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker, semua sudah dilakukan. Himbauan pencegahan kalau terpaksa keluar rumah juga sudah.

Koordinasi dengan pemerintah di desa- desa berjalan cukup baik, tapi kadang kebijakan kurang tegas dilakukan terutama tentang sanksi. Pelabuhan juga kontrolnya kurang, jadi orang dari zona merah masih banyak keluar masuk ke Saparua. Banyak juga yang diloloskan dari pelabuhan Tulehu, hanya berbekal surat sehat.

Kondisi Saparua saat ini, orang-orang di pasar yang tidak peduli physical distancing padahal sudah selalu bergaung. Bawa masker tapi tidak dipakai menutupi hidung dan mulut, cuma hiasan. Bahkan pimpinan salah satu bank juga tidak mengindahkan himbauan kesehatan yang sudah kami buat berupa surat resmi dan aturan negeri. Membiarkan dirinya dan pegawai-pegawainya keluar- masuk Ambon- Saparua tiap Minggu padahal mereka pelayan publik dan justru bisa membawa virus dan agen pencetak OTG.

Dinkes juga tidak ada pertemuan via daring dengan puskesmas. Jadi susah, menyampaikan keluh kesah semua dokter di puskesmas. Padahal kondisinya kami sangat lelah dengan hal-hal teknis yang tidak terstruktur juga karena kami di pulau. Capek juga karena mengurusi orang-orang dan administrasi yang tidak sesuai dengan nurani dan ilmu.

Belum lagi urus pasien-pasien lain yang karena covid-19 jadi terkesan sedikit disampingkan. Kasihan. Semua ini memusingkan. Kadang merasa kelelahan berjuang sendri. Ditaruh sebagai tameng untuk lawan covid tanpa rapid dan APD memadai. Intinya beta merasa beta di sini seperti dokter, bu camat, ibu kades, ibu dinas perhubungan, sisa jadi ibu polwan saja.

Soal jumlah pasien yang dilayani di puskesmas, Meivita punya catatan sendiri. Awalnya jumlah pasien berkisar 5-10 orang. Setelah ada surat sehat, kunjungan naik menjadi 16- 25 orang perhari. Tapi kebanyakan bukan untuk berobat. Mereka datang untuk membikin surat sehat. Seperti para mahasiswa yang hendak balik ke Ambon. Yang sakit paling banyak hanya 8 atau 9 pasien.

Tapi ada juga yang kerja di sini. Seperti bendahara kantor A, B dan lain-lain. Jadi keperluan pencairan uang harus ke zona merah, Ambon. Ada juga yang mau ke Ambon untuk mengambil barang atau jenguk sodara. Padahal barang bisa dititipkan di speed boat.

Di awal-awal kami setengah mati. Mau melarang orang hanya saja camat setempat tidak punya aturan dan sanksi tegas. Untungnya ada surat edaran bupati yang sepertinya terlambat. Karena katong (kami) sudah bakalai tiap hari selama nyaris 2 minggu dengan orang-orang.

FOTO: Priska Birahy

Aprilia , Puskesmas di Kota Ambon; Paleng sedih, dong (mereka) selalu pandang enteng katong tenaga kesehatan. Mau cari untung apa, katong seng (tidak) dapa apa-apa. Malah terpapar virus, ancam nyawa, katong uang jaga seng tambah”

Katong sebagai garda depan katong bekerja maksimal, tapi pemerintah tidak memperhatikan katong APD. APD dari mana saja ke Maluku, sampainya di provinsi. Terutama di faskes tidak ada bantuan yang dirasa orang luar ke katong. Malah katong usaha sandiri. Katong cuma dapa gaji tok. Seng mungkinlah katong berharap dari gaji. APD jua usaha sendiri.

Mengenai kunjungan di puskesmas, memang berkurang. Pelayanan ke masyarakat juga tidak maksimal. Karena jaga jarak untuk periksa. Dan APD juga terbatas.

Topi juga sediakan sendiri. Baju katong cuci. Katong pake ulang-ulang. Risiko terpapar banyak. Sudah ada kasus banyak kan tenaga medis di puskesmas terpapar. Katong juga seng tensi pasien karena jaga jarak. Katong seng tensi pasien hanya dengar dari dong cerita saja. Katong merasa kurang APD buat katong begini.

Loading...

Katong (tenaga medis, red) rasa pemerintah kurang keras terhadap peraturan. Sebab selama ini seng ada aturan keras. Jadi masyarakat bebas. Kalau di Belanda siapa yang seng pakai masker dapa denda. Kalau keluar beli makan dua orang bisa lebih dari itu denda.

Kalau begitu otomatis masyarakat takut. Seng mungkinlah katong di penjara. Beta rasa kurang tegas. Beta sarankan agar pemerintah bikin aturan jelas soal ini. Siapa malawang ada denda dan sanksi.

Untuk semua orang yang datang ke puskesmas memang pakai masker. Tapi masker yang dong pakai tidak penuhi standar. Kebanyakan masker kain tutup mulut saja. Hidung dan di bawah dagu seng. Maskernya kekecilan. Harus tutup bawah dagu lagi.

Beta sesali, ada masyarakt seng jujur sepenuhnya, hanya agar dong dapat pelayanan kesehatan. Karena takut kalau ke rumah sakit lalu ada gejala corona atau ada riwayat perjalanan, akibatnya para medis tertular.

Ini yang beta dapati saat jaga di salah satu RS di Kota Ambon. Ada beberapa saat, beta rujuk pasien ODP, empat RS itu penuh. Lalu menolak pasien sedangkan dia seng bisa rawat di RS yang beta jaga. Sebab katong seng ada tampa isolasi. Jadi pasien tertahan di katong UGD. Jadi katong seng bisa masukan masyarakat sementara ODP ada di dalam. Akhirnya katong kasi pulang pasien karena seng tahu harus taruh di mana. Karena katong seng ada wewenang buat telpon gugus tugas. Harus dari RS rujukkan.

Kalau RS penuh dan rawat inap kan seng bisa. Mau seng mau katong stabilkan pasien kondisi selama dua jam lalu katong pulangkan sambil tunggu RS rujukan kosong. Paleng sedih dong selalu pandang enteng katong tenaga kesehatan. Alasan bilang panas pakai baju itu, cari untung dan lain-lain. Mau cari untuk apa, katong seng dapa apa-apa. Malah terpapar virus, ancam nyawa, katong uang jaga seng tambah. Karena memang katong kewajiban. Kok bilang katong rekayasa dan segala macam.

Secara pribadi beta saran saja buat pasien ODP PDP yang seng mau dikarantina. Beta seng tahu apa alasannya. Tapi alangkah baiknya pemerintah pikir ini. Memang pasien punya hak untuk seng dirawat. Kalau begitu jangan kasih izin buat keluar rumah beraktivistas jika dipulangkan. Nah itu kan bahaya berarti dorang (mereka) menularkan ke orang lain. Itu yang bikin ODP dan PDP di Kota Ambon naik. Yang kepala batu itu sanksinya apa.

Orang-orang yang seng mau ikut aturan pemerintah, minta NIK KTP, nama dan alamat. Lalu taru data diri ke setiap rumah sakit. Kalau dong ada gejala covid-19 lansung suruh urus diri sendiri karena awalnya malawang pemerintah aturan. Su ada surat pernyataan sebelumnya, kasih metrai 6000. Supaya jang pandang enteng.

Kemudian saran untuk katong di pasar atau tempat umum harusnya ada satpol PP, polisi atau anggota TNI yang stand by. Supaya dong melihat pergerakan orang yang seng pakai masker. Katong seng bisa bilang untuk cuci tangan. Atau jaga jarak. Pantau pakai masker dan harus benar cara pakainnya.

Faradila, Puskesmas di Kota Ambon; “Katong juga sadar bahwa memang katong petugas kesehatan sudah tugasnya melayani pasien, katong berharap apa yang katong lakukan semoga berbuah baik”

Kebetulan beta juga termasuk dokter puskesmas. Situasi di puskesmas mulai dari masuknya covid-19 di maluku memang sudah ada perbedaan. Awalnya yang katong lakukan pemeriksaan mulai di dalam gedung sekarang katong su mulai rubah. Dari awal pintu pagar sudah ada air mengalir, sabun, dan tissue untuk pasien cuci tangan, setelah melewati pintu pagar di situ ada petugas screening covid.

Jadi pasien demam batuk pilek dipisahkan deng pasien yang keluhan lain. Setelah itu pasien diarahkan ke ruang tertentu untuk pasien batuk pilek. Sedangkan untuk pasien lainnya misalnya riwayat hipertensi, diabetes, arthtritis dll di pisahkan ruang pemeriksaannya untuk menghindari penularan covid. Petugas yang periksa juga skrg memakai APD lengkap, mulai dari head cap, goggle, face shield, hazmat, hands glove dan boot.

Kemarin-kemarin juga, Waihaong sempat viral karena jumlah pasien covid meningkat. Itu semua bisa terjadi karena sebagian masyarakat belum melakukan jaga jarak dengan baik, selain itu diskriminasi juga semakin besar terhadap pasien positif. Makanya pada saat itu katong selaku petugas Waihaong sangat melindungi data-data pasien. Namun ada oknum yang menyebarkan secara tidak sengaja dan akhirnya beredar di medsos.

Di puskesmas sekarang katong masuk kantor pakai shift selain menghemat APD yang dipakai, katong juga mengurangi interaksi dengan pasien agar mengurangi risiko penularan dari pasien ke petugas kesehatan. Meski begitu ada juga shift-shift di luar kantor.

Misalnya posko di LPMP & sumber asia. Jujur setiap saat mau ke kantor katong semua resah, takut, was-was, karena penularan itu bisa terjadi par katong petugas kesehatan, apalagi di rumah katong punya anak kecil, punya orang tua yang sudah lansia yang mungkin saja katong bisa jadi penyebar virus buat mereka.

Bahkan ada beberapa dari katong punya petugas di puskesmas yang masih hamil tapi masih melayani, ada juga beberapa pegawai yang usianya sudah mau masuk lansia, katong semua takut dong bisa tertular lewat pasien, tapi katong juga sadar bahwa memang katong petugas kesehatan sudah tugasnya melayani pasien, katong berharap apa yang katong lakukan semoga berbuah baik, pasien covid makin menurun dan wabah bisa hilang dari katong pung tanah tercinta ini.

Tapi setiap lihat masyarakat yang masih nongkrong, yang masih kumpul-kumpul, yang seng gunakan maske, yang seng cuci tangan katong sakit hati, kecewa, sedih, seakan-akan apa yang katong sudah lakukan seperti buang garam di laut, semua percuma dan sia-sia.

Karena untuk mencegah penyebaran dan penularan itu seng bisa katong dari petugas kesehatan sndiri, butuh orang lain, butuh sektor lain, butuh masyarakat yang mau peduli, karena itu semua buat katong pung keselamatan bersama.

Beta mau cerita tentang beberapa pasien yang beta tangani di LPMP. Pas jaga posko pasien pernah curhat deng (dengan) beta katanya mereka su (sudah) pengen pulang, mereka sudah bosan, diisolasi terus, seng bisa kluar, seng bisa ketemu keluarga, katong yang dengar juga ikut sedih.

Apalagi  saat itu mau lebaran, katanya dong pengen pulang mau lebaran deng kluarga, sampe ada yang mengeluh sambil menangis, kasian kalau saja orang lain yang seng ikut anjuran pemerintah itu, yang masih keluar-keluar seng gunakan maske, berada di posisi pasien saat itu, pasti dong akan taat anjuran pemerintah, mau pakai masker, mau di rumah aja.

Beta harap masyarakat di luar sana dapat memahami itu supaya kedepan jumlah pasien sembuh meningkat, jumlah pasien baru makin hari makin menurun biar wabah bisa selesai, dan katong samua bisa beraktivitas seperti sedia kala. (PRISKA BIRAHY)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *